Kepentok Cinta Petani Tampan

Kepentok Cinta Petani Tampan
Bertemu Camer


__ADS_3

Setelah melihat Mirna di penjara, Maharani, Sadewa dan Bude Sri memutuskan untuk pulang ke rumah. Sadewa mengucek-ucek rambut Maharani sesekali saat perjalanan pulang ke rumah.


"Sudah jangan menangis Rani, kalau sering menangis tahu, lihat tuh wajahmu jelek," kelakar Sadewa sambil menjawil gemas hidung mancung Maharani.


Maharani mencebikkan bibir lalu mengusap pelan hidungnya. "Enak aja, aku tetap cantik tahu, iya nggak Bude?" Maharani melirik kaca spion di bagian tengah mobil, melihat Bude Sri di kursi belakang, tengah asik sendiri memandangi gedung-gedung menjulang tinggi di luar sana.


Mendengar namanya di panggil, Bude Sri menoleh. "Iya keponakan Bude, selalu cantik kok," ucapnya diiringi kekehan pelan.


"Tuh dengar, aku itu selalu cantik!" Maharani menjulurkan lidah ke arah Sadewa sejenak.


Sadewa melirik Maharani sekilas, mengukir senyuman lebar lalu kembali menatap ke depan lagi, memperhatikan kendaraan lalu-lalang di jalan raya. "Iya deh ya, selalu cantik, jadi sekarang kita langsung pulang ke rumah atau mau singgah bentar ke suatu tempat?"


"Hmmm." Maharani nampak berpikir sejenak. "Oh ya, singgah ke indomart dulu ya, aku mau beli cemilan untuk di rumah."


"Katanya mau diet untuk nikahan nanti Rani?" Bude Sri menimpali.


Maharani terdiam seketika. "Nikah?" Melirik Sadewa sekilas. "Iya juga ya, tapi Dewa gimana? Apa Papi udah restuin hubungan kita?" tanyanya penasaran sebab dari kemarin Papinya lebih banyak diam di kamar mendiang Maminya.


Semenjak penangkapan Mirna, Samsul suka menggurung diri di kamarnya. Maharani sedikit sedih, sepertinya kebenaran tentang Mirna, membuat Samsul begitu terpukul. Walaupun Maharani tak menyukai Mirna tapi dia masih memiliki hati. Seandainya saja Mirna tadi mengucapkan permintaan maaf padanya. Mungkin saja Maharani akan meminta bantuan Papinya untuk mengurangi masa tahanan Mirna dengan membayar denda.


"Belum nanti kita tanyain, kalau nggak di restuin, kita kawin lari aja," celetuk Sadewa.


"Eh, sembarangan, mau kawin lari, kawin lari, nakal kamu ya." Dari belakang Bude Sri mencubit pelan perut belakang Sadewa.


"Ah, haha, sakit Bude, sakit, bercanda kok, suwer deh." Sadewa terkekeh kuat sambil melirik Bude Sri di kaca spion.


Bude Sri menggeleng-geleng pelan.


"Jadi ke indomart atau nggak nih?" tanya Sadewa kembali.


"Hehe, jadi dong, aku pengen makan sosis itu loh," jawab Maharani tanpa melawan bicara.


"Iya, iya Ibu ratu, sesuai permintaanmu." Sadewa mengacak-acak rambut Maharani sejenak.

__ADS_1


Selang beberapa menit, kendaraan roda empat itu berhenti di salah satu supermarket. Sadewa menunggu Maharani dan Bude Sri di dalam mobil. Karena terlalu lama menunggu, Sadewa memutuskan keluar dari mobil.


Baru saja ia mengayunkan kaki keluar, suara seseorang yang amat dihindarinya, bergema di indera pendengarannya.


"Dewa, kamu rupanya, Bapak senang bertemu kamu di sini? Bagaimana kabarmu?" Anto yang kebetulan ingin singgah ke indomart juga. Tak sengaja melihat sosok yang ia kenali keluar dari mobil. Pria yang sudah berumur itu, menatap Sadewa dengan mata berseri-seri.


Sadewa menoleh lalu mendengus kasar. "Apa? Ada perlu apa? Tidak usah menanyakan kabarku, urus saja anak dan istrimu itu," ucapnya ketus.


Anto mendesah kasar sebab sampai saat ini, aepertinya Sadewa belum memaafkannya. Padahal dia sudah berharap pertemuan pertamanya tempo lalu. Membuat Sadewa mau menerima permohonan maaf darinya.


"Dewa, apa kamu belum bisa memaafkan Bapak? Bapak tahu Bapak salah karena sudah menelantarkan kalian, tapi sekarang Tomi dan Ibunya sudah tidak tinggal lagi di rumah Bapak. Bapak akan melakukan apa saja agar kamu mau memaafkan kesalahan Bapak? Bapak mohon Nak, terima lah permohonan maaf Bapak," ucap Anto dengan tulus sambil berusaha meraih tangan anaknya itu.


Secepat kilat Sadewa mengibaskan tangan Anto lalu menghela napas kasar. "Untuk apa! Terserah Tomi dan Ibunya sudah tidak tinggal di rumah atau tidak, aku tidak peduli, sampai kapanpun aku tidak akan memaafkanmu, mudah sekali kamu mengatakan maaf, setelah membuat ibuku terluka, sudahlah lebih kamu pergi dari hadapanku sekarang!"


Napas Anto tercekat saat berulang kali mendapatkan penolakan dari anaknya sendiri.


"Dewa, ada apa ini?" tanya Maharani saat baru saja keluar, melihat Sadewa berbicara dengan Bapak Tomi.


Anto dan Sadewa mengalihkan pandangan seketika ke arah Maharani dan Bude Sri sedang melangkah cepat menghampiri mereka.


Sadewa enggan menyahut. Malah membuang muka ke samping.


Dahi Maharani berkerut kuat dengan perubahan sikap Sadewa yang tak seperti biasanya. Detik selanjutnya ia menatap Anto. "Hai Pak, nama saya Rani, ada perlu apa ya sama Dewa?" Lebih baik Maharani bertanya pada Anto saja.


Anto melirik Sadewa sekilas. "Bapak mau minta maaf sama Dewa, karena Bapak tidak becus men–"


"Aku akan menunggu di mobil," potong Sadewa cepat sambil melangkah cepat, mendekati mobil.


Anto, Maharani dan Bude Sri melemparkan pandangan satu sama lain sesaat.


"Dewa kenapa ya?" Maharani bergumam-gumam pelan tapi dapat di dengar Anto.


"Itu semua gara-gara Bapak, yang menelantarkan anaknya sendiri dulu," ucap Anto lesu.

__ADS_1


"Ha? Anak sendiri? Maksudnya?" Maharani terkejut saat Anto mengatakan Sadewa adalah anaknya.


"Iya, Bapak adalah Bapak kandung Dewa."


Maharani melonggo saat mendapatkan satu fakta kalau Anto adalah Bapak kandung Sadewa, yang artinya Tomi adalah saudaranya.


Anto pun mulai menjelaskan secara singkat kepada Maharani, tentang siapa dirinya dan apa yang terjadi dahulu.


Maharani tertegun, tak mampu berkata-kata lagi. Ternyata Sadewa memiliki kisah yang tragis tentang kedua orangtuanya. Dia merasa egois karena tak mengetahui kehidupan Sadewa.


"Bapak ke dalam dulu ya Rani, sampaikan salam Bapak sama Dewa."


"Iya Pak." Maharani tersenyum kaku, Setelah melihat Anto masuk ke indomart' dia dan Bude Sri langsung masuk ke dalam mobil.


Di sepanjang jalan, Maharani mencoba menyampaikan permohonan maaf Anto. Berharap Sadewa dapat memaafkan calon mertuanya itu. Walau bagaimanapun pria itu yang sudah mulai nampak beruban itu adalah Bapak kandung Sadewa.


"Hm Rani, aku akan memikirkan lagi untuk menerima permohonan maaf darinya." Setelah diceramahi Maharani barusan, Sadewa memberi tanggapan. Pria itu tersenyum tipis ke arah Maharani.


"Iya Dewa," ucap Maharani sambil mengulas senyum lebar. Dia tak mau terlalu memaksa Sadewa untuk menerima permintaan maaf tersebut.


Sesampainya di rumah, Sadewa langsung menggandeng tangan Maharani saat berjalan masuk ke dalam rumah. Dia berniat bertanya lagi pada Samsul apakah memberi restu terhadap hubungan mereka.


"Kenapa aku deg, deg, degan ya?" Maharani melemparkan pandangan ke arah Sadewa sejenak.


"Seharusnya aku yang deg, deg, deg Sayang, udah yuk, kasihan tuh Bude, jadi obat nyamuk kita dari tadi." Sadewa melirik ke samping sekilas. Melihat Bude Sri tengah senyam-senyum sendiri sedari tadi.


Bude Sri tersenyum sumringah. "Biasa aja tuh, ayo kita ke dalam, nanti Bude panggil Papi kamu untuk turun ke bawah," ucapnya sambil melangkahkan kaki.


Pasangan sejoli itu mengangguk cepat.


"Papi!" panggil Maharani saat melihat Papinya ternyata ada di ruang keluarga, tengah membaca koran.


"Iya?" Samsul menoleh sambil melipat lembaran koran. "Ada apa?"

__ADS_1


"Jadi gimana Pi? Rani boleh nikah nggak sama Dewa?" tanya Maharani to the point.


__ADS_2