
"Bima, aku mohon...." Sekali lagi Maharani bersuara. Berharap Bima dapat mengerti perasaannya yang saat ini tengah kacau.
Bugh! Bugh! Bugh!
"Ahk!" Sadewa tersentak ketika dari belakang seseorang memukul punggungnya dengan sangat kuat.
"Dewa!" teriak Maharani seketika saat melihat di depan sana Sadewa dipukuli oleh bodyguard Papinya. Secepat kilat ia berlarian menghampiri Sadewa, hendak melindungi pujaan hatinya.
"Hentikan!" teriak Maharani sambil merentangkan kedua tangan di hadapan Sadewa agar para bodyguard berhenti melayangkan pukulan.
Samsul memberi kode pada bodyguard menghentikan serangan. Mereka menurut seketika dan agak menjauhi Maharani, yang kini tengah berusaha memapah Sadewa dan memeriksa keadaannya. Setelah melihat Sadewa baik-baik saja Maharani menoleh ke depan.
"Bima, Papi, Rani mohon." Maharani menghampiri Papi dan Bima seketika. "Hentikan pernikahan ini," ucap Maharani sambil menurunkan badan kemudian bersimpuh di hadapan Papinya.
"Apa-apaan kamu, Rani! Berdiri kamu!" seru Samsul, terkejut dengan sikap Maharani yang terlalu berlebihan menurutnya, demi Sadewa, putrinya itu memohon padanya sampai harus merendahkan harga dirinya.
Sadewa sama terkejutnya. Tak menyangka Maharani akan melakukan hal seperti itu untuk bersamanya. Dengan perlahan Sadewa berjalan hendak menghampiri Maharani. Namun, gerakannya kalah cepat sebab Samsul sudah memegang lengan Maharani, berusaha membuat Maharani mau berdiri.
"Nggak Pi, sebelum Papi ngebatalin pernikahan ini, Rani mohon, Pi...." Cairan bening yang jatuh dari pelupuk mata Maharani semakin mengalir deras di pipi. Dia tak perduli lagi akan bisik-bisik para tamu undangan di ruangan.
"Rani, baiklah, aku mengabulkan permintaanmu itu," sahut Bima akhirnya. Kemudian dia mengalihkan pandangan ke arah Samsul. "Maaf Pi, aku tidak bisa menikah dengan wanita yang tidak bisa mencintaiku."
"Apa?" Samsul terlonjak kaget seketika. Pria itu terpaku di tempat sesaat.
Maharani mendongak wajahnya lalu bangkit berdiri dan memeluk Bima sejenak.
"Bim, terima kasih, aku tahu kamu pria baik, aku berdoa semoga kamu mendapatkan jodoh yang lebih baik dariku, Bim, terima kasih Bima, terima kasih Bima, sekali lagi terima kasih!" sahut Maharani dengan menitihkan air matanya.
Bima mengulas senyum tipis. Setelah di pikir-pikir tadi, Bima tak mau hidup bersama wanita yang mencintai pria lain. Walaupun besar harapan Bima setelah menikah nanti, Maharani dapat mencintainya. Akan tetapi, saat melihat kesungguhan Maharani tadi yang sampai harus bertekuk di lutut hadapan Papinya, membuat Bima dilema.
Akhirnya setelah berjilbaku dengan pikirannya tadi. Dengan lapang dada Bima mengiyakan permintaan Maharani meski hatinya perih, bagai di tusuk sembilu, karena kisah cintanya kandas dalam sekejap mata.
"Iya amin, Rani. Aku berharap kamu dapat selalu bahagia," ucap Bima sambil mengusap cepat jejak air mata Maharani.
Maharani mengangguk cepat.
__ADS_1
"Om, kami pergi dulu, Ayah, Ibu, ayo semuanya kita keluar," ucap Bima kemudian. Dia tak mau terlalu berlama-lama di rumah Samsul. Takut, keputusannya akan berubah.
Pamungkas, istrinya dan sanak saudaranya mengangguk cepat. Mereka pun berhamburan keluar dari rumah tanpa mengeluarkan satu patah kata pun. Diikuti dengan para tamu undangan yang lainnya dan menyisakan Samsul, Mirna, Rara, Tomi, Dono dan para asisten rumah.
Samsul nampak panik. Dia memberi kode para bodyguard untuk melayangkan pukulan lagi di tubuh Sadewa.
Dengan gesit Sadewa menjauhi para bodyguard. Dia memasang kuda-kuda untuk bertarung dengan tiga pria bersetelan jas hitam di hadapannya.
"Papi! Hentikan! Kenapa Papi selalu bermain hakim sendiri!" seru Maharani sambil melirik Sadewa sekilas tengah bersiap sedia melawan para bodyguard Papinya.
"Terserah katamu Rani! Gara-gara dia, kamu membuat Papi malu, lihatlah pria miskin itu apakah bisa melindungi dirinya sendiri ha!" teriak Samsul nyaring.
"Papi keterlaluan!" teriak Maharani.
Samsul menyeringai tipis lalu menyuruh Dono untuk mengurung Maharani di kamarnya. Maharani melebarkan mata saat mendengar perintah yang diberikan Papinya pada Dono. Dia hendak menjauhi Samsul. Namun, gerakannya kalah cepat, Samsul mencekal pergelangan tangannya seketika.
"Dewa!" teriak Maharani seketika kala Sadewa di kepung oleh para bodyguard.
Sadewa langsung menendang dan memukul mereka namun karena kalah jumlah, dia nampak kewalahan.
Bugh! Bugh! Bugh!
"Lepaskan Rani Pi, lepas!" jerit Maharani sambil berusaha memberontak.
Plak!!!
"Rani!" teriak Sadewa, tanpa menghentikan gerakan tangannya yang melawan para bodyguard.
Maharani amat terkejut saat Samsul menamparnya tiba-tiba. Dia menoleh ke depan, menatap tak percaya pada Papinya. Maharani menitihkan kembali air matanya. Sejak menikah dengan Mirna, Samsul menjadi ringan tangan.
"Kamu ini ngelawan orangtua ha! Mau jadi apa kamu nanti! Papi sudah kuliah kamu tinggi-tinggi! Tapi ini balasannya untuk Papi!" teriak Samsul dengan berapi-api.
"Ckck, Rani, Rani, di kasi jantung minta hati, padahal suamiku sudah berbaik hati ingin menikahkanmu dengan Bima, tapi kamu malah memilih pria miskin itu!" Mirna mulai mengompori-ompori. Dia tersenyum sinis, melihat Maharani mematung di tempat saat di tampar Samsul barusan.
Maharani mengalihkan pandangan ke arah Mirna."Diam kamu! Nggak usah ikut campur urusanku! Dasar wanita tak tahu diri!"
__ADS_1
Plak!
Sekali lagi Samsul menampar anak kandungnya itu.
Maharani memegangi pipi kanannya yang terasa semakin panas saat ini. "Rani! Benci Papi!" jeritnya histeris. Saat ini betapa hancurnya hati Maharani diperlakukan semena-mena oleh Papinya sendiri.
"Kamu! Udah jadi anak pembangkang ya sekarang! Ke sini kamu!" Samsul mencekal pergelangan tangan Maharani kemudian melangkah cepat ke ruangan lain.
"Argh! Lepasin Rani! Mami tolong Rani, Mamiiiii!!!" teriak Maharani sambil menangis pilu. Berharap Maminya di atas sana dapat melihat dan mendengar permintaannya sekarang.
Dengan susah payah Samsul menyeret Maharani ke ruangan sampai pada akhirnya punggung keduanya menghilang.
Sadewa hendak mengejar Maharani tapi dia langsung di hadang para bodyguard. Sehingga dia tak dapat membantu Maharani.
"Minggir kalian brengsek!" teriak Sadewa sembari melayangkan pukulan di perut perut bodyguard. Alhasil perkelahian tak seimbang kembali terjadi.
Selang beberapa menit, Sadewa terjungkal ke belakang kala salah seorang bodyguard berhasil menyundul dagunya.
Sadewa menyemburkan darah ke sembarang arah lalu menatap jenggah ke arah para bodyguard, yang tak keletihan sama sekali.
"Katakan pada bos kalian, untuk keluar sekarang juga! Jangan jadi orang pengecut!" seru Sadewa sambil menunjuk.
Belum sampai semenit Sadewa berkata, Samsul datang tiba-tiba. Pria paruh baya yang badannya masih segar dan bugar itu. Menatap dingin ke arah Sadewa.
"Apa maumu ha!? Gara-gara kamu anakku menderita!" seru Samsul.
"Jangan mengada-ada anda, Rani menderita karena ulahmu, kamu memperlakukan anak kandungmu sendiri seperti anak tiri." Sadewa melirik Rara sekilas, yang sedari tadi hanya diam saja menyaksikan keributan di dalam ruangan. "Sementara anak tirimu itu, kamu sayangi-sayangi, Ayah macam kamu!" Sambung Sadewa lagi.
"Jangan ikut campur urusanku! Pergi kamu dari sini! Rani tidak pantas bersanding dengan pria miskin sepertimu!" teriak Samsul sambil mengeluarkan pistol dari saku celana.
Kedua mata Sadewa melebar seketika. Sedikit takut namun, sebisa mungkin dia menyembunyikan rasa takutnya dengan berdiri tegap di hadapan Samsul.
"Pergi kamu dari sini! Sebelum aku tembak!" seru Samsul sekali lagi.
Tak mau mengambil resiko, mau tak mau Sadewa akan keluar dari rumah dan memikirkan bagaimana caranya mengeluarkan Maharani dari rumah ini.
__ADS_1
"Oke, aku pergi Tuan Samsul, tapi ingat satu hal, aku akan kembali lagi ke sini!" seru Sadewa tanpa rasa takut sedikitpun.