Kepentok Cinta Petani Tampan

Kepentok Cinta Petani Tampan
~ Resah dan Gelisah


__ADS_3

Sementara itu di sisi lain, saat ini Sadewa begitu sedih melihat kondisi kesehatan Ibunya menurun drastis. Sejak tadi pagi ia tidak meninggalkan Ibunya di rumah dan menyuruh Supri dan Bejo yang mengurus sawahnya. Sesekali Sadewa mengecek ponselnya, apakah ada pesan dari Maharani. Dia sedikit bingung sebab dari tadi pagi, Maharani tak berkunjung ke rumah seperti yang biasa yang ia lakukan.


Sadewa menghela napas kasar sejenak.


"Ada apa Le?" tanya Ajeng yang terbaring lemah di atas tempat tidur.


Sadewa menoleh lalu meletakkan kembali ponsel ke tempat semula. "Nggak Bu, hanya bingung aja, tumben Rani nggak ada kirim pesan atau apa sama aku," ucapnya.


Ajeng mengembangkan senyuman. "Oh gitu, mungkin aja Rani lagi sibuk bantuin Bude di rumah, kamu serius sama Rani, Le?"


"Iya Bu, Dewa serius banget sama Rani. Dewa mau dia yang menjadi wanita pertama dan terakhir yang singgah di hati Dewa."


Ajeng terkekeh pelan. "Waduh Le, sudah seperti pujangga cinta saja kamu, ya baguslah, anak orang jangan disakiti, Le. Wanita itu makhluk perasa, mereka lebih banyak menggunakan perasaan daripada logika, Ibu setuju-setuju saja kamu sama dia, tapi sebelum menikah, jaga batasan ya."


"Iya Bu, Dewa akan menjaga jarak sama Rani."


"Baguslah." Ajeng mengulas senyum tipis. "Uhuk uhuk uhuk!" Seketika rasa gatal menyerang tenggorokannya.


Secepat kilat Sadewa mengambil gelas di atas meja kemudian duduk di tepi ranjang berusaha membantu Ajeng untuk duduk.


"Di minum dulu Bu," ucap Sadewa sambil membantu Ajeng untuk minum.


"Terima kasih Le." Ajeng menghela napas pelan setelah menenguk air putih itu sampai habis.


"Sama-sama Bu, ayo baring lagi." Sadewa meletakkan gelas di meja kemudian membantu Ajeng merebahkan diri lagi di atas kasur.

__ADS_1


"Le, kamu seharian di sini, pergi gih ke tempat Rani, Ibu sudah baikan, lihat tuh muka kamu jelek, kayak nggak semangat gitu," kelakar Ajeng sambil tersenyum tipis.


"Owalah Bu, wong aku tampan gini, di bilang jelek, Rani aja sampai klepek-klepek sama aku," ucap Sadewa tak terima dengan perkataan Ibunya.


Ajeng mencubit pelan perut Sadewa.


"Aduh, sakit loh Bu." Sadewa pura-pura kesakitan padahal cubitan Ajeng tak terasa sama sekali.


"Lebay kamu, Le." Ajeng tersenyum simpul. "Udah gih sana."


"Iya nanti Dewa ke sana, setelah Supri dan Bejo datang ke sini."


"Hmm, iya."


Setengah jam kemudian. Supri dan Bejo sudah sampai rumah Sadewa.


"Ck! Sorry, sorry, banyak gaya kamu, Jo. Kamu mah bukan nemanin tapi malah gangguin, makanya sampai sekarang Sari nggak terima cinta aku," ucap Supri sambil mendengus pelan.


"Hehe, baguslah biar kita sama-sama jomblo, aku nggak terima kalau aku aja nanti yang jomblo," sahut Bejo.


"Wong edan!" Supri hendak mencekik Bejo dengan mengalungkan tangannya di leher Bejo.


"Eh, stop, stop! Jangan ribut-ribut, Ibuku lagi tidur di dalam." Sadewa melerai perkelahian yang terjadi di antara Supri dan Bejo dengan menarik pakaian Supri dari belakang.


Supri mendengus. Sementara Bejo menyengir.

__ADS_1


"Sudah sekarang kalian jaga Ibuku, aku mau ke tempat ayang, kalau mau makan, ambil aja di kulkas, aku nggak lama kok, nanti Rani aku ajak ke sini," ucap Sadewa kemudian berlalu cepat tanpa menunggu balasan dari Supri dan Bejo.


"Semprul! Ayang, ayang, ayang aja terus!" seru Supri.


"Sup, diam, Ibunya Dewa nanti bangun." Bejo meletakkan jari telunjuk di depan bibir bawahnya, memberi kode agar Supri tak meninggikan suara.


Supri langsung menutup mulutnya sendiri.


*


*


*


"Apa? Bude nggak bohong kan?" Sadewa sangat terkejut saat mendapat kabar dari Bude Sri kalau Maharani kembali ke Jakarta tadi pagi. Perasaannya sangat kacau saat ini, takut jika Maharani melupakannya.


"Bude nggak bohong, Dewa, maafin Bude ya, baru ngasi tahu, tadi pagi Bude sibuk nyemai padi," ucap Bude Sri tak enak hati karena lupa menyampaikan pesan kepada Sadewa.


"Kapan Rani ke sini lagi Bude? Apa dia lupa Bude kalau ada aku di sini?" Sadewa semakin resah dan gelisah. Dia sangat tak sanggup berjauhan dengan Maharani. Hatinya seketika hampa dan kosong seperti ada yang hilang. Sehari saja tak mendengar suara Maharani dia sudah seperti orang gila.


"Emm, Bude kurang tahu, tapi yang jelas sepertinya lama karena Rani mau lanjutin sekolah, Papinya yang menjemput Rani ke sini tadi pagi. Tentu saja dia ingat sama kamu, bahkan dia bimbang untuk pergi ke sana karena tidak mau meninggalkan kamu di sini."


Sadewa mengacak-acak rambutnya sendiri sekarang. Dia tampak gelisah.


"Dewa, sebenarnya Rani mau izin sama kamu, tapi handphone dia kemasukan air kemarin." Bude Sri kembali menambahkan.

__ADS_1


"Bude tahu nggak alamat rumah Rani di Jakarta di mana?" Sadewa mengajukan sebuah pertanyaan yang membuat Bude Sri mengerutkan dahinya.


__ADS_2