Kepentok Cinta Petani Tampan

Kepentok Cinta Petani Tampan
~ Menebus Kesalahan


__ADS_3

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali, matahari sudah muncul pelan di ufuk timur. Udara terasa amat dingin, hujan semalam, membuat suasana di sekitar desa tampak berembun.


Di sudut-sudut rumah sederhana beralaskan dinding kayu. Di kamar mini terlihat seorang wanita berambut panjang yang sedang tertidur pulas. Seketika secercah cahaya mentari masuk ke dalam kamarnya melalui jendela kecil, dia pun membuka perlahan kelopak matanya.


Maharani merasakan sakit disekujur tubuhnya tiba-tiba. Dia meringis pelan sambil menyentuh kepalanya yang saat ini dibalut dengan perban.


"Aduh sakit banget nih badan," gumam Maharani sambil mengerjap-erjapkan matanya. Dengan pelan dia terduduk di atas kasur tersebut lalu mengedarkan pandangan di kamarnya sejenak.


"Ternyata masih di kampung," ucap Maharani kemudian. Teringat kalau dia sekarang berada di kampung bersama Bude Sri.


Kedua mata Maharani membola sempurna saat baru saja teringat apa yang terjadi padanya semalam. Dia ingat kalau di pukul oleh seseorang yang tak dapat ia lihat wajahnya sama sekali. Namun, saat di hutan dalam keadaan setengah sadar ia mendengar ada dua orang wanita sedang berbisik-bisik dan melihat samar-samar gelang tangan salah satu si pelaku.


"Si@lan!" umpat Maharani, kesal.


"Rani! Sudah sadar kamu, Nduk?" Bude Sri menyelenong masuk ke dalam kamar saat mendengar umpatan Maharani barusan. Binar kebahagiaan tergambar jelas di wajah wanita itu kini.


Maharani menoleh. "Bude."


Bude Sri duduk di tepi kasur lalu mengelus pelan rambut Maharani. "Syukurlah, kamu baik-baik saja, Bude khawatir sekali sama kamu, apa kamu ingat Nduk siapa yang lakuin ini ke kamu, lihat kepalamu sampai berdarah begitu," ucapnya sambil menatap sendu.


Maharani menggeleng lemah. "Nggak tahu Bude, semalam pas di jalan di belakang ada yang pukul kepala Rani tiba-tiba, Rani nggak ingat Bude. Tapi waktu di hutan Rani ada dengar suara dua orang wanita bisik-bisik gitu Bude, udah gitu aja."


Bude Sri mendesah kasar. "Coba kamu ingat-ingat lagi Rani, ini udah termasuk kejahatan di desa, Pak RT semalam sampai ngeledah rumah para warga, apa kamu punya musuh Rani di sini?"


"Perasaan Rani nggak punya musuh deh di kampung, kan Rani belum lama tinggal di sini Bude. Lain dengan di Jakarta, musuh Rani mah banyak."


"Iya juga ya, terus siapa? Bude nggak tenang kalau pelakunya belum ketemu," ucap Bude Sri dengan raut wajah khawatir.


Maharani pun kebingungan sendiri, siapa yang menyakiti dirinya semalam dan apa motifnya.


"Rani, apa kamu ada mengatakan sesuatu sama orang-orang di kampung dan tanpa sadar kamu menyakiti hati mereka, orang di kampung sini mudah tersinggung orangnya, Rani," ucap Bude Sri masih dengan wajah cemas.


Maharani tampak berpikir keras. Lalu dia menggelengkan kepalanya.


"Bude!"panggilnya setengah berteriak tiba-tiba.


Bude terperanjat kaget. "Astaga Nduk, mau buat Bude mati jantungan apa," celetuknya sambil mengelus-elus dada.


"Hehehe, maaf Bude." Maharani malah nyengir kuda.


"Ada apa toh?" tanya Bude Sri.


"Yang selamatin Rani siapa Bude?" tanya Maharani penasaran.


Bude Sri menyunggingkan senyuman seketika. "Dewa."


Dewa? Nolongin gue?


"Baik kan dia, tadi dia datang ke sini nanyain kamu udah siuman apa belum, tapi dia balik lagi ke rumahnya, kamu harus berterima kasih sama Dewa. Berkat dia kamu bisa selamat, bayangin aja tuh hujan-hujan dia ke hutan cariin kamu dan gendong kamu sampai ke rumah, asal kamu tahu kaki Dewa sampai keseleo dan ada luka-luka pas nolongin kamu," jelas Bude Sri panjang lebar.

__ADS_1


Maharani terpaku di tempat. Tak menyangka yang menjadi penolongnya adalah Sadewa.


Kenapa gue merasa bersalah ya sama dia. Gue harus minta maaf atas perbuatan gue selama ini ke dia dan ucapin terima kasih.


"Rani, kamu dengar Bude ngomong kan?" Bude Sri menyentuh pelan punggung tangan kanan Maharani saat melihat keponakannya itu hanya diam saja.


Lamunan Maharani buyar seketika. "Hehe dengar Bude, nanti Rani ke rumah Dewa, bilang terima kasih sama dia."


"Baguslah, tunggu badan kamu enak aja ya, oh ya ini ada wedang jahe untuk kamu." Bude Sri mengambil cangkir di atas meja dan memberikannya pada Maharani.


Maharani menyambar cangkir berbentuk bulat lalu meneguk pelan air berwarna coklat keruh itu. Sensasi pedas bercampur hangat mengalir di tenggorokannya.


"Pelan-pelan Rani, enak kan?" tanya Bude Sri saat melihat Maharani meminum wedang jahe tersebut sampai tandas tak tersisa.


"Enak Bude, langsung segar badanku," celetuk Maharani sambil menaruh gelas di atas meja. "Bude, aku sekarang aja ke rumah Dewa."


"Loh, jangan sekarang, kamu belum sembuh Nduk." Bude Sri heran.


"Udah sembuh kok Bude. Nah lihat nih Rani bisa loncat-loncat di tempat tidur!" Secepat kilat Maharani bangkit berdiri dan melompat-lompat di atas kasur.


"Rani turun!" Bude Sri panik bukan main.


"Hehe." Dengan muka tanpa dosa, Maharani menghentikan gerakannya lalu duduk kembali di posisi semula.


"Kamu ini bandel ya!" Bude Sri menjepit hidung mancung Maharani seketika.


"Bude Sri!"


Suara seseorang di depan rumah, mengalihkan atensi Maharani dan Bude Sri seketika. Keduanya menajamkan pendengaran sejenak dan baru menyadari jikalau Sadewa ada di depan rumah.


"Tuh nggak perlu kamu samperin, Dewa udah ke sini, ke depan gih, pelan-pelan jalannya ya." Bude Sri mengelus pelan kepala Maharani.


Maharani mengangguk pelan sambil tersenyum simpul.


*


*


*


"Rani." Sadewa tak mengedipkan bola matanya saat melihat Maharani keluar dari dalam rumah.


Maharani tersenyum tipis. "Hai Dewa," ucapnya malu-malu.


"Hai, kamu udah sadar, kenapa kamu keluar? Apa badanmu masih sakit?" Sadewa menelisik tubuh Maharani dari atas sampai bawah.


Maharani melengkungkan senyuman lebar.


"Udah dong, nggak, aku udah sehat, Dewa. Berkat kamu, aku selamat, sebelumnya aku minta maaf Dewa, karena kemarin ngomong kasar sama kamu," Maharani berkata dengan tulus.

__ADS_1


Sadewa tersenyum hangat, mendengar permohonan maaf dari Maharani. "Kamu nggak amnesia kan?" tanyanya sambil menempelkan tangan di kening Maharani seketika.


Deg, deg, deg.


Jantung Maharani mau copot rasanya, sentuhan yang diberikan Sadewa saat ini, mampu membuat hatinya merasakan desiran aneh yang tak bisa ia jabarkan sama sekali.


"Nggaklah, kamu terima nggak permohonan maaf aku." Maharani tampak salah tingkah.


Sadewa menurunkan tangan lalu membungkukkan badan dan menatap dalam bola mata Maharani. "Menurut kamu?"


Deg!


Ya ampun, hati adek meleleh abang. Astaga Rani, sadarlah!


Maharani menggeleng cepat.


"Aku nggak terima permohonan maaf kamu?" Dahi Sadewa berkerut samar.


Maharani gelagapan. "Em, bukan, maksudku, kamu pasti terima permohonan maaf dari aku kan, hehe."


"Nah itu udah tahu, sekarang kamu istirahat ya, aku mau ke sawah dulu," sahut Sadewa sambil mengelus-elus pelan rambut Maharani.


Maharani membeku sesaat. Namun detik selanjutnya ia mengulurkan tangannya ke arah Sadewa dan berkata,"Dewa, mulai dari sekarang kita berteman ya."


Sadewa menaikan sebelah alis mata. Kemudian menjabat tangan Maharani. "Oke, kamu benar-benar Maharani kan?"


"Tentu saja aku Maharani, kamu pikir dalam semalam aku bisa berubah jadi kucing apa?" ucap Maharani dengan mencebikkan bibir bagian bawah.


Sadewa tertawa keras. "Haha, aku cuma bercanda kok, habisnya kamu aneh, udah ya aku ke sawah dulu, nanti aku ke sini lagi."


"Dewa tunggu!"


Belum sempat Sadewa membalikkan badan, Maharani menahan tangannya.


"Eh, maaf." Maharani melihat tangannya yang menempel di pergelangan tangan Sadewa. Secepat kilat ia menurunkan tangannya.


"Iya, kenapa Rani?"


"Dewa, demi menebus sikapku kemarin aku mau bantu kamu bajak sawah ya sekarang, please!" Maharani menyatukan kedua tangannya di dada lalu menunjukan mata memelas.


Sadewa tersenyum hingga menampakkan lesung pipit, tengah menimbang-nimbang permintaan Maharani.


"Please!" Maharani tak memudarkan matanya yang seperti anak kucing sedari tadi.


"Oke deh, tapi kamu untuk hari ini lihatin aku aja dari gubuk, kamu masih sakit, aku nggak mau kena marah Bude."


"Yes! Oke deh, aku izin dulu sama Bude ya."


Anggukkan pelan sebagai balasan Sadewa.

__ADS_1


__ADS_2