
"Kemarilah." Bukannya langsung menjawab pertanyaan putrinya, Samsul mempersilakan pasangan sejoli itu untuk duduk di hadapannya.
Sadewa dan Maharani melemparkan pandangan sejenak. Lalu menghampiri Samsul.
"Sri, duduklah juga di sini," ucap Samsul saat melihat Bude Sri hendak mengayunkan kaki menuju tangga.
Langkah kaki Bude Sri terhenti seketika. Tanpa banyak kata dia berjalan cepat mengekori Sadewa dan Maharani.
"Pi, cepat jawab dong, direstuin atau nggak nih?" Setelah menghempaskan bokong di sofa, Maharani bertanya kembali. Dia sangat tak sabaran takut jika Papinya membuat alasan lagi.
"Sabar Sayang." Sadewa mengelus pelan punggung Maharani, hendak menenangkan kekasihnya yang sudah tak sabaran itu.
Bude Sri terkekeh pelan. "Ngebet banget mau nikah," ucapnya sambil melirik Samsul sekilas, tengah tersenyum penuh arti.
"Hmm, sebelum Papi menjawab pertanyaan kamu, Papi mau tanya sama Bude kamu."
Maharani dan Sadewa mencondongkan badannya ke arah Bude Sri.
Samsul mengalihkan pandangan ke arah Bude Sri.
"Sri menurut kamu apa Dewa pantas menjadi suami Rani?" tanyanya.
Bude Sri terkekeh pelan sejenak lalu melirik Sadewa sekilas. "Menurutku ya Bang, Dewa pantas menjadi suami keponakanku ini, ya walaupun terkadang dia suka jahil tapi selama aku mengenalnya, Dewa, anak yang baik, penurut, dan bertanggungjawab dalam melakukan segala sesuatu."
__ADS_1
Maharani dan Sadewa mengembangkan senyuman mendengarkan jawaban dari Bude Sri.
"Aku yakin Dewa bisa membimbing Rani untuk jadi istri yang baik." Bude Sri kembali menambahkan.
"Tuh, dengar Pi, Dewa mah udah sempurna bagiku, dia pria yang mapan hehe, untuk masalah perkerjaannya, jangan Papi pandangan sebelah mata, yang terpenting Dewa bisa mencukupi kebutuhan Rani. Rani janji akan jadi istri yang baik dan penurut. Nanti Rani belajar masak deh," ucap Maharani cepat.
Sekarang Samsul yang terkekeh pelan.
Maharani melirik Sadewa dan Bude Sri sekilas. Tak percaya karena dapat melihat senyuman Papinya saat ini. Sebuah senyuman tulus yang sudah lama ia rindukan.
"Baiklah, Papi akan merestui kalian," ucap Samsul kemudian.
Kedua mata Maharani dan Sadewa berkedip cepat sambil melengkungkan senyuman. Secara bersamaan pula perasaan bahagia mulai menyelimuti relung hati mereka. Akhirnya setelah sekian lama hubungan mereka dapat direstui.
"Benar Pi? Jadi aku boleh nikah sama Dewa?" Sangking senangnya Maharani bangkit berdiri tiba-tiba. Masih tak percaya Papinya yang keras kepala merestuinya.
"Yei!!!" Maharani melompat-lompat kegirangan sembari mengangkat kedua tangan ke udara.
Sadewa sedikit terkejut saat melihat gelagat kekasihnya. Tanpa sadar dia mengulas senyum tipia. Sama halnya dengan Bude Sri pun ikut tersenyum melihat tingkah Maharani seperti anak kecil.
"Dewa, Papi harap kamu dapat menjaga Rani dan menjadi imam yang baik serta bersabar meladeni sikap Rani," Samsul menatap seksama Sadewa seketika.
Sadewa menoleh lalu berkata,"Iya Pak, percayakan saja sama saya, saya akan menjaga Rani dan menjadi kepala keluarga yang baik."
__ADS_1
Samsul nampak manggut-manggut sesaat. "Mulai detik ini panggil aku dengan sebutan Papi."
"Iya Pak, eh Papi." Sadewa masih terlalu kaku memanggil Samsul.
"Oh ya." Maharani menghentikan gerakan kaki seketika. Lalu menoleh ke arah Samsul dan Sadewa bergantian. "Pi, Dewa, Rani mau ke atas dulu, mau siap-siap olahraga, hehehe. Lusa kita nikah kan Dewa?"
Sadewa tersenyum kikuk. Sepertinya Maharani benar-benar tak sabaran. "Secepatnya Sayang," ucapnya sambil melirik Samsul sekilas.
"Hehe, oke deh. Rani pamit ke atas dulu ya."
Sadewa dan Samsul mengangguk pelan.
"Bude, ikut Rani ke atas yuk." Maharani langsung menarik tangan Bude Sri untuk beranjak dari sofa. Bude Sri menurut-nurut saja. Dia pun mengikuti keponakannya itu.
Selepas kepergian Maharani dan Bude Sri, Samsul menatap intens Sadewa.
"Dewa, sebentar lagi kamu akan menjadi menantuku, bolehkah kamu menjelaskan ada hubungan apa kamu sama Bapaknya Tomi?"
Walaupun Samsul sudah mengetahui latar belakang orangtua dan seluk beluk keluarga Sadewa. Namun, Samsul ingin bertanya langsung pada Sadewa, apakah menantunya ini bisa berkata jujur atau tidak. Kemarin Dono memberitahu semua padanya tentang identitas Sadewa. Dari hasil temuan Dono, Sadewa adalah pria perkerja keras, yang tidak hanya mengandalkan duit Ibu dan Bapaknya. Untuk sejenak Samsul kagum akan kegigihan Sadewa.
Sebelum menjelaskan, Sadewa menghela napas pelan. Dia pun mulai menceritakan semuanya pada Samsul tanpa ditutup-tutupi karena dia tak mau terjadi kesalahpahaman suatu saat nanti.
"Hm, baiklah, Papi hanya ingin tahu saja Dewa, karena sebentar lagi kamu akan menjadi menantu Papi, oh ya jadi kapan kamu akan membawamu Ibumu kemari?"
__ADS_1
Setelah mendengarkan penjelasan Sadewa yang panjang lebar tadi, Samsul mulai mengalihkan topik pembicaraan, kala melihat mimik muka Sadewa menyimpan kepedihan tadi, saat menceritakan kedua orangtuanya.
Sadewa tersenyum hangat. "Lusa Pi," jawabnya tegas.