
Maharani menengok sekilas rantang makanan di sebelahnya. Beberapa menit yang lalu Bude Sri mengantarkan makanan untuk dirinya dan Sadewa.
Dari kejauhan Maharani memperhatikan Sadewa dan teman-temannya membajak sawah. Dia tak sadar senyam-senyum sendiri seperti orang gila sekarang, mengingat sikap Sadewa tadi, yang menurutnya perhatian dan membuat jantungnya selalu berdebar-debar tak karuan.
Maharani melepas topi dan menaruh benda tersebut di sisi badannya kemudian menikmati semilir angin di sekitar yang membuat dirinya semakin terbuai akan suasana di sawah saat ini.
"Rani!" panggil seorang pria dari samping tiba-tiba.
Saat mendengar suara yang tak asing masuk ke gendang telinganya, Maharani menoleh. Melihat pria berambut sedikit putih, bermata sipit dan memakai kacamata kecil berbentuk bulat tengah memandanginya. Sepertinya pria itu hendak melintas di sekitar sawah.
"Ada apa Ko Aliong?" tanya Maharani sambil tersenyum ramah.
"Lu ngapa senyam-senyum dari tadi, Koko sampai bingung, kayak orang gila tahu," Koko Aliong berkata sambil membuka kipas keramatnya yang berwarna merah menyala.
"Ish, Ko Aliong mah gitu, emangnya nggak boleh senyum apa, cantik-cantik gini di bilang orang gila," sergah Maharani kemudian cemberut.
"Nggak boleh, kata Dewa senyuman kamu manis kayak gula, bahaya nanti Koko ambil kamu dari Dewa," cerocos Koko Aliong kemudian hendak menggerakkan tungkai kakinya.
"Ha? Ko Aliong bilang apa?! Ko, jangan pergi!" Maharani bangkit berdiri lalu berjalan cepat, menghampiri Koko Aliong.
Langkah Koko Aliong pun terhenti. "Koko bilang jangan sering-sering senyum nanti Koko ambil kamu dari Dewa, soalnya senyum kamu buat Koko melayang-layang."
"Maksudnya Ko? Ambil dari Dewa?" Maharani menggaruk-garuk kepala sejenak.
"Haih ya, lu olang nggak peka-peka, tanya sama Dewa!" Koko Aliong berlalu pergi meninggalkan Maharani tengah kebingungan sendiri akan perkataannya barusan.
Ambil? Senyum?
Isi kepala Maharani berkecamuk seketika, mencoba memahami perkataan Koko Aliong tadi. Tak mau menerka-nerka, dia memutuskan kembali ke gubuk lagi, ingin menunggu Sadewa dan teman-temannya menyelesaikan perkerjaan.
*
*
Sore harinya, Sadewa, Supri dan Bejo menyudahi perkerjaanya. Supri dan Bejo pamit undur diri terlebih dahulu karena ada kegiatan di balai desa yang melibatkan keduanya.
Selepas kepergian Supri dan Bejo, Sadewa berjalan cepat menuju gubuk di tepi hamparan sawah. Senyum hangat terlukis diwajahnya saat melihat Maharani tengah mengedarkan pandangan di sekeliling.
"Rani, maaf ya lama nunggunya," ucap Sadewa dengan jarak satu meter dari Maharani.
Maharani tersenyum lalu beranjak dari tempat duduk. "Kok jauh-jauhan sih, emangnya aku hama apa?" cerocosnya seketika.
"Badanku bau, kamu nggak lihat nih, baju aku sampai basah," jawab Sadewa dengan menyunggingkan senyuman.
"Santai Dewa, bau itu wajar-wajar aja, kan kamu lagi kerja. Oh ya, tadi Bude kasi kita makanan loh, kita makan sama-sama yuk sebelum pulang." Maharani mengajak Sadewa untuk menyantap hasil masakan Bude Sri.
__ADS_1
"Oke!" Sadewa langsung melepas kaos dan menaruh bajunya di tiang.
Maharani membuang muka ke samping. Napasnya tercekat saat melihat otot-otot seksi Sadewa terpampang jelas di hadapannya.
Anjir! Dia mau ngapain?
Pikiran Maharani sudah melanglang buana entah kemana sekarang.
"Dewa kok bajunya dilepas?" tanya Maharani sedikit panik, tanpa menatap lawan bicara.
Dahi Sadewa berkerut. "Kenapa? Aku mau bersihin badan aku di situ dulu, lagian bajuku basah karena keringat jadi biar nggak terlalu bau kalau kita makan nanti."
Astaga, jadi karena itu, sadarlah Rani jangan genit napa!
Maharani merutuki pikiran nakalnya sendiri tadi. Kini dia terlihat salah tingkah.
"Eh ya benar, ya udah bersihin gih," kata Maharani sambil memberanikan diri menatap Sadewa.
Sadewa melemparkan senyum hangat hingga menampakkan lesung pipitnya.
"Tunggu sebentar ya, aku mau bersihin badan dulu, kamu siapin aja makanannya, lumayan kan gladiresik buat jadi istri aku," katanya cepat lalu melangkah pergi dari hadapan Maharani.
"Gladiresik? Jadi istri?" Maharani tersipu malu mendengarnya. "Rani, jangan kegeeran dah, mulut cowok memang suka manis-manisnya," gumamnya pelan sambil mengambil rantang makanan.
Lima menit kemudian, di lantai kayu itu sudah tersaji beberapa makanan yang diantaranya ada nasi, daun ubi tumbuk, ikan asin, sambal terasi dan bakwan jagung.
"Wah enak banget," celetuk Sadewa sambil mengelap rambutnya yang basah.
"Aku nggak pernah makan kayak begini," ucap Maharani apa adanya. Sebab dia memang tak pernah menyantap makanan di depan matanya kecuali bakwan jagung.
"Wow, pasti kamu setiap hari makan ikan salmon ya," celetuk Sadewa lalu duduk bersila di hadapan Maharani.
"Nggak juga kok, aku jarang makan di rumah, sukanya makan di luar, aku lebih suka makan fastfood, kayak burger, kentang goreng."
"Hm, jangan sering-sering Rani, nggak baik buat kesehatan."
"Kok kamu tahu kalau makanan itu nggak bagus?" tanya Maharani heran.
Sadewa tersenyum. "Walaupun aku orang kampung, tapi aku sedikit paham kok makanan-makanan fastfood, kan ada internet, sudah sekarang kita makan yuk, keburu gelap nanti, lampu di gubuk nggak terang," ucapnya lalu mengambil nasi di rantang.
Maharani mengangguk. Dia merasa bersalah karena menganggap remeh Sadewa selama ini.
Jedar!
Di saat sedang asik mengunyah makanan, Sadewa dan Maharani terlonjak kaget, mendengar bunyi guntur di atas dan langit pun tiba-tiba berubah warna menjadi hitam pekat.
__ADS_1
"Waduh, mau hujan, ayo kita cepat habisin makanan," Sadewa berkata sambil melirik Maharani.
Maharani mengangguk patuh lalu menyantap makanan yang tersisa di dalam piring dengan cepat. Akan tetapi, sepertinya semesta tak memperbolehkan Sadewa dan Maharani untuk pulang ke rumah.
Hujan turun seketika, membasahi seluruh hamparan sawah di depan sana.
Sadewa menghela napas kasar karena sepertinya mereka tertahan di dalam gubuk untuk sementara waktu.
"Rani, kita nggak langsung pulang, soalnya aku nggak bawa payung, kalaupun mau terobos hujan, aku nggak mau kamu sampai sakit lagi, kita nunggu hujan reda ya," ucap Sadewa.
"Oke, nggak apa-apa, semoga hujannya cepat reda."
Satu jam pun berlalu, bukannya mereda hujan semakin bertambah deras. Di luar sana, langit sudah terlihat menggelap. Cahaya lampu yang menyinari gubuk pun remang-remang.
Sadewa dan Maharani duduk berdampingan dengan jarak beberapa centimeter. Keduanya menatap lurus ke depan, melihat tetesan hujan mengalir dari atas atap. Sedari tadi keduanya tak membuka suara, sedang menyelami isi pikirannya masing-masing.
"Rani!" panggil Sadewa seketika.
"Iya." Maharani melirik Sadewa.
"Kamu kedinginan?"
"Nggak kok," kilah Maharani, padahal sensasi dingin akibat hujan dan udara di sekitar membuat tubuhnya mengigil.
"Kamu nggak bohong kan, dari tadi kamu peluk badan kamu sendiri?" Sadewa tersenyum lebar tatkala melihat Maharani memeluk tubuhnya sendiri dari tadi.
"Hehe, aku nggak bohong kok, gimana dengan kamu. Dari tadi Kamu aja nggak pakai baju, nah kalau aku mah masih pakai baju."
Enggan menanggapi, Sadewa menarik napas panjang lalu menatap lagi ke depan.
Hening lagi.
"Rani, aku boleh peluk kamu nggak?"
Pertanyaan Sadewa barusan membuat tubuh Maharani membeku.
"Peluk? Kamu kedinginan ya?" tanyanya positif thinking.
Sadewa menoleh. Menatap lekat-lekat wajah Maharani. "Iya, boleh?"
"Ahk! Dewa..."
Belum juga Maharani, mengiyakan Sadewa sudah menarik tangannya dan membawanya ke dalam pelukan.
Deg, deg, deg.
__ADS_1
Jantung Maharani berdetak sepuluh ribu kali lipat dari sebelumnya. Dia dapat mendengar juga debaran jantung milik Sadewa berdegup sama seperti dirinya. Maharani melonggarkan pelukan lalu mendongakkan kepalanya, menatap bola mata Sadewa.
Untuk sesaat, Maharani dan Sadewa saling bersitatap satu sama lain, tanpa mengedipkan mata.