
Pagi ini Sadewa membaca dengan seksama alamat rumah yang diberikan Bude Sri semalam di selembar kertas. Setelah bergumul dengan batinnya semalam, dengan penuh pertimbangan hari ini Sadewa berencana akan pergi ke Jakarta. Ajeng pun mengizinkan Sadewa untuk pergi ke sana saat melihat kegelisahan di wajah putranya itu. Semula Sadewa dilanda dilema, karena Ibunya masih sakit namun, Ajeng memaksanya pergi dan mengatakan sudah sembuh.
"Ibu yakin tidak mau ikut ke sana, sekaligus kita berobat?" Sadewa melipat kertas kecil tersebut lalu memasukannya ke saku celana.
Ajeng tersenyum hangat. "Le, Ibu di sini saja, Ibu sudah sehat begini, kamu nggak lihat nih?"
Sadewa mendesah kasar sejenak. Ia yakin sekali Ibunya tak mau menginjakkan kakinya di Jakarta karena rasa trauma yang dialami Ibunya dulu masih membekas.
"Bu, kalau ada apa-apa telepon ya, Dewa nggak lama kok di Jakarta, setelah bertemu Rani, Dewa bakalan pulang," ucap Sadewa sambil duduk di samping Ajeng.
"Iya, mau lama juga nggak apa-apa, sekaligus kamu jalan-jalan kan sama Supri," kata Ajeng tersenyum tipis. "Jam berapa kamu berangkatnya?"
"Sebentar lagi Bu, tinggal nunggu Supri sama Bejo datang kemari." Sadewa melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangan.
Ajeng mengangguk pelan lalu mengeluarkan sebuah kunci berwarna silver dari bawah bantal. "Le, ini kunci rumah Ibu yang di Jakarta, kamu bisa menginap di situ."
"Terima kasih Bu." Sadewa meraih kunci tersebut dari tangan Ajeng. "Ibu yakin nggak mau ikut Dewa?" tanyanya sekali lagi karena dia tak sanggup meninggalkan Ibunya seorang diri di kampung.
"Enggak, Ibu di sini aja."
"Bukan karena pria itu kan Ibu nggak mau ke sana." Tanpa sadar Sadewa mengeluarkan uneg-unegnya.
Ajeng menarik napas panjang. "Bukan Dewa, jangan panggil dia pria itu, walau bagaimanapun dia tetap bapak kandungmu, meskipun dia sudah lama melupakan kita selama ini, tapi dia tetaplah bapak kandungmu, Dewa," ucapnya sambil mengelus pelan lengan kanan Sadewa.
"Hm, entahlah Bu. Sampai sekarang Dewa tidak bisa memaafkannya." Jejak kemarahan terpancar jelas dari kedua mata Sadewa sekarang.
"Le, jangan menaruh dendam dengan bapakmu–"
"Dewa!"
Panggilan dari depan menghentikan perkataan Ajeng seketika. Ajeng dan Sadewa menatap satu sama lain sejenak.
"Sepertinya itu Supri dan Bejo, Ibu tenang aja Dewa nggak dendam sama dia." Sadewa bangkit berdiri. "Dewa ke depan dulu ya."
Ajeng mengangguk pelan.
__ADS_1
***
Sadewa meminta Bejo dan Ibunya untuk menginap di rumahnya menemani Ajeng. Sementara Supri akan ikut bersamanya ke Jakarta. Setelah berpamitan bersama Ajeng, Bejo dan Ibunya Bejo. Sadewa dan Supri langsung pergi ke Jakarta menumpang mobil Koko Aliong, yang kebetulan juga ingin ke Jakarta.
Beberapa jam kemudian mereka sudah di luar perkampungan dan sekarang menuju jalanan tol hendak ke ibukota Jakarta.
"Wah ini pertama kalinya aku keluar kampung, Dewa," ucap Supri sambil memperhatikan kendaraan lalu lalang di jalan raya saat ini.
"Ya, aku pun sudah lama tidak ke Jakarta," ucap Sadewa.
"Hehe, nanti kita ke monas ya Dewa, aku mau foto-foto pamerin ke Ambuku (Ibu)."
Sadewa melempar senyuman tipis. "Ya nanti kita ke sana, tapi kita ke rumah Rani dulu, karena itu tujuan utama kita ke Jakarta."
"Ya, pasti itu ke tempat ayang kamu dulu."
"Dewa, tahu nggak alamat rumah si Rani?" tanya Koko Aliong dari kursi kemudi tanpa mengalihkan pandangan dari depan.
"Tahu Ko di jalan XXX," jawab Sadewa cepat.
"Wah, itu mah perumahan elit orang-orang kaya Dewa, sepertinya Rani anak orang kaya ya?" Koko Aliong melirik sekilas Sadewa dari kaca spion.
Perasaan gelisah seketika menyerangnya. Dia takut jikalau kedatangannya tak di sambut baik oleh orangtua Maharani. Mengingat Maharani adalah anak orang kaya raya. Namun, Sadewa menepis semua ketakutannya seketika. Dan bertekad akan memperjuangkan cintanya.
Satu jam kemudian, Sadewa dan Supri sudah tiba di gerbang perumahan yang menjulang tinggi. Keduanya bersitatap sejenak kala melihat rumah-rumah besar dan megah berjejer di dalam sana.
"Selamat berjuang Dewa, Koko mau ke tempat keluarga dulu, kalau perlu sesuatu kabari Koko ya," ucap Koko Aliong dari dalam mobil.
Sadewa menoleh. "Iya Ko, terima kasih ya Ko, hati-hati di jalan Ko."
Koko Aliong mengangguk. Kemudian mengemudikan kembali kendaraan roda empatnya.
"Ini mah bukan rumah tapi istana, Dewa. Lihat deh itu pagarnya emas-emas gitu, nggak nyangka ya si Rani ternyata kaya banget," ucap Supri tanpa mengedipkan matanya sedari tadi.
"Iya Sup, ayo kita ke pos satpam dulu." Sadewa mengajak Supri untuk melapor ke satpam dulu, meminta untuk dibukakan pagar.
__ADS_1
Anggukan pelan sebagai balasan Supri.
"Permisi Pak, apa benar di sini ada penghuni namanya Maharani?" tanya Sadewa dengan tersenyum simpul kepada seorang pria bertubuh gempal yang berjaga di pos satpam.
"Maharani? Anaknya Pak Samsul?"
"Iya Pak, namanya Maharani, tapi kalau bapaknya saya kurang tahu," ucap Sadewa sambil menyengir.
"Oh ada, kenapa ya?"
"Saya mau ketemu Maharani Pak, saya pac– eh maksud saya temannya." Sadewa sengaja tak beterus terang.
"Sudah buat janji belum?"
"Sudah Pak," kilah Sadewa.
"Oke tunggu sebentar." Pak Satpam langsung mengambil walkie talkie dan berbicara dengan seseorang.
Selang beberapa menit, Sadewa dan Supri akhirnya sudah di dalam perumahan elit tersebut. Sadewa bernapas lega karena dapat masuk tanpa hambatan sedikitpun, walau harus berbohong pada Pak Satpam tadi.
"Hebat loh kamu, Dewa, kalau aku mah udah panik tadi," ucap Supri sambil mengeratkan ransel yang berada dipundaknya.
"Ya, kalau masalah mau selesai jangan panik dulu, lakukan dengan tenang Sup, udah yuk kita ke sana, kayaknya itu rumah no A6 deh." Sadewa menunjuk rumah yang paling besar dan megah dari semua rumah yang terdapat di perumahan tersebut.
Sesampainya di depan rumah, kepala Sadewa celingak-celinguk sejenak. Lalu menekan bel di dinding.
"Dewa kok aku deg, deg, degan ya, padahal kan kamu yang mau ketemu Rani,' ucap Supri sambil mengedarkan pandangan ke pekarangan rumah Maharani yang sangat asri.
"Aku juga deg, deg, degan, Sup. Tapi aku berusaha tenang, semoga saja ada Rani di dalam dan bapaknya baik sama kayak anaknya kan," ucap Sadewa berpikiran positif.
"Entahlah Dewa, yang aku tahu biasanya bapaknya anak-anak orang kaya itu sombong dan arogan, tapi semoga aja bapaknya Rani lain."
Sadewa mengangguk. Semenit pun berlalu, tak ada tanda-tanda pintu akan terbuka. Dia kembali menekan bel rumah.
Ting! Tong!
__ADS_1
Dalam sepersekian detik, pintu pun terbuka lebar. Samsul menyembul dari balik pintu berganda tersebut. Pria itu langsung menelisik penampilan Sadewa dan Supri dari atas sampai ke bawah dengan raut muka tak bisa terbaca.
"Permisi Pak, apa benar ini rumahnya Maharani?" Sadewa memberanikan diri bertanya pada pria yang sama sekali dia tahu siapa.