Kepentok Cinta Petani Tampan

Kepentok Cinta Petani Tampan
~ Penganggu


__ADS_3

"Dewa, kita mau kemana?" tanya Maharani, setelah berhasil keluar dari rumah tanpa sepengetahuan Bude Sri.


Saat ini Sadewa dan Maharani melangkah pelan di jalan setapak menuju hamparan sawah.


Sadewa melirik sekilas. "Ada deh, rahasia, aku nggak bisa tidur soalnya, makanya ajak kamu keluar, sekalian ada yang mau aku bicarain," ucapnya sambil membuka cepat jaketnya kemudian menaruh jaket di pundak Maharani.


Maharani tersipu malu. Sadewa benar-benar memperlakukannya seperti seorang ratu. Pria itu selalu bisa membuat dadanya berdebar-debar tak karuan. Aroma tubuh yang menempel di jaket Sadewa, membuat Maharani melayang-layang untuk sejenak.


"Kenapa nggak bisa tidur?" Maharani amat penasaran, mengapa Sadewa tak bisa tidur. Dia pun dari tadi tak bisa memejamkan matanya. Hal itu karena pikirannya dipenuhi wajah Sadewa.


"Gara-gara kamu, aku nggak bisa tidur."


Blush!


Pipi Maharani bersemu merah, mendengar perkataan Sadewa barusan. Apakah Sadewa juga memiliki ketertarikan pada dirinya, entahlah. Maharani tak mau terlalu terbawa perasaan akan perkataan dan sikap Sadewa. Hubungan ia dan Tomi sudah menjadi pengalaman untuk dirinya agar lebih berhati-hati membuka hati. Meski ia tahu sendiri jika di dalam hatinya saat ini sudah terukir nama Sadewa. Yang entah sejak kapan Sadewa menempati ruang di hatinya.


Hening sejenak, hanya terdengar desiran angin dan lantunan suara kodok bersenandung di sekitar mereka saat ini.


"Rani, kok diam?" Sadewa menggenggam tangan Maharani seketika.


Sentuhan di tangan membuat hati Maharani menghangat kini. Lagi dan lagi, Sadewa membuat gadis itu mati kutu. Ditambah lagi tangannya di genggam erat oleh Sadewa sekarang.


Maharani melirik Sadewa sekilas. "Nanti kalau aku ngomong terus, kamu bilang aku bawel," ucapnya pelan lalu melengoskan muka ke samping saat Sadewa menatap dalam bola matanya barusan.


Sadewa terkekeh pelan.


"Ya deh ya, kamu nggak penasaran gitu, gara-gara kamu, aku nggak bisa tidur."


"Nggak!" seru Maharani lalu membuang muka lagi.


"Yakin?" Sadewa melemparkan senyum jahil.


"Yakin!" jawab Maharani tanpa menatap lawan bicara.


Suara tawa pelan berkumandang dari bibir Sadewa seketika.

__ADS_1


"Kamu lucu banget sih? Itulah yang buat aku nggak bisa tidur, wajah kamu yang jutek itu."


Maharani menoleh ke samping, melebarkan mata pada Sadewa. "Oh jadi muka aku jutek gitu ya?"


Anggukan cepat di balas Sadewa.


"Ya udah! Nanti aku tambah jutek aja nih, biar kamu nggak bisa tidur selama-selamanya," ucap Maharani ketus dengan mengukir senyum tipis di wajahnya.


"Jangan dong, kamu nggak kasihan sama aku apa? Kalau aku nggak bisa tidur, aku bakalan ajak kamu jalan-jalan kayak gini setiap hari. Memangnya kamu mau."


"Terserah." Maharani pura-pura ngambek. Dia menyentak kasar tangan Sadewa tiba-tiba.


Sadewa terkejut. Secepat kilat menyambar tangan Maharani lagi dan menatap lekat-lekat mata wanita itu. "Nggak boleh lepas tangan sebelum kita sampai tempat tujuan, Maharaniku."


Maharaniku?


Maharani melenggoskan muka ke samping. Menyembunyikan kebahagiaannya kala Sadewa memanggil namanya dengan embel-embel ku.


"Masih jauh?" tanya Maharani tak sabaran.


Selang beberapa menit, keduanya sudah tiba di suatu tempat. Maharani mengedarkan pandangan, melihat kumbang-kumbang berterbangan di sekitarnya saat ini. Dia terkesima melihat pemandangan yang sangat indah menurutnya. Apalagi taburan bintang kecil bersinar terang di atas langit malam ini.


"Wah, bagus banget." Maharani mendongakkan wajah ke atas, matanya nampak berbinar-binar.


"Bagus kan?" Sadewa melepas tangan Maharani lalu berdiri dihadapan Maharani.


Maharani mengangguk cepat lalu menyunggingkan senyuman Dia tak sadar jika Sadewa saat ini di hadapannya.


"Rani," panggil Sadewa kemudian.


"Iya." Maharani menatap lurus ke depan, melihat wajah Sadewa, yang malam ini benar-benar tampan seperti seorang pangeran.


"Sebenarnya–"


"Ahk! hati-hati woi!"

__ADS_1


Perkataan Sadewa terpotong saat mendengar suara seseorang yang tak asing di ujung sana. Maharani pun menggerakan kepalanya ke segala arah.


"Siapa?" ucap Sadewa seketika entah pada siapa sambil mengedarkan pandangan ke segala arah.


"Kucing, Meow!"


Sadewa dan Maharani menarik napas panjang. Karena mengenali suara itu, siapa lagi kalau bukan Bejo.


Sadewa mendekati Maharani. "Rani, kita pindah tempat yuk, si Bejo sama Supri kayaknya sembunyi di rumput itu," ucapnya pelan.


Maharani mengangguk.


"Tunggu sebentar ya." Sadewa membalikkan badan lalu melangkah cepat ke sisi kanan dan tengah mengambil sesuatu dengan plastik yang ia sambar barusan di tanah.


Dewa, mau ngapain?


Maharani amat penasaran.


Sementara itu, di sisi lain di balik rumput-rumput yang memanjang. Supri dan Bejo tengah berjongkok, hendak menguping pembicaraan Sadewa dan Maharani.


Satu jam yang lalu, mereka berniat bertandang ke rumah Sadewa. Namun, mereka keheranan saat melihat Sadewa keluar dari rumah tiba-tiba. Keduanya pun penasaran, lantas mengikuti Sadewa secara diam-diam. Dan di sini lah mereka sekarang tengah mengintip pasangan yang sedang di mabuk asmara itu.


"Sup, kok sepi, apa mereka pergi?" Bejo berbisik di telinga Supri.


"Nggak tahu tuh, kamu sih tadi, pakai dorong segala." Supri melototkan mata.


Bejo malah nyengir kuda.


Cret!


Supri dan Bejo tersentak saat dari atas di lempar sesuatu. Dengan serempak mereka memegang kepalanya masing-masing.


"Apa nih?" Bejo mengendus-endus tangannya sejenak, aroma tak sedap menyeruak ke hidungnya seketika.


"Hoek, kampret si Dewa! Ini taik sapi, Jo!" seru Supri sambil menahan napas.

__ADS_1


__ADS_2