Kepentok Cinta Petani Tampan

Kepentok Cinta Petani Tampan
~ Nggak Peka


__ADS_3

Saat makan bersama, Maharani jadi salah tingkah di buatnya. Sadewa curi-curi pandang ke arahnya.


"Dewa, lihatin pacarku jangan gitu-gitu amat deh!" ucap Bejo dengan mulut penuh makanan. Sedari memperhatikan gelagat Sadewa.


Mereka yang tengah sibuk makan, mengerutkan dahi. Kebingungan dengan perkataan Bejo.


Sadewa menelan makanannya seketika. "Ngomong apa Jo, makan dulu, nanti ngomongnya," ucapnya lalu melirik Maharani lagi sekilas.


Dewa ngelihatin apa sih? Perasaan mataku nggak ada belek, apa ada jerawat di mukaku ya?


Monolog Maharani dalam hati sembari memasukan makanan ke mulutnya lagi.


Selang beberapa menit, akhirnya mereka pun sudah selesai menyantap makanan yang disuguhkan tuan rumah. Selagi Bude Sri mencuci piring di dapur. Dia pun menyuruh Maharani untuk menemani tamu sebentar di ruang depan.


Dengan sabar Maharani duduk bersila di dekat dinding yang berjarak beberapa meter dari Sadewa, Supri dan Bejo.


"Ah kenyangnya, ohkm!" Bejo nyengir kuda saat mengeluarkan sendawa barusan.


"Astaga Jo, joroknya, jaga image di depan ada cewek!" seru Supri sambil menabok pundak Bejo.


"Hehe, maaf ya Rani." Bejo merekahkan senyuman.


Enggan menanggapi, Maharani malah memalingkan muka dan tanpa sengaja matanya bertubrukan langsung dengan mata elang Sadewa.


Ini cowok benar-benar dah, maunya apa sih?


Secara bersamaan pula detak jantung Maharani berdegup kencang. Secepat kilat ia menolehkan mata ke sisi lain.


"Haha, kasihan deh si Bejo dicuekin!" celetuk Supri sambil menoyor kepala Bejo.


"Sabar Sup." Sadewa merekahkan senyuman hingga menampakan lesung pipitnya sedikit.


Maharani terkesima sejenak, melihat wajah Sadewa yang nampak manis menurutnya sekarang.


Lumayan, hehe, eh Rani sadarlah!


Maharani kembali bergelut dengan batinnya.


"Maaf ya lama nungguinnya, Bude sudah selesai, sebentar lagi kita ke sawah." Bude Sri menyembul tiba-tiba di balik pintu yang terhubung antar ruangan.


Maharani menghela napas, melihat kedatangan Bude Sri.


"Kita? Panas-panas gini ke sawah Bude?" tanya Maharani sedikit panik.


"Iya, nggak terlalu panas kok Nduk, tenang, nanti kamu tungguin Bude di tepi sawah saja," ucap Bude Sri sambil mengambil topi di dinding dan menyodorkan benda tersebut pada Maharani. "Nah pakai ini, biar kepala kamu nggak kepanasan."


Maharani menyambar topi dari tangan Bude Sri. "Terima kasih Bude," ucapnya sambil menaruh topi dikepalanya.


"Manis banget kamu Dek Ayu, gitu dong, sering-sering senyum, biar Mas semangat cari uangnya," kelakar Bejo tiba-tiba lalu melirik Sadewa sekilas.


Maharani malah melototkan mata ke arah Bejo.

__ADS_1


"Hiii takut!" Bejo berlindung di belakang tubuh Sadewa seketika saat Maharani bangkit berdiri, melayangkan tatapan tajam kearahnya.


Bude Sri terkekeh pelan, melihat tingkah keduanya.


"Rani, Bejo cuma bercanda kok, ya udah yuk kita ke sawah, kalian tunggu di depan, Bude mau ke kamar sebentar," ucap Bude Sri kemudian berjalan cepat menuju kamarnya.


"Oke Bude." Sadewa pun beranjak dari lantai dan memberi kode pada Supri dan Bejo untuk keluar. Kemudian beralih menatap Maharani.


"Rani, ayo kita keluar, maaf ya Bejo memang anaknya rada-rada sengklek, nggak usah dimasukin ke hati," Sadewa berkata sambil tersenyum lebar. Membuat jantung Maharani cenat-cenut dibuatnya lagi.


"Hmm, iya," sahut Maharani dengan pelan. Sambil menetralisir perasaannya yang tak karuan sekarang. Dia pun mulai mengekori Sadewa dari belakang.


Selang beberapa menit, Maharani, Bude Sri, Sadewa dan kawan-kawannya pergi ke sawah bersama-sama. Di sepanjang jalan, Maharani memegangi dadanya yang masih berdegup tak beraturan.


"Dada kamu kenapa?"


Maharani terkesiap saat melihat Sadewa ada di sampingnya. Dia tampak salah tingkah. Kepalanya celingak-celinguk ke depan, melihat Bude Sri, Supri dan Bejo tengah bercengkrama dengan jarak beberapa meter dari mereka sekarang. Seingatnya tadi Sadewa di depan pula bersama mereka.


"Kamu sakit?" tanya Sadewa lagi tanpa mengedipkan mata sama sekali, melihat wajah Maharani.


"Emm, nggak kok, hehe." Maharani menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sejenak.


"Baguslah, aku pikir kamu sakit, soalnya hari ini lumayan panas, kalau sakit kamu istirahat saja di rumah," ucap Sadewa sambil tersenyum.


"Dewa!" Bukannya memberi tanggapan, Maharani malah memanggil namanya Sadewa tiba-tiba.


"Iya, kenapa?" Dahi Sadewa berkerut kuat sekarang.


"Jangan senyum! Aku nggak suka lihat kamu senyum!" seru Maharani seketika.


Senyuman lu ngebuat gue diabetes, Dewa!


Balas Maharani tapi hanya di dalam hatinya saja.


"Pokoknya aku nggak suka, nggak ada alasan aku nggak suka sama senyuman kamu, tiba-tiba aja aku nggak suka." Maharani memberikan alasan yang membuat Sadewa semakin bingung dan penasaran.


"Oke deh, aku nggak senyum lagi, tapi aku nggak janji ya." Sadewa kembali tersenyum tipis.


"Dewa! Ternyata kamu nyebelin ya!" sahut Maharani sambil mengerucutkan bibir dengan sangat tajam.


Sadewa malah tertawa pelan, mendengar perkataan Maharani. Pria itu sampai-sampai memegangi perutnya.


Di penglihatan Maharani, Sadewa benar-benar mempesona sekarang. Ditambah lagi lesung pipit Sadewa menyembul keluar, membuatnya semakin bertambah tampan.


Bahaya nih cowok, lama-lama bisa overdosis gue.


"Cie, cie yang lagi pdkt, bagai dunia milik berdua," sahut Supri, melihat interaksi antara Sadewa dan Maharani.


Bude Sri dan Bejo terkikik pelan di depan sana.


"Diam Sup Sup!" Sadewa menghentikan tawanya sejenak. Lalu menoleh ke arah Maharani. "Rani, ada belek tuh di mata kamu," ucapnya sambil menaikan sedikit topi Maharani.

__ADS_1


Semburat merah muncul seketika di pipi Maharani. "Ha? Mana?" ucapnya sambil mengusap-usap matanya.


Sadewa mengulum senyumannya melihat wajah panik Maharani sekarang.


"Ish! Nggak kok! Kamu sengaja ya ngerjain aku?" tanya Maharani setelah puas menyentuh matanya yang tidak ada belek sama sekali ternyata.


"Ada tuh dimata sebelah kiri kamu." Dengan muka tanpa dosa, Sadewa menggeleng cepat lalu mengambil cepat topi Maharani dan berkata," Tapi Bohong!" Lalu berlarian ke depan, meninggalkan Maharani yang tengah menghentak-hentakkan kakinya ke tanah.


"Dewa! Awas aja kamu!" Maharani berseru sambil menggejar Sadewa.


*


*


*


Kini, mereka sudah tiba di hamparan sawah di tengah-tengah di desa. Tampak Bude Sri, Sadewa dan Supri sedang mengerjakan tugasnya masing-masing. Sementara Maharani duduk di tepian sawah, memperhatikan dari kejauhan apa yang mereka lakukan.


Sesekali Maharani melihat Sadewa sedang sibuk menanam padi di sawah. Dia sampai lupa mengedipkan matanya sedari tadi.


"Dor!"


"Ahk!" Maharani terlonjak kaget saat tiba-tiba seseorang menepuk kedua pundaknya. Dengan cepat ia menoleh, melihat Bejo naik ke tepian sawah dan berdiri di sampingnya. "Apaan sih, Jo!"


"Haha! Maaf, maaf, habisnya kamu lihatin Sadewa segitu amat, naksir ya?" tanya Bejo sambil berkacak pinggang.


"Ish! Nggak tuh," sergah Maharani seketika.


"Masa sih? Nggak yakin deh, kamu orang pertama yang bilang nggak suka sama Dewa, tuh kamu lihat di sana!" Bejo menunjuk ke sisi kanan sawah, memperlihatkan para gadis-gadis desa berjejeran memperhatikan Sadewa sedari tadi.


Maharani menoleh.


Anjir! Ngapain mereka? Kayak ngelihat artis aja, apa Dewa sepopuler itu.


"Memangnya Dewa harus disukai semua cewek-cewek gitu?" ucap Maharani kemudian.


"Nggak juga sih, tapi aku senang loh, karena kamu jadi aku bisa lihat Dewa sering senyum." Raut wajah Bejo berubah menjadi serius.


"Maksudnya?" tanya Maharani, heran.


"Haha, cewek bisa juga nggak peka ya ternyata," ucap Bejo tanpa menatap lawan bicara


Dahi Maharani semakin berkerut kuat sekarang. Entah mengapa seakan ada magnet, ia menolehkan mata ke depan dan tanpa sengaja matanya bertubrukan langsung dengan mata Sadewa, yang kini pria itu melemparkan senyuman lebar ke arahnya.


Deg!


Maharani membeku di tempat.


"Ahkkkk! Dewa!"


"Ya ampun, Dewa senyum guys!"

__ADS_1


"Mungkin dia terhipnotis dengan kecantikanku ini!"


Di ujung sana para gadis-gadis desa mencak-mencak sendiri, melihat wajah Sadewa yang manis bagaikan gula sekarang.


__ADS_2