Kepentok Cinta Petani Tampan

Kepentok Cinta Petani Tampan
~ Siapa Wanita Itu


__ADS_3

Jantung Maharani seakan mau melompat keluar sekarang. Setiap kali berdekatan dengan Sadewa, jantungnya berdetak tak normal. "Ish, lepas Dewa!" serunya sambil menyentak kasar tangan Sadewa. Namun, akibat tanah yang sedikit licin Maharani hampir saja terpeleset. Beruntung Sadewa meraih pinggang Maharani seketika.


Deg, deg, deg.


Degup jantung Maharani semakin cepat saat tubuh keduanya saling menempel.


Maharani dan Sadewa menatap satu sama lain, tanpa mengedipkan mata dan mengabaikan teriakan Bejo yang menggema di sekitar mereka.


"Cie, cie, uhuk, uhuk, kayaknya aku harus pesan tiket ke mars deh!" celetuk Bejo jahil.


Maharani segera tersadar. Dengan cepat mendorong dada Sadewa lalu mundur dua langkah ke belakang.


"Maaf Rani, kamu nggak apa-apa kan?" tanya Sadewa ingin memastikan.


"Aku baik-baik saja kok," jawab Maharani sambil menundukkan muka. Dia tak tahu jika pipinya sekarang merah merona.


Sadewa yang melihat wajah Maharani, menyunggingkan senyuman. "Rani, kamu duduk di gubuk kecil saja, lihat itu pipi kamu sampai merah gara-gara kepanasan."


Kedua mata Maharani membulat sempurna. Tanpa pikir panjang mengangkat dagunya. Matanya berkedip cepat tiba-tiba. "Ha? Me–rah," ucapnya sedikit terbata-bata.


"Iya." Sadewa menatap wajah Maharani sangat dalam.


"Hahaha! Merah karena panas, apa karena malu?" Bejo menggoda Maharani. Sedari tadi dia sudah bagaikan obat nyamuk di antara Maharani dan Sadewa.


"Apaan sih! Ya karena panaslah, masih di tanya lagi," protes Maharani cepat. "Udah ah aku mau ke sana!" Detik selanjutnya ia langsung membalikkan badan kemudian melangkah cepat, mendekati gubuk kecil di dekat sawah.


Di sisi lain, tepatnya di samping sawah, dari kejauhan para gadis-gadis desa yang memperhatikan apa yang terjadi di hadapan mereka barusan.


"Siapa tuh cewek?" tanya seorang wanita berpakaian kebaya modern dan rok pendek sebatas lutut. Rambutnya di kepang dua memanjang ke bawah. Mimik mukanya terlihat sangat masam kala melihat interaksi antara Sadewa dan Maharani tadi.


"Dengar-dengar sih, keponakannya Bude Sri, kemarin baru datang dari Jakarta, kayaknya liburan di sini Mawar," jawab Sari, teman di sampingnya.


"Kurang ajar dia! Berani-beraninya dia dekatin Dewa! Dewa itu pacar aku," ucap Mawar dan mengangkat dagu angkuh sambil melipat tangan di dada.


"Pacar? Astaga Mawar! Kamu demam atau apa? Setahu aku Dewa nggak pernah mau ngomong sama kamu selama ini. Kapan pacarannya?" jawab Sari kebingungan.


Mawar menoleh. Melototkan mata pada Sari. "Diam deh! Walaupun dia nggak pernah mau ngomong sama aku. Sejak Dewa masih jadi embrio, dia udah jadi pacar aku. Paham!"


Sari membalas mendengar perkataan temannya itu, dengan menghela napas kasar.


"Siapa namanya?" tanya Mawar lagi dengan tangan terkepal kuat saat melihat Sadewa mengambil topi Maharani di depan sana.


"Em, siapa ya, lupa-lupa ingat aku." Sari tampak mengingat-ingat informasi yang ia dapatkan dari Ibunya tadi pagi kala Ibunya bercerita ada keponakan Bude Sri yang sangat cantik dan ramah datang liburan ke desa.

__ADS_1


"Cepatan Sari, lemot banget sih kamu!" bentak Mawar sambil menatap tajam Sari.


"Eh ayam ayam ayam ayam." Sari sampai latah-latah sejenak, mendengar suara Mawar yang melengking nyaring.


Mawar mendengus kasar.


"Namanya Maharani kalau nggak salah aku," ucap Sari sambil mengelus pelan dadanya.


"Maharani..." Mawar bergumam pelan, tanpa mengalihkan pandangan dari depan, melihat Maharani tengah melompat-lompat kecil ingin meraih topinya yang di angkat Sadewa ke udara.


"Awas kamu, aku akan kasi kamu pelajaran karena udah berani dekatin Dewaku." Seringai licik terukir jelas di wajah Mawar sekarang.


"Pelajaran apa Mawar? Matematika apa bahasa indonesia?" tanya Sari penasaran sebab dia mendengar ricauan Mawar dari tadi.


"Nggak usah banyak tanya deh!" Mawar melototkan matanya ke arah Sari seketika lalu melenggoskan wajahnya ke depan. Memperhatikan lagi interaksi antara Maharani dan Sadewa.


*


*


*


Sore harinya, sekitar pukul empat sore, matahari mulai meredup perlahan-lahan di atas langit. Bude Sri memutuskan untuk menyudahi kegiatan membajak sawahnya. Ditambah lagi dia melihat Maharani nampak menahan kantuk, menunggu mereka sedari tadi.


"Ayo kita pulang, besok lanjut lagi, Dewa." Bude Sri tersenyum tipis pada Sadewa.


"Cie, cie, cie perhatian nih ye." Bejo menyenggol lengan Supri sedikit.


"Kayaknya ada yang lagi berbunga-bunga nih, hihi." Supri cekikikan sesaat.


Sadewa hanya senyum-senyum sendiri mendengar godaan Supri dan Bejo.


Bude Sri pun ikut tersenyum tipis. "Hm, ya udah Bude duluan ya," ucapnya lalu melenggang pergi meninggalkan ketiga pemuda tersebut.


"Rani, ayo pulang Nduk!" Bude Sri menepuk pelan pipi Maharani, yang saat ini duduk di gubuk dalam keadaan setengah sadar. Sepertinya dia tertidur dari tadi.


Maharani mengerjap-erjapkan mata saat pipinya di sentuh Bude Sri. "Udah selesai Bude?" tanyanya sambil menguap lebar.


"Udah, yuk kita pulang." Bude Sri mengulurkan tangan bermaksud membantu Maharani untuk bangkit berdiri.


Maharani meraih tangan Bude dan menggengam erat. "Ah akhirnya, udah yuk Bude, Rani lapar lagi hehe."


"Tuh kan, makanya tadi Bude suruh kamu makan banyak, kamunya malah bilang diet, lain kali kalau mau makan, makan aja apa yang ada di dapur," cerocos Bude.

__ADS_1


Maharani malah menyengir, hingga menampakkan gigi-gigi putihnya berjejer rapi. "Hehe, malam ini Rani mau makan singkong rebus, Bude."


"Iya, nanti Bude masakin, ayo kita pulang dulu, biar Dewa sama teman-temannya beresin sisanya."


Maharani mengangguk pelan lalu mengikuti langkah kaki Bude Sri keluar dari hamparan sawah.


Sesampainya di rumah, Maharani dan Bude Sri langsung membersihkan badannya secara bergantian. Setelah itu mereka memasak di dapur bersama-sama. Tak lupa pula Bude Sri mengajari Maharani untuk memasak, setelah melihat cara memasak Maharani yang masih amburadul tadi siang.


Dia ingin Maharani menjadi wanita yang serba bisa dan mandiri serta tidak bergantung dengan seorang nantinya. Bude Sri beruntung Maharani mau mendengarkannya dan tak membantah kalau dia ajari. Selesai memasak, keduanya langsung menyantap makan malam bersama.


Tepat pukul 7 malam, Bude Sri meminta tolong pada Maharani untuk mengantarkan singkong rebus ke rumah Sadewa.


"Rani, Bude minta tolong ya antarkan ini ke rumah Dewa untuk Ibunya," ucap Bude Sri sambil menyodorkan piring yang di atas tutup daun pisang.


"Apa ini Bude?" tanya Rani, penasaran. Lalu mengambil piring dari Bude Sri.


"Singkong rebus."


"Harus sekarang Bude." Maharani menggaruk lehernya sejenak, mengingat jalanan dipedesaan tak ada lampu penerangan di sepanjang jalan.


"Iya, ini ada senter biar kamu bisa lihat jalannya." Bude Sri mengambil senter di atas meja lalu memberikan pada Maharani.


"Oh syukurlah, Rani pikir nggak ada senter, hehe." Maharani sedikit lega karena ada senter agar dia bisa melihat jalan di malam hari.


"Tenang Rani, di kampung aman-aman kok jam segini, lagian pemuda-pemudi kadang mereka ngumpul-ngumpul di depan rumah, apalagi di rumah Dewa tuh kadang ramai," ucap Bude Sri.


"Hehe, oke Bude. Rani mah kagak takut hantu Bude, adanya takut sama manusia, kadang manusia bisa sama kayak hantu kelakuannya, di Jakarta mah banyak hantu berwujud manusia Bude."


Bude Sri tersenyum, melihat keberanian Maharani."Iya, kamu masih ingat kan rumah Dewa yang tadi kita lewati pas pulang."


"Masih dong Bude, walaupun nilai Rani jelek-jelek, tapi Rani pengingat yang handal," ucap Maharani diiringi kekehan pelan setelahnya.


"Ya udah, hati-hati ya di jalan, jangan kemalaman pulangnya, kalau mau nongkrong dulu di rumah Dewa, silakan."


"Nggak ah, Rani mau langsung pulang kalau udah antarin titipan Bude, bye Bude!" Maharani bergegs pergi dari hadapan Bude Sri.


Dengan pelan-pelan Maharani menapaki tanah berwarna coklat gelap itu. Dia menyoroti jalanan lurus itu dengan senter mininya sambil menahan gigil saat udara malam hari menusuk ke kulit pori-porinya sekarang.


"Seharusnya gue pakai jaket tebal tadi," gumam Maharani pelan tanpa mengalihkan pandangan ke depan.


Langkah Maharani terhenti sejenak saat merasa dirinya diikuti dari belakang. Dia memutar kepalanya sambil mengarahkan senter. Dan ternyata tak ada orang sama sekali di belakang.


"Apaan tuh? Mbak Kunti? Hm awas saja kalau ganggu gue. Gue smackdown lu!" serunya tanpa takut sama sekali. Lalu dia mulai mengalihkan pandangan ke depan lagi. Akan tetapi, tiba-tiba dari arah samping, terlihat siluet seseorang mengendap-endap di dekat Maharani sambil membawa sebatang balok ditangannya.

__ADS_1


Bugh!


"Ahk!!!" pekik Maharani seketika.


__ADS_2