
"Pacar?"
Maharani tertawa mengejek setelahnya. Bagaimana tidak, setahunya Sadewa belum memiliki pacar. Informasi itu ia dapatkan dari Bejo kemarin. Tentu saja Maharani percaya perkataan Bejo. Dan dia dapat menebak sekarang di balik mata wanita di hadapannya ini ada kecemburuan.
Kedua tangan Mawar terkepal kuat. "Iya, Dewa pacar aku! Jangan dekatin dia!"
"Tapi kan bos bukan pacarnya Dewa," sergah Sari tiba-tiba. Membuat Mawar kesal setengah mati sebab temannya sendiri malah membuka kartunya.
"Diam Sari! Kamu mulai berani ya sama aku!" bentak Mawar.
Sari latah-latah lagi sambil mengelus dada. "Eh, ayam, ayam, ayam, ayam!"
"Hahaha! Ampun dah, kamu pikir aku percaya kalau kamu pacar Dewa, aduh, jelas-jelas Dewa bilang sendiri kalau dia masih jomblo," ucap Maharani. Padahal Sadewa tak pernah memberitahu dirinya sama sekali.
Mawar menggeram rendah. Sebab Maharani tak mudah di gertak dan ditakuti-takuti seperti wanita yang pernah ia ancam jikalau ada seseorang yang hendak mendekati Sadewa.
"Terserah! Pokoknya kamu jauhin Dewa! Dia milik aku!" seru Mawar sambil menatap tajam.
"Kalau aku nggak mau! Gimana?" Maharani menyeringai tipis kemudian.
"Cih! Dasar murahan!" ucap Mawar seketika.
"Eh, ngomong jangan sembarangan! Ngaca dong, cara pakaian kamu aja lebih murahan!" Maharani menelisik penampilan Mawar dari atas sampai ke bawah. Mawar memakai kebaya modern yang sangat ketat, bagian dadanya terbuka lebar hingga menampakkan buah jambunya menyembul keluar sedikit lalu roknya pula sangatlah pendek di atas lutut.
Mawar meradang. "Si@lan!" serunya sambil mengangkat tangan ke udara hendak melayangkan tamparan di pipi Maharani. Namun, secepat kilat Maharani menangkis serangan dengan mencekal kuat pergelangan tangan Mawar.
Secara bersamaan pula, Maharani terpaku, tatkala melihat sebuah gelang berwarna pink yang tampak tak asing dimatanya melingkar di tangan Mawar. Sekelebat memori semalam menari-nari di benaknya sekarang, mengingat-ingat kala dirinya di hutan semalam.
"Awh! Lepas!" Mawar terperanjat kaget akan gerakan Maharani saat ini.
Maharani menyipitkan mata, menaruh rasa curiga pada Mawar sekarang. "Apa kamu yang semalam pukul kepala aku ha!!!" murkanya sambil menghempas tangan Mawar hingga wanita itu terhuyung ke belakang sejenak.
Dengan cepat para gadis desa yang menyaksikan perdebatan sedari tadi menahan tubuh Mawar agar tak terjatuh.
"Bu-kan, jangan sembarangan nuduh kamu!" ucap Mawar tampak salah tingkah.
Maharani menghampirinya lalu mengambil tangan Mawar, melihat lebih seksama lagi gelang tersebut.
"Nggak usah bohong kamu!" ucap Maharani.
__ADS_1
Mawar mengibaskan cepat tangan Maharani. "Ngapain aku bohong, aku memang bukan pelakunya kok, jangan asal nuduh kamu! Kalau nggak ada buktinya!"
"Ada apa ini?" tanya Sadewa dengan mimik muka serius.
Sadewa baru saja tiba bersama Supri dan Bejo.
Maharani dan Mawar menoleh.
"Dewa!" Mawar terlihat gembira melihat kedatangan Sadewa.
Secepat kilat dia mendekati pujaan hatinya itu, namun belum sempat di dekat Sadewa. Sadewa malah melewati Mawar begitu saja dan menghampiri Maharani.
Mawar geram sendiri. Lalu menghentak-hentakkan kakinya.
"Kamu nggak kenapa-kenapa?" tanya Sadewa sambil menangkup kedua pipi Maharani.
Astaga ular nagabonar, dia tahu nggak sih, kalau sekarang lagi di depan umum.
Maharani dibuat melayang-layang dengan perhatian yang diberikan Sadewa sekarang.
"Rani, kok diam?" tanya Sadewa tanpa berniat menurunkan tangannya.
"Kita mah apah atuh, upilnya kerbau," cerocos Bejo kemudian menyenggol lengan Supri.
"Bos, ingat masih ada kami di sini, mesra-mesraannya nanti aja." Supri menimpali.
Dengan cepat Sadewa menurunkan tangannya lalu mundur beberapa langkah.
Sadewa dan Maharani tampak salah tingkah.
"Aku nggak apa-apa kok, Dewa. Cuma ribut dikit sama cewek gila ini, dia bilang sama aku untuk jauhin kamu." Maharani melirik Mawar.
Sadewa mengalihkan pandangan ke arah Mawar. "Kamu siapa? Apa hak kamu? Pacar juga bukan!"
Mawar kalang kabut saat melihat tatapan mematikan Sadewa saat ini. Untuk pertama kalinya, ia mendengar pujaan hatinya berkata dengan nada dingin dan ketus.
"Aku..." Maharani langsung menundukkan mukanya, tak berani menatap Sadewa.
Para gadis lainnya pun tak berani ikut campur urusan Mawar kini. Sedari tadi mereka memilih bungkam. Apalagi suasana saat ini di sekitar mereka begitu mencekam.
__ADS_1
"Ya elah si bos, tadi katanya bilang sama Rani kalau bos pacar Dewa, di depan orangnya sendiri kok nggak berani." Tanpa melihat situasi dan kondisi, Sari mengeluarkan suara lagi.
Mawar melototkan mata ke arah Sari seketika.
"Wih! Sejak kapan Dewa punya pacar? Kok kita nggak tahu, anak pak RT lagi nih," cetus Bejo tersenyum smirk.
"Iya, kok diam-diam si bos, eh tapi tunggu dulu, selera bos mah bukan kayak gini," ucap Supri.
Wajah Mawar terlihat merah padam. Menahan malu karena tak ada yang mau membantunya.
Suasana mendadak aneh sekarang.
"Dewa, bukannya aku memperkeruh keadaan, gelang yang cewek ini pakai mirip banget sama orang yang aku lihat di hutan semalam, walaupun nggak jelas aku yakin dia pelakunya!" seru Maharani tiba-tiba.
Sadewa menatap tajam Mawar seketika.
"Jangan sembarangan nuduh kamu! Aku udah bilang tadi, bukan aku pelakunya! Kamu pikir yang punya gelang kayak gini cuma aku aja di sini, ya nggak lah! Lagian kamu bisa aja salah lihat! Memangnya untuk apa aku nyakitin kamu!" seru Mawar berapi-api.
Maharani tersenyum sinis. "Ya karena cemburu sosial karena kamu panas kan lihat aku sama Dewa tadi dekat-dekat."
"Tapi sayangnya kamu nggak punya bukti, bisa aja yang nyakitin kamu itu bukan aku!" sergah Mawar dengan meninggikan suara.
Maharani mendengus pelan sambil menaikan sebelah alis matanya.
"Guys, ayo kita pergi sekarang dari sini." Mawar mengajak teman-temannya untuk berlalu dari gubuk tersebut. Dia tak mau berlama-lama di sini.
Meninggalkan Maharani, Sadewa, Supri dan Bejo melemparkan pandangan satu sama lain.
"Kamu yakin gelang yang kamu lihat semalam sama kayak gelang Mawar?" Setelah melihat Mawar dan para gadis desa menjauhi gubuk, Sadewa mendekati Maharani.
"Iya, aku yakin banget, Dewa. Walaupun kurang jelas, aku yakin cewek itu pelakunya, lihat aja dia, ngaku-ngaku jadi pacar kamu. Pasti dia cemburu sama aku, padahal kan kita hanya temanan," ucap Maharani tanpa memikirkan perasaan Sadewa yang sebenarnya berharap hubungan keduanya bukan hanya sebatas teman saja.
Sadewa memegangi pundak Maharani. "Kalau memang iya, kita harus laporin ke Pak RT."
Maharani mengangguk sebagai tanda setuju.
"Tapi bos, kan pak RT bapaknya Mawar, terus kita juga nggak punya bukti," kata Supri kemudian.
Maharani menarik napas panjang, karena baru saja sadar jika ia tak memiliki bukti atas kejahatan Mawar. Dia tampak berpikir keras sejenak, sedang mencari akal agar Mawar dapat diberikan sanksi setidaknya. Sebab tindakan Mawar sudah termasuk pembunuhan berencana. Bagaimana kalau dia tak ditemukan semalam dan berakhir menghembuskan napas terakhir di hutan. Membayangkan hal tersebut, Maharani bergedik ngeri sendiri jadinya.
__ADS_1
"Tenanglah, aku akan mencari bukti, kamu tenang saja Rani, sekarang kamu duduk lagi, aku sama Supri dan Bejo mau bajak sawah dulu," ucap Sadewa, membuyarkan lamunan Maharani seketika.