
Suasana di sekitar mereka, membuat jiwa muda Maharani dan Sadewa bergejolak seketika. Dalam hitungan detik, entah karena bisikan setan atau apa, Sadewa memajukan wajahnya hendak mencium Maharani. Dan Maharani oun tanpa sadar menutup kedua matanya perlahan-lahan.
Jedar!!!
Kilatan kembali terdengar di atas sana.
Maharani tersentak lalu mendorong kuat dada Sadewa hingga pria itu terlentang di lantai.
Sadewa meringis pelan sesaat.
"Rani! Dewa!"
Secara bersamaan pula terdengar suara Supri dari luar gubuk. Keduanya tampak salah tingkah.
Maharani bangkit berdiri tiba-tiba. Begitupula dengan Sadewa.
"Aduh maaf ya Dewa, baru bisa ke sini, aku baru aja selesai rapat di balai, tadi Bude Sri minta tolong sama aku jemput kalian bawain payung juga nih." Supri menyembul dari balik pintu kecil tersebut sambil membawa payung di tangannya.
"Ya Sup, sebenarnya kalau lama-lama juga nggak apa-apa," ucap Sadewa sembari melirik Maharani sekilas, yang pipinya nampak merah merona sekarang.
"Ayo kalian ngapain tadi?" Supri menatap curiga ke arah Sadewa dan Maharani secara bergantian. Apalagi Sadewa tak memakai pakaian sama sekali kini.
"Nyanyi! Udah tahu neduh, masih ada di tanya, jangan curiga kamu, Sup. Baju aku tadi basah jadinya aku lepas."
"Masa?" Supri melemparkan senyum jahil.
"Masak di dapur, Sup! Masih hujan deras nih kita tunggu lima menit lagi," kata Sadewa.
"Sekarang aja, Dewa. Aku mau cepat pulang ke rumah, kasihan Bude sendirian," Maharani berkata tanpa menatap lawan bicaranya. Dia ingin segera cepat pulang ke rumah. Sebab dia tak mampu membendung perasaannya yang membuncah di relung hatinya saat ini.
Maharani merasa sudah jatuh hati pada Sadewa.
"Yakin?" Raut wajah Sadewa terlihat muram.
"Iya Dewa, yuk Sup, aku sepayung sama kamu ya." Maharani melangkah cepat mendekati Supri.
__ADS_1
Sadewa menatap tajam Supri.
Supri auto kicep. Dia bingung sendiri jadinya. "Rani, kamu sama Dewa aja ya, badan aku besar nggak muat kalau berdua," kilahnya cepat.
Aduh, gimana nih, ahk!
Maharani bergelut dengan batinnya sejenak.
"Sup, sini payungnya." Sadewa menghampiri Supri dan mengambil payung yang di bawa temannya itu. Kemudian melangkah cepat' mendekati Rani.
"Ayo, jangan banyak bantah kamu!" seru Sadewa sambil menyambar tangan Maharani dan menuntunnya keluar dari gubuk.
Bagaikan sihir Maharani tak menolak sama sekali. Dia terpaku, matanya melihat tangannya tengah di genggam Sadewa saat ini.
"Sup, ayo!" Sadewa melirik Supri sekilas yang tengah senyum-senyum sendiri ke arahnya.
"Oke bos, hehe." Supri ikut keluar juga dari gubuk dan mengekori Sadewa dan Maharani dari belakang.
Di sepanjang jalan, Maharani menundukkan mukanya. Dia tak berani menatap ataupun mengajak Sadewa berbicara. Debaran di dada semakin berdegup cepat saat Sadewa mempererat genggaman tangannya saat ini.
"Dewa, kamu nggak kedinginan?" Entah setan apa yang merasuki Maharani saat ini. Sampai-sampai dia mengeluarkan suara dan melihat Sadewa di sampingnya yang tak memakai kaos sama sekali. Sebab pakaian pria itu ditinggalkannya di gubuk tadi.
Sadewa menoleh sekilas. "Nggak, cukup pegang tangan kamu, badan aku langsung hangat, makanya mulai dari sekarang jangan jauh-jauh dariku."
Aduh kenapa jantung gue cenat-cenut gini sih! Dewa, lu benar-benar ya!
Enggan menyahut, Maharani tanpa sadar melengungkan senyuman.
Dari samping, ekor mata Sadewa dapat melihat senyuman Maharani. Dia pun ikut tersenyum.
"Aduh malam ini aku jadi nyamuk! Nasib-nasib, coba ada Bejo!" seru Supri dari belakang. Sedari tadi dia memperhatikan gelagat Sadewa dan Maharani.
Sadewa menoleh sebentar. "Ora urus aku!" serunya lalu terkekeh pelan.
Selang beberapa menit, Maharani sudah tiba di rumah, bersamaan dengan itupula hujan pun reda. Setelah Sadewa dan Supri berpamitan padanya. Maharani langsung masuk ke kamar mandi.
__ADS_1
Selesai membersihkan diri dan makan malam bersama Bude Sri. Maharani memilih beristirahat di kamarnya.
"Anjir, gue hampir aja ciuman sama Dewa." Maharani menatap langit-langit kamar sambil membayangkan wajah Sadewa yang menari-nari dibenaknya sedari tadi.
Maharani mencak-mencak sendiri. Sebab hampir saja bercumbu mesra dengan Sadewa. Pikirannya sudah melayang kemana-mana sekarang. Dia
"Bisa gila gue, kalau tadi nggak ada guntur sama si Supri datang, mungkin gue udah..." Perkataan Maharani terjeda. Dia membalik badannya tiba-tiba lalu menutup kepalanya dengan bantal. "Ahk! Awas ya lu Dewa!"
Maharani tersenyum lebar. Walaupun dia pernah berpacaran bersama Tomi. Keduanya tak pernah berciuman bibir, hanya sebatas cium pipi saja dan tak lebih dari itu.
Tok, tok, tok.
Suara ketukan pelan dari jendela kayunya berhasil mengalihkan perhatian Maharani. Dengan dahi berkerut kuat, ia menoleh ke sumber suara.
"Hii apaan tuh? Nggak mungkin Bude Sri ada di luar, apa mungkin Miss K?"
"Rani," panggil seseorang dari luar tiba-tiba.
Maharani membuka bantal lalu terduduk di atas ranjang, tengah menajamkan indera pendengarannya.
"Rani, ini aku Dewa, buka jendelanya."
"Dewa?" Secepat kilat Maharani beranjak dari kasur dan berjalan cepat' mendekati jendela, kemudian membuka jendela.
"Dewa, ngapain di sini?" tanya Maharani, melihat Sadewa benar-benar ada di hadapannya sekarang.
"Ada yang mau aku omongin, ikut aku sebentar yuk," ucap Sadewa sambil mengulurkan tangan pada Maharani.
"Ha? Sekarang? Kemana? Di sini aja Dewa, nanti Bude marah kalau aku keluar malam-malam, lagian ini udah jam 9 loh."
"Makanya keluarnya diam-diam, ayo Rani, kamu nggak kasihan sama aku, sebentar aja ya." Sadewa menatap Maharani dengan sorot mata memelas.
Maharani kebingungan. Sebab dia takut Bude Sri akan memarahinya karena tak menuruti perintahnya.
"Ayolah, nggak lama kok, tenanglah Bude Sri udah tidur nyenyak pasti di kamarnya."
__ADS_1
"Oke deh." Akhirnya Maharani memutuskan menuruti permintaan Sadewa.