Kepentok Cinta Petani Tampan

Kepentok Cinta Petani Tampan
Nasib Mirna di Penjara


__ADS_3

Sudah dua hari, Mirna mendekam di penjara. Dia tak bisa berbuat apa-apa lagi saat pengadilan mengurungnya selama lima belas tahun atas pembunuhan berencana. Tak hanya itu ia dan Samsul pun sudah tidak memiliki hubungan sebagai suami istri. Mirna semakin tertekan dan psikisnya pun juga terganggu. Sejak masuk tahanan dia hanya bisa menangis dan meratapi nasibnya.


"Hiks, hiks, hiks, semua ini gara-gara Sri, awas saja dia! Aku akan membunuhnya!" seru Mirna seketika dari dalam jeruji besi.


Bugh!


"Ahk! Hiks, hiks, hikss...." Mirna terjatuh ke lantai yang berbahan dasar semen itu. Dia mengaduh kesakitan saat punggungnya di pukul oleh tahanan lain barusan.


"Berisik woi! Gue bogem lagi lu ha! Mau lu?!" Wanita berambut pendek, memiliki tindik di hidung dan berwajah bengis. Melotot tajam pada Mirna sambil mengangkat tangan ke udara.


Mirna sangat ketakutan.


"Ampun, hiks, hiks, jangan, jangan, aku minta maaf..." lirih Mirna sambil menyilangkan kedua tangan di depan mukanya, berusaha melindungi diri dari pukulan.


Plak!


"Argh!" Sekali lagi Mirna kesakitan saat rambutnya di tarik dari atas dan pipinya di tampar.

__ADS_1


"Cih! Dasar sampah lu! Awas lu ribut lagi! Cuih!" ucap tahanan itu sambil meludahi Mirna.


Mirna mengusap cepat wajahnya yang terkena cipratan air liur itu sambil menangis tersedu-sedu. "Hiks, hiks, hiks..."


Mirna menjadi tahanan baru di dalam sel, kerapkali mendapatkan perlakuan tak baik dari tahanan yang lain. Itu semua karena sikap Mirna yang terkadang menjengkelkan dan selalu membuat keributan. Bagaimana tidak, wanita itu tak hormat dan tak sopan pada tahanan yang lain. Mungkin karena faktor memiliki kekayaan sewaktu dia masih menghirup udara segar, menjadikan Mirna lupa diri.


Menjelang siang, para tahanan sudah selesai menyantap makan siang, Mirna begitu senang karena ada seseorang yang mau mengunjunginya. Dia yakin sekali jika itu adalah Rara ataupun Samsul. Tanpa bertanya pada petugas keamanan siapa yang hendak menjenguknya, Mirna melangkah cepat sambil melengkungkan senyuman kala ia dipersilahkan ke ruang temu.


Sesampainya di ruang khusus. Raut wajah Mirna seketika berubah drastis saat melihat Maharani, Sadewa dan Bude Sri lah yang datang mengunjunginya.


"Dasar pembunuh!"


Maharani bangkit berdiri, menggeram kuat sambil memegang kaca pembatas di tengah-tengah mereka. Rahangnya semakin mengeras, teringat akan perbuatan Mirna selama ini kepadanya. Wanita berparas manis itu sudah mengetahui kalau Mirnalah dalang di balik kematian Maminya. Semalam Samsul mengatakan semuanya tentang Mirna. Maharani begitu sedih dan marah saat mendapatkan fakta tersebut. Ternyata Mirna lah yang merusak kebahagiaannya selama ini.


"Rani, duduklah dulu." Secepat kilat Sadewa mengelus pelan punggung Maharani, hendak menenangkan kekasihnya itu.


Dengan napas memburu Maharani duduk di kursi kembali.

__ADS_1


"Haha! Jadi kamu sudah mengetahui kan kalau aku lah yang membunuh Maminya itu!" Mirna malah tertawa kuat, tengah menikmati kemarahan Maharani.


Maharani tak mampu berkata lagi sekarang. Mirna benar-benar kehilangan akalnya. Bukannya menyesali perbuatannya, Mirna malah tertawa di atas penderitaannya. "Kenapa kamu tega melakukannya? Padahal dulu dia temanmu!"


"Haha! Kamu masih bertanya, tentu saja karena aku iri dan aku ingin kaya! Mamimu itu benar-benar bodoh!" Mirna sudah seperti orang gila saja. Kedua matanya bergerak ke sembarang arah. Tiba-tiba matanya membulat saat melihat Bude Sri berada tak jauh dari Maharani. "Tapi semuanya runtuh gara-gara kamu ha!" serunya sambil bangkit berdiri dan mengebrak-gebrak kaca pembatas. "Mati kau, mati!!"


Bude Sri hanya menghela napas, melihat keadaan Mirna yang nampak memprihatinkan.


Petugas keamanan langsung menyeret Mirna. "Maaf, Pak, Bu, sesi waktu sudah habis," ucapnya sambil menarik kuat tangan Mirna yang sekarang menangis kuat.


Tanpa mengucap satu kata, Sadewa dan Maharani mengangguk pelan, melihat kepergian Mirna.


"Dewa, aku benar-benar tidak menyangka, kalau dialah yang membunuh Mamiku." Dengan mata berkaca-kaca Maharani menatap Sadewa.


Sadewa menarik tangan Maharani dan membawanya ke dalam pelukan. "Sudahlah, kamu jangan menangis lagi, itulah manusia akan melakukan segala macam cara untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan," ucapnya sambil mengeratkan pelukan saat merasakan tubuh Maharani bergetar pelan, menandakan wanita itu sedang menangis dalam diam.


Sadewa begitu sedih dan berusaha memahami perasaan pujaan hatinya itu. Karena dari semalam Maharani menangis, mengenang mendiang Maminya yang ternyata di bunuh oleh teman dekatnya dulu.

__ADS_1


__ADS_2