Kepentok Cinta Petani Tampan

Kepentok Cinta Petani Tampan
~ Apa Ada Belek di Mataku


__ADS_3

Maharani langsung bergegas ke dapur, melewati Sadewa, Supri dan Bejo, yang kini dipersilakan Bude Sri untuk duduk di ruang tamu.


"Bude, ke dapur dulu, kalian kalau mau makan cemilan, dimakan aja," ucap Bude Sri sambil meletakkan piring di atas meja, yang diberikan oleh Sadewa tadi.


"Ini kan untuk Bude sama Rani, nggak usah Bude. Supri sama Bejo udah makan cemilannya pas di rumah." Sadewa menolak dengan halus.


Mengabaikan perkataan Sadewa, Supri dan Bejo malah menyomot kue yang tersaji di hadapan mereka.


"Supri, Bejo, kenapa di makan?" Sadewa melototi keduanya seketika.


"Biarin bos, mumpung gratis loh, kan yang nawarin Bude Sri," ucap Supri sambil menjulurkan lidah.


"Hehe, ya benar, sekarang kepemilikan kuenya sudah berpindah tangan, jadi bos nggak usah ngelarang-larang, iya nggak Bude?" Bejo berkata dengan mulut penuh makanan.


Bude Sri merekahkan senyum ke arah keduanya. "Nggak apa-apa Dewa, biarin aja Supri sama Bejo makan, lagian Rani sama Bude nggak mampu habisin kuenya."


Sadewa menggaruk kepala sejenak, tidak enak hati dengan tabiat Supri dan Bejo. "Hehe, ya Bude."


Sementara itu, di belakang dapur.


Dengan muka merengut Maharani mengambil beberapa piring di rak piring sambil kepalanya celingak-celinguk ke pintu yang terhubung ke ruang depan. Dia sedang menunggu kedatangan Bude Sri.


"Ish, nyebelin banget dah, kenapa Bude malah nawarin mereka makan sih, udah tahu duit yang di kasi sama Papi pas-pasan untuk aku sama Bude."


Maharani bergumam-gumam kecil sebab dia takut stok makanan yang ia beli tadi bersama Bude Sri kurang. Sebab Papinya tak memberi dirinya uang lebih, entah karena sengaja atau apa, Maharani pun sedikit bingung, mungkin ini hukuman untuk dia agar lebih berhemat menggunakan uang.


"Rani, kok malah ngelamun?" Bude Sri menepuk pundak Maharani dari belakang, melihat Maharani berdiri mematung di depan rak piring.


Maharani terlonjak kaget dan hampir saja menjatuhkan piring. "Ya ampun, Bude. Rani sampai kaget tahu!" ucapnya sambil memutar badan.


"Aduh, maafin Bude ya, padahal dari tadi Bude manggil-manggil kamu, jangan sering ngelamun, nggak baik, entar kesambet setan loh," ucap Bude Sri.


Maharani menggaruk lehernya yang tidak gatal. "Maaf Bude, Rani cuma bingung aja, kenapa Dewa sama kawan-kawannya Bude suruh makan di sini, kan sayurnya hanya cukup untuk kita berdua Bude. Bude kan tahu sendiri kalau Papi nggak kasi uang banyak sama Rani."


"Jadi kamu mikirin itu toh, tenang Nduk, masalah makan di kampung, nggak usah kamu pikirin, lagian Bude senang kalau rumah Bude ramai kedatangan orang-orang, sebelum kamu kemari, Dewa sama kawan-kawannya sering makan di sini."


Raut wajah Maharani berubah sendu saat melihat sorot mata Bude Sri menyimpan kesedihan mendalam, mungkin karena tak memiliki anak dan jauh dari saudara. Bude Sri merindukan kehangatan di rumahnya ini. "Hm, oke deh Bude, maafin Rani ya Bude."


"Loh maaf untuk apa? Ada-ada saja kamu, biar Bude saja yang siapin piring sama nasinya, kamu goreng telur ya," ucap Bude Sri sambil mengambil alih lima piring dari tangan Maharani.

__ADS_1


"Ha? Telur goreng?" Jantung Maharani berdetak cepat saat di suruh memasak telur, karena dia selama ini tak pernah memasak telur goreng.


Mampus gue, gimana cara goreng telur ya.


"Kenapa Rani?" tanya Bude Sri tanpa menatap lawan bicara. Dia tengah mengambil nasi di atas panci kemudian menuangkan butiran nasi tersebut ke dalam wadah berbentuk bulat.


"Em, anu Bude, Rani nggak bisa masak telur," jawab Maharani sambil menundukkan kepala.


"Astaga, Rani. Mudah kok, telurnya kamu kasi garam sedikit terus kalau mau tambahin irisan bawang putih atau bawang merah setelah itu di kocok lepas." Bude Sri mengangkat wadah lalu membalikkan badan, melihat Maharani nyengir kuda padanya.


"Udah gitu aja, Bude?" tanya Maharani, saat resep yang diberikan Bude Sri sepertinya mudah.


"Iya, buruan gih masak, sesekali kamu belajar masak, Bude mau antar nasi sama lauk tadi pagi kedepan dulu, nanti kalau sudah selesai kamu antarin ke depan ya."


"Iya Bude," jawab Maharani, pelan.


Selepas kepergian Bude Sri, jantung Maharani semakin berdetak cepat seperti ingin mengikuti ujian sekolah. Dengan resep yang diberikan Bude Sri, Maharani mulai mengiris-iris bawang putih, yang bentuknya tidak beraturan.


Selang beberapa menit, dapur Bude Sri sudah seperti kapal pecah. Belum menggoreng telur saja, dapur sudah seperti tempat medan pertempuran.


"Rani, sudah selesai bel–" Bude Sri mengedarkan pandangan di sekitar, melihat kulit bawang dan kerak telur berserakan di atas lantai beralaskan kayu itu. "Astaga Rani."


Bude Sri menghela napas kasar. "Oke deh, Bude ke depan dulu ya, oh ya, ingat apinya kecil aja!" ucapnya dengan penuh penekanan.


Maharani mengangguk pelan sambil nyengir kuda. Lalu menatap sendu telur di dalam mangkok di hadapannya.


"Wahai telur-telur berkerjasama lah sama Mami, oke?" sahutnya pada telur yang hanya diam saja dari tadi.


Selang beberapa menit kemudian, Maharani menggelap wajahnya yang terkena cipratan minyak goreng barusan dengan tangannya.


"Fiuh, akhirnya selesai!" celetuk Maharani sambil mengangkat telur ke dalam piring.


*


*


*


"Wah, wah ini dia makanan utamanya," sahut Bejo ketika melihat Maharani meletakkan piring di atas lantai.

__ADS_1


"Kayak ada peperangan ya di dapur tadi," cerocos Supri, sambil tersenyum jahil.


"Iya, peperangan antara telur dan minyak goreng," kata Maharani dengan ketus.


Diam-diam Sadewa memperhatikan wajah Maharani. Dia menyunggingkan senyum tipis dan tak ada yang menyadari akan hal itu.


Bude Sri merekahkan senyuman, melihat tingkah ketiganya. "Rani, ayo kita makan sama-sama."


"Rani sudah kenyang Bude." Maharani tak mau, melihat mereka menyantap hasil masakannya sebab dia yakin rasanya tidak enak.


"Kenyang apanya? Tadi pagi kamu hanya makan kue Rani, ayo makan."


Krucuk!


Belum sempat Maharani menolak ajakan Bude Sri, kampung tengahnya tiba-tiba berbunyi nyaring. Membuat Sadewa, Supri dan Bejo terkikik sejenak.


Muka Maharani pun memerah seketika.


Si@lan! Nih perut kagak bisa di ajak kompromi.


"Nah tuh kan kamu lapar, ayo makan." Bude Sri menarik tangan Rani untuk di sampingnya.


Mereka duduk lesehan di lantai, mengelilingi makanan.


"Tenang Dek Ayu yang cantik, jangan malu sama kita-kita ini," ucap Bejo.


"Diam lu!" seru Maharani seketika.


"Rani, sopan sedikit, kata panggilannya jangan lupa di ganti aku dan kamu." Bude Sri mengelus punggung Maharani.


"Dia yang duluan Bude!" protes Maharani sambil menjulurkan lidah.


"Sudah, kita makan yuk biar cepat kita ke sawahnya juga," ucap Sadewa, menatap dalam ke arah Maharani.


Deg!


Maharani tergelak saat mata hitam nan legam itu menghunus ke dalam bola matanya. Secara bersamaan pula detak jantungnya berdegup cepat.


Kenapa Dewa lihatin aku kayak gitu sih? Apa ada belek ya dimataku?

__ADS_1


Maharani menundukkan muka ingin menyentuh matanya dan memastikan apakah ada sesuatu dimatanya sampai-sampai Sadewa menatapnya dengan begitu intens sekarang.


__ADS_2