Kepentok Cinta Petani Tampan

Kepentok Cinta Petani Tampan
~ Perubahan Sikap


__ADS_3

Di dalam kamar.


Maharani terisak pelan di bawah gulungan selimut. Dia tak mampu menyembunyikan kecewaannya pada Papinya itu. Perasaannya kian tak menentu sekarang. Sebab dia yakin sekali Papinya pasti akan memaksa pulang meski ia menolak. Sempat terlintas dibenaknya untuk kabur sekarang dan bertemu Sadewa. Namun, dia tak mau membebani Sadewa sebab tadi malam Maharani mendapat kabar kalau Ibu Sadewa tengah sakit keras.


"Mami..." lirihnya pelan dengan berlinang air mata. Maharani nampak sesenggukan sejenak.


Seandainya saja Maminya tak pergi, mungkin saja Maharani akan bahagia saat ini. Tapi itu hanyalah angan-angannya saja sebab Tuhan sudah membuat suratan takdir untuk dirinya. Namun, saat menetap di desa, Maharani mendapatkan kebahagiaan dari Bude Sri dan orang di sekitarnya. Meski, tak ada kemewahan yang ia dapatkan selama ini. Tapi Maharani amat senang dan bersyukur tinggal di desa bersama Bude Sri.


"Rani," panggil Bude Sri sambil duduk pelan di tepi ranjang Maharani.


Maharani tak menanggapi panggilan Bude Sri. Dia masih terisak pelan, melampiaskan luapan emosinya saat ini.


Bude Sri menghela napas kasar. Hatinya teriris saat mendengar tangisan Maharani yang amat pilu.


"Rani yakin mau tinggal di sini?" tanyanya sembari membuka gundukan selimut Maharani.


Maharani enggan menyahut. Kedua pipinya sudah basah dengan genangan air mata dan dadanya nampak naik dan turun. Ketika Bude Sri menyingkap selimutnya, ia langsung menutup matanya.


"Rani," ucap Bude Sri menatap nanar wajah Maharani saat ini. "Kembalilah ke Jakarta Rani, sebenarnya Bude juga tidak rela kamu meninggalkan di desa ini, kehadiran kamu di sini membuat Bude merasa tidak kesepian lagi, Bude sayang sama Rani, Bude sudah menganggap Rani sebagai anak kandung Bude sendiri. Tapi apa boleh buat, perkataan Papi kamu benar, kamu harus melanjutkan sekolah kamu di sana."


Maharani membuka perlahan kedua matanya. "Tapi Bude, Rani nggak mau ke sana, di sana Rani diperlakukan tidak adil sama Papi. Rani nggak mau Bude... Rani bakalan sekolah kok, tapi bukan sekarang tunggu Rani ngumpulin duit sendiri," ucapnya dengan suara serak.


"Rencana kamu bagus tapi alangkah lebih baiknya kamu lanjutin sekolah sekarang, kamu nggak mau kan ketinggalan mata kuliah, tadi Bude sudah kasi tahu Papimu untuk lebih memperhatikan kamu." Dengan sabar Bude Sri membujuk Maharani agar mau kembali ke Jakarta.


Maharani tak menyahut. Dia mengalihkan pandangan keluar jendela, melihat dedaunan di atas pohon tengah meliuk-liuk terkena terpaan angin di sekitar.


"Rani, setelah kamu menempuh pendidikan, kamu bisa ke sini tinggal bersama Bude. Katanya kamu mau jadi orang sukses, ayo buktikan ke Bude dan buktiin ke mama tiri kamu itu," ucap Bude Sri masih berusaha membujuk keponakannya.

__ADS_1


Maharani terdiam sejenak. "Bude, Mirna bisa nggak sih di kirim ke planet ke pluto," ucapnya serius.


Bude Sri terkekeh pelan, mendengar perkataan Maharani barusan. "Jangankan ke planet pluto, planet yang lain juga boleh, apa gara-gara Mirna kamu nggak mau ke sana?"


"Iya Bude, si ular itu selalu bermuka dua, Papi selalu membelanya daripada aku," ucap Maharani sambil mengusap air matanya.


"Maka dari itu, jangan kalah dari dia, malahan Bude takut kalau rumah akan dikuasai Mirna, apalagi Mirna itu orangnya licik, dia akan melakukan segala cara untuk mendapatkan apa yang dia inginkan, kamu lihat saja tadi dia, waktu kamu bilang mau tinggal di sini, dia seperti senang dengan keputusanmu," kata Bude Sri panjang lebar. Menebak ada sesuatu di balik pembelaan Mirna tadi, yang malah mengiyakan perkataan Maharani.


Maharani tertegun. "Iya juga ya Bude, si ular itu kok malah senang aku di sini..." ucapnya dengan lirih. "Tapi Bude kalau aku di sana nanti Dewa gimana?"


"Astaga, jadi kamu sedih karena nggak mau berjauhan dengan Dewa?"


"Iya itu alasan kedua karena Dewa juga Bude, kalau aku di Jakarta, dia di sini sendirian dong, nanti dia selingkuh dari aku," ucap Maharani sambil memanyunkan bibir.


"Nduk, Dewa pasti mengerti dengan keputusan kamu, dia pria yang dewasa Nduk, Dewa bukanlah pria seperti itu, percaya sama Bude. Asal kamu tahu ya, dulu Bude juga pacaran long distance sama suami Pakde, tapi walaupun LDR Bude dan Pakde akhirnya menikah juga kan, yah meskipun sekarang kami udah beda alam," ucap Bude Sri tersenyum miris.


Bude Sri mengurai pelukan. "Nggak apa-apa, Bude malah senang kalau mengingat-ingat dia, nah sekarang Rani pulang ke Jakarta ya. Kalau udah sukses, kembalilah ke sini."


"Iya Bude, Rani janji bakalan ke sini, oh ya, Rani bisa minta tolong sampaikan ke Dewa kalau Rani ke Jakarta, Rani mau hubungi Dewa nggak bisa, soalnya handphone Rani kemarin jatuh ke air." Setelah menimbang-nimbang, Maharani akan kembali ke Jakarta dan belajar benar-benar menjadi orang sukses. Berharap pula Sadewa dapat menunggunya di sini.


"Iya nanti Bude sampaikan ya, ayo sekarang siap-siap, mandi dulu gih," ucap Bude Sri sambil mengusap pelan rambut panjang Maharani.


"Iya Bude."


*


*

__ADS_1


*


Maharani menatap nanar Bude Sri yang tengah melambaikan tangan kepadanya dari depan pintu rumah saat ini.


"Bye Bude, Bude minggu depan ke Jakarta ya," ucap Maharani sambil melambaikan tangan pada Bude Sri.


Bude Sri enggan menyahut. Dia hanya melemparkan senyum manisnya saja. Maharani menarik napas panjang kala mobil mewah yang ditumpangi sekarang, menjauhi rumah Bude Sri.


Tunggu Rani ya Bude, Rani bakalan jadi orang sukses, nanti Rani bawa Bude ke Jakarta, hm aku yakin banget pasti ada sesuatu yang ngebuat Bude nggak bisa ke Jakarta.


Dan untuk kamu, Dewa, aku harap kamu bisa menungguku, aku sayang kamu, Dewa.


Maharani berucap di dalam hati sambil melihat pemandangan perkampungan dari dalam jendela mobil.


Beberapa jam kemudian, mobil mewah berwarna hitam itu sudah sampai ke tempat tujuan. Begitu ban mobil berhenti bergerak, tanpa banyak kata Maharani keluar turun dari mobil kemudian mengambil tasnya sendiri di bagasi dan melangkah masuk ke dalam rumah. Meninggalkan Samsul, Mirna dan Dono saling melemparkan pandangan.


"Wah, wah, sudah datang lu!" seru Rara seketika saat melihat Maharani menyeret koper hendak ke lantai dua.


Tomi langsung bangkit berdiri, melihat kedatangan Maharani. Dia tak mengira akan bertemu Maharani kembali. Jauh di lubuk hatinya, dia masih mencintai Maharani.


Langkah kaki Maharani terhenti. Dia menatap datar Rara dan Tomi secara bergantian. "Ya aku sudah datang, ada masalah?"


Rara mengerutkan dahi, mengapa tutur kata Maharani berubah drastis. "Kesambet setan lu!" serunya sambil melangkah cepat mendekati Maharani.


"Nggak, udah ya aku mau ke atas, istirahat dulu Ra, aku capek banget," sahut Maharani lalu kembali melangkah cepat ke depan.


Rara melonggo sejenak. Tak mampu berkata-kata lagi sekarang sebab sikap Maharani yang berbeda. Bukankah seharusnya Maharani marah karena dia dan Tomi akan menikah sebentar lagi.

__ADS_1


__ADS_2