Kepentok Cinta Petani Tampan

Kepentok Cinta Petani Tampan
~ Perkelahian di Sawah


__ADS_3

"Hati-hati ya, maaf Bude hari ini nggak ikut ke sawah," ucap Bude di depan pintu rumah, hendak melihat Maharani dan Sadewa pergi ke sawah.


"Iya Bude, Dewa ke sawah dulu ya." Sadewa melemparkan senyuman sejenak pada Bude Sri.


"Iya, hati-hati."


"Daaa, Bude!" Sebelum berjalan, Maharani melambaikan tangan ke arah Bude Sri sejenak.


Bude Sri pun membalas lambaian tangan Maharani sambil tersenyum hangat. Menatap kepergian Sadewa dan Maharani di depan sana.


"Semoga saja Sadewa bisa ngebuat Rani berubah," gumam Bude Sri pelan.


***


Di sepanjang jalan, Sadewa dan Maharani tak mengucap satu patah katapun. Keduanya hanyut dalam pemikiran masing-masing. Dengan jarak 1 meter, keduanya berjalan beriringan.


Sesekali Maharani terlihat curi-curi pandang ke arah Sadewa, yang mukanya nampak serius sekarang. Pria itu tengah menghalau sinar matahari masuk ke matanya dengan satu tangannya.


"Kamu dekat ya sama Bude?" kata Maharani tiba-tiba.


Sadewa menoleh ke samping. "Lumayan, Bude Sri itu orangnya baik banget, sama kayak mendiang suaminya dulu."


Maharani nampak mangut-mangut sejenak.


"Aku nggak pernah ketemu suaminya Bude," ucap Maharani apa adanya. Sebab dia memang tak pernah melihat batang hidung pamannya itu secara langsung. Entah apa yang terjadi di keluarga Papinya, Maharani sendiri pun tak tahu.


Sadewa mengerutkan dahi. "Kok bisa? Bukannya kamu keponakan Bude."


Maharani malah nyengir sedikit, lalu mengedikan bahunya sedikit. Menandakan dia pun bingung mau menjawab apa.


"Sebenarnya aku juga bingung kalau Bude Sri itu ternyata punya keponakan di Jakarta, maaf kalau aku terlalu ikut campur," Sadewa berkata dengan hati-hati, takut menyinggung perasaan Maharani.


"Jangan kan kamu, aku aja bingung dan baru nyadar kalau punya Bude yang tinggalnya jauh dari aku. Kata Bude dulu sih aku pernah main ke sini tapi pas aku masih kecil dan aku nggak ingat sama sekali dulu," ucap Maharani menatap lurus ke depan.


Sadewa melirik Maharani sekilas. "Terus, sekarang kenapa kamu ada di sini?" tanyanya sedikit penasaran dengan kehidupan Maharani. Semenjak mengungkapkan perasaan semalam tanpa sepengetahuan Maharani. Wajah wanita itu selalu hadir di benak Sadewa hingga membuat perasaan ingin dekat selalu menghantuinya.


"Hehe, kepo ya." Maharani tersenyum lebar. Untuk sekarang dia tak mau Sadewa sampai tahu kalau dirinya tengah di hukum Papinya akibat perbuatannya. Walaupun sudah menganggap Sadewa teman, tapi Maharani sedikit berhati-hati dalam berbagi cerita.


"Ya udah deh, kalau nggak mau bilang, nanti aku cari tahu sendiri," ucap Sadewa sambil mengambil topi dari kepala Maharani dan mengangkat topi tersebut ke udara tinggi-tinggi.


"Ish, Dewa! Kembaliin topiku, panas tahu! Nanti kulit aku hitam," celetuk Maharani kemudian melompat-lompat kecil hendak meraih topinya.


"Biarin, aku mau lihat kamu hitam." Sadewa tersenyum jahil melihat tingkah Maharani saat ini.


"Dewa kembaliin!" Maharani merengek tanpa menghentikan loncatannya sedari tadi. "Please, Dewa, nanti kalau aku hitam, nggak ada yang mau sama aku!" serunya lagi lalu akhirnya berhenti melompat saat merasa lelah menyerangnya tiba-tiba.

__ADS_1


"Pasti ada nanti yang mau sama kamu, walaupun kamu hitam legam!" Sadewa tersenyum tipis sambil menurunkan topi seketika.


Dengan napas terengah-engah, Maharani bertanya,"Siapa?"


Sadewa tak langsung menjawab, malah menaruh kembali topi di kepala Maharani dan menatap lekat-lekat mata wanita di hadapannya itu.


"Dewa, siapa?" Maharani mengulangi pertanyaanya lagi. Entah mengapa tatapan Sadewa saat ini membuat ia berhenti bernapas sejenak.


Sadewa memajukan wajahnya, secara bersamaan pula Maharani memundurkan kepalanya.


Wah ini cowok bahaya banget, nggak mungkin dia mau cium gue kan.


"Ka-mu mau a-pa?" tanya Maharani terbata-bata.


Sadewa malah mendekatkan bibirnya di telinga Maharani. "Aku," ucapnya lalu berjalan cepat ke depan, meninggalkan Maharani yang terpaku di tempat.


"Ha? Dia ngomong apa tadi? Aku? Maksudnya dia yang suka sama aku gitu kalau aku hitam..." gumam Maharani pelan. Lalu menggelengkan cepat kepalanya.


"Astaga Rani! Sadarlah, bisa saja lu salah dengar, lagian mana ada cowok suka sama cewek yang hitam legam, mereka kan suka yang putih-putih kayak bihun," ucap Maharani pada diri sendiri.


"Rani! Kata nggak mau hitam, ayo kita harus cepat ke sawah!" seru Sadewa di depan sana. Sedari tadi memperhatikan tingkah Maharani.


Maharani menoleh. "Eh iya, iya." Lalu berlarian mendekati Sadewa.


Tak butuh waktu yang lama, Maharani dan Sadewa sudah sampai di sawah.


Dari kejauhan, Maharani tak mengedipkan matanya, memperhatikan Sadewa tengah sibuk dengan padinya. Rasa kagum merasuk ke dalam hatinya saat melihat betapa gigihnya Sadewa berkerja.


"Kalau di pikir-pikir, Dewa ganteng banget ya, kalah jauh sama Tomi si brengsek itu, kalau di Jakarta, dia pasti udah jadi selebgram."


Maharani menopang dagunya dengan tangannya tanpa berniat mengalihkan pandangan dari makhluk paling seksi di depan sana.


"Rani!" seru Sadewa sambil menepuk pundak Maharani.


Maharani terkesiap seketika. Keasikan melamun membuat dia sampai tak sadar kalau Sadewa ada di depan matanya sekarang.


"De-wa, sejak kapan kamu di sini?" tanya Maharani salah tingkah. Dia langsung bangkit berdiri.


"1 abad yang lalu," cerocos Sadewa sambil tersenyum jahil.


Maharani memanyunkan bibir sejenak. "Lama amat," ucapnya lalu ikut tersenyum juga.


"Rani."


"Iya? Kenapa?" Maharani kebingungan mendengar Sadewa tiba-tiba memanggil namanya.

__ADS_1


"Jangan senyum-senyum," ucap Sadewa.


Maharani mengerutkan dahi. "Lah memangnya kenapa?"


Senyumanmu mengalihkan duniaku.


Sadewa tersenyum tipis. "Kalau senyum kamu jelek banget tahu!"


Maharani melototkan mata seketika. Lalu melipat kedua tangannya di dada. "Ish! Nyebelin banget sih kamu! Kamu orang pertama yang bilang aku jelek!"


"Masa sih? Udah jangan marah-marah nanti tambah jelek." Sadewa mencubit gemas pipi Maharani seketika.


"Habisnya kamu sih, buat aku bete." Maharani tersipu malu karena Sadewa menyentuhnya pipinya barusan. "Udah selesai bajak sawahnya?" tanyanya kemudian.


"Belum, aku mau ke rumah Supri dan Bejo dulu, kayaknya mereka lupa deh, kamu tunggu di sini sebentar ya," ucap Sadewa.


"Ohh, oke, jangan lama-lama ya, nanti aku jadi ikan asin." Maharani duduk kembali.


"Iya bawel, aku nggak lama, jangan kemana-mana di sini aja."


Maharani mengangguk. Kemudian Sadewa berlalu pergi dari hadapannya.


Prok, prok, prok!


Setelah Sadewa menjauhinya, tiba-tiba terdengar suara tepuk tangan di belakang Maharani. Secepat kilat ia memutar kepala. Melihat para gadis desa melayangkan tatapan tajam ke arahnya.


Ada apa lagi nih?


Maharani beranjak dari tempat duduk dan menatap dingin pula pada sekumpulan wanita di hadapannya.


"Wah bos, kayaknya cewek cantik ini nggak takut sama bos." Sari menatap penuh kagum wajah Maharani.


"Diam Sari!" bentak Mawar sembari melirik sinis Sari sekilas.


Sari tersentak hingga latah-latah sejenak.


"Ada perlu apa?" Setelah mendengar Sari selesai latah, Maharani membuka suara.


"Cih! Pakai di tanya lagi!" Mawar mendekati Maharani, kemudian menaikan sebelah alis matanya.


"Iya harus di tanyalah, emangnya aku cenayang bisa tahu isi hati kamu!" seru Maharani dengan muka sengaknya.


"Heh, ngelawan kamu ya, kamu nggak tahu siapa aku?"


Maharani malah tertawa mendengar ucapan gadis yang sama sekali dia tidak tahu namanya itu.

__ADS_1


"Aduh, sok artis banget, kenal juga kagak! Langsung to the point aja! Ada keperluan apa sama aku?" Maharani membusungkan dadanya seketika sambil melayangkan tatapan mematikan pada wanita yang tubuhnya lebih pendek darinya sekarang.


Mawar meradang, melihat sikap Maharani yang tak ada takut-takutnya sama sekali. "Jauhin Dewa! Dewa itu pacar aku!"


__ADS_2