
Sementara itu di sisi lain, tepatnya di sebuah mobil sedan berwarna hitam.
Maharani merengut kesal sebab Papinya membuat dirinya seperti tahanan berjalan sejak tadi pagi. Padahal ia hendak pergi sendiri ke konter untuk memperbaiki ponselnya. Namun, Papinya malah menyuruh dirinya membeli ponsel baru. Tak hanya itu, Papinya juga menyuruhnya pergi ke sekolah mengurus surat-menyurat pindah sekolah.
Sedari tadi, Maharani berusaha bernegosiasi dengan bodyguard yang ditugaskan Papinya untuk menjaganya. Dia meminta sang bodyguard untuk singgah sebentar di konter hp, mau mencatat nomor Sadewa sebab dia tak hapal nomor pujaan hatinya itu. Akan tetapi, pria berwajah lumayan tampan itu tak bisa di ajak kerjasama sama sekali. Menjadikan Maharani kesal setengah mati.
Argh! Gimana nih?! Dewa kira-kira lagi ngapain ya? Semoga aja si Mawar kagak godain dia!
Maharani hanya mampu berteriak di dalam hati kala pikiran negatif menyerangnya seketika.
"Rani, mau kemana lagi?" tanya sang bodyguard dari depan sambil melirik kaca spion di bagian tengah mobil. Pria itu memperhatikan gelagat Maharani dari tadi.
"Ke neraka," jawab Maharani dengan ketus.
"Oh ke cafe neraka jalan XXX kan?" Dengan santai sang bodyguard yang umurnya lebih tua dari Sadewa berkata.
"Ha?" Maharani melonggo sejenak. Padahal tadi dia hanya asal bicara. Ternyata ada tempat yang bernama cafe neraka. "Nggak jadi, kita langsung pulang saja!" ucapnya kemudian.
"Jadi langsung pulang?" Sang bodyguard yang memiliki warna mata coklat itu menengok ke arah Maharani. Dia menatap wajah Maharani lekat-lekat.
"Heh! Banyak tanya ya kamu, jadi bodyguard kok nggak sopan, biasanya Dono manggil aku Non Rani atau apalah itu," cerocos Maharani cepat sebab pria di hadapannya ini bersikap kurang sopan menurutnya.
"Maaf, saya akan panggil Non Rani," ucap sang bodyguard sambil tersenyum lebar.
Maharani memutar mata malas ke atas. "Udah lihat ke depan sana!" serunya sambil menunjuk ke depan. Sebab merasa risih dengan bodyguardnya yang seakan curi-curi pandang padanya sedari tadi.
"Iya, maaf saya nggak bermaksud Non." Sang bodyguard memutar kepala ke depan.
Setengah jam kemudian. Maharani sudah tiba di rumah. Dia langsung membanting pintu mobil sebagai tanda protesnya terhadap Papinya.
"Papi!" panggil Maharani setengah berteriak saat melihat Samsul berdiri di depan pintu utama, menunggu kedatangannya.
"Iya, kenapa?" tanya Samsul sambil melipat kedua tangan di dada.
"Kenapa Papi giniin Rani, bukannya Papi janji sama Bude, bakalan perlakukan Rani dengan baik dan adil!" seru Maharani berapi-api. Dia tak mampu lagi menahan amarah yang meledak-ledak di hatinya kini.
"Bukannya Papi sudah berlaku adil sama kamu, bahkan Papi menyekolahkan kamu ke luar negeri, apa kamu kurang bersyukur Rani?" Samsul menatap datar Maharani.
__ADS_1
Maharani mendengus. "Tapi Pi, bukan begini caranya, Rani nggak suka ada bodyguard ngikutin Rani terus, ruang gerak Rani nggak bebas Pi."
"Rani, tujuan Papi baik kok, Papi mau kamu selalu selamat, Papi takut musuh-musuh bisnis Papi nyerang kamu! Lagipula Bima bodyguard yang baik, dia nggak akan ngerepotin kamu," ucap Samsul.
Maharani berdecak kesal. "Kenapa nggak dari dulu ada bodyguardnya, kenapa harus sekarang Pi? Rara sama Mami aja nggak ada tuh bodyguardnya!"
Samsul menarik panjang. "Mereka lain Rani, sudah kamu jangan banyak membantah, sekarang masuk ke dalam. Di mana Bima?" tanyanya heran karena bodyguard yang ditugaskan menjaga putrinya tak nampak batang hidungnya dan Maharani hanya bersama supir saja.
"Tuan, maaf saya tadi berjalan kaki dari gerbang depan."
Belum sempat Maharani menjawab pertanyaan dari Papinya. Bima melangkah cepat di belakang saat ini. Tanpa banyak kata Maharani melenggang masuk ke dalam, meninggalkan Bima dan Samsul tengah melemparkan pandangan.
"Maafkan Rani ya, Bim. Dia memang seperti itu," ucap Samsul sambil tersenyum. Setelah melihat Maharani benar-benar masuk ke dalam rumah.
"Tidak apa-apa, Pi. Jiwanya masih muda, jadi wajar-wajar saja," ucap Bima.
"Kenapa kamu bisa sampai berjalan kaki Bim?" Sedari tadi Samsul keheranan mengapa Bima tak semobil dengan Maharani saat pulang.
"Tadi saya turun sebentar mau lihat-lihat perumahan di sini," kilah Bima padahal ia di kerjai Maharani ketika di depan pintu gerbang. Maharani mengatakan ada paket yang dititipkan di pos satpam jadi dia di suruh mengambil paket tersebut. Namun, ternyata itu hanyalah akal-akalannya saja.
Samsul nampak mangut-mangut sejenak. "Ayo masuk, kamu pasti lapar Bim."
"Oh ya benar, Papi baru ingat, terus sampai kapan kamu menyamar jadi bodyguard Rani? Kamu sanggup Bim?"
"Sampai saya bosan ngitilin calon istri saya Pi," ucapnya lalu tersenyum hangat.
Samsul geleng-geleng sesaat. Karena pria yang ingin ia jodohkan dengan Maharani. Secara sukarela memantau gerak-gerik putrinya sebelum ke jenjang yang lebih serius. Bima adalah salah satu anak sahabat karibnya dan menjadi pewaris tunggal.
"Oke deh, terserah kamu saja Bim. Yang terpenting Rani aman bersamamu."
"Iya Pi, oh ya Pi, aku rencananya bakalan ikut Rani ke New Zealand, sekaligus aku mau buka cabang perusahanku di sana."
"Good, Papi ke dalam dulu ya, kalau perlu sesuatu bilang aja ke Dono." Samsul pamit hendak masuk ke dalam menemui Maharani.
"Ya Pi, tapi aku sore ini izin sebentar ya mau pulang ke rumah, sepertinya Mami dari tadi telepon."
"Oke, oke silakan Bim, hati-hati."
__ADS_1
Bima mengangguk cepat kemudian
*
*
*
Di dapur.
"Non!" Dono menepuk kuat pundak Maharani dari belakang.
Maharani tersentak. Secepat kilat membalikan badan. "Dono! Kamu mau buat aku mati di tempat apa!?" serunya sambil melototkan mata.
"Hehe, maaf Non, habisnya Non ngelamun sih?" Dono menyengir kuda.
Dengkusan kesal terdengar dari hidung Maharani. "Gimana aku nggak ngelamun, aku pusing mikirin hidup aku Don!"
"Lah kok pusing, jangan pusing Non. Nanti cepat tua."
"Argh! Terserah, udah ah aku mau ke atas." Maharani hendak menggerakan kakinya.
"Non tunggu, jangan pergi dulu." Dono menahan tangan Maharani seketika.
"Apa lagi sih Don? Aku lagi mumet nih," kata Maharani menahan sabar.
"Non tadi ada cowok ganteng cariin Non, katanya pacar Non Rani."
"Ha? Pacar? Maksudnya?"
"Tunggu sebentar." Dono mengeluarkan secarik kertas kecil yang sebelumnya sudah dia tulis saat di dalam rumah. Beruntung sekali nomor tersebut tak hilang di telapak tangannya tadi. "Ini Non, namanya Dewa." Dia menyodorkan kertas kecil itu pada Maharani.
Saat mendengar nama Dewa disebut, Maharani langsung menyambar kertas dari tangan Dono. Kemudian mengamati angka-angka yang tertulis di selembar kertas itu.
Dewa? Astaga jadi Dewa cari aku ke Jakarta? Ya ampun so sweet banget sih. Gimana aku nggak klepek-klepek, sama kamu, Dewa.
"Don, terima kasih banyak ya, sekarang aku nggak pusing lagi, bye! Rani si cantik jelita ini mau ke atas dulu!" seru Maharani tersenyum sumringah sembari menabok kuat pundak Dono. Lalu melangkah cepat meninggalkan Dono seorang diri di dapur.
__ADS_1
"Astaga Non Rani pasti belum minum obat, makanya kambuh tu penyakitnya!" celetuk Dono seketika, menatap punggung Maharani menghilang dari penglihatannya.