Kepentok Cinta Petani Tampan

Kepentok Cinta Petani Tampan
Hari Pernikahan


__ADS_3

Lusanya.


Hari ini pernikahan Bima dan Maharani di gelar di kediaman Samsul. Sedari pagi panitia acara dan penghuni rumah sedang sibuk masing-masing, mempersiapkan pernikahan yang akan berlangsung tepat pukul sepuluh pagi nanti.


Bima mengedarkan pandangan, melihat sebagian kerabat keluarganya sudah datang. Dia sangat senang karena akhirnya akan menikah dengan pujaan hatinya. Walaupun kemarin sempat ditolak mentah-mentah oleh Maharani. Namun, perasaan lega menyelimuti relung hatinya sekarang.


Sementara itu, di lantai atas, Maharani menatap lurus ke depan, melihat pantulan dirinya di depan kaca. Balutan kebaya pengantin berwarna putih tampak menempel di tubuhnya, Maharani terlihat begitu cantik. Mestinya hari ini dia merasa bahagia namun, entah mengapa perasaannya seakan kosong dan hampa. Maharani menarik napas panjang sejenak, apakah keputusannya benar menikahi Bima.


Maharani gamang akan pilihannya. Patah hati bertubi-tubi yang dirasakan Maharani membuat dia tak berpikir panjang. Seandainya saja Sadewa tak berselingkuh, mungkin sekarang Maharani dapat kabur bersama mantan pacarnya itu. Akan tetapi, rupanya impian Maharani sirna dalam sekejap mata, Sadewa mengkhianati cintanya.


"Rani, senyum dikit napa! Kayak orang menderita kamu! Seharusnya kamu tuh senang nikah sama Bima!" seru Rara seketika. Sedari tadi dia berada di ruangan, memperhatikan Maharani sedang di hias oleh MUA.


Maharani menoleh. "Apa kamu senang menikahi seseorang yang tidak kamu cintai, Ra?" tanyanya, datar.


Maharani malah mengajukan sebuah pertanyaan yang membuat Rara terhenyak. Kalau di pikir-pikir dirinya juga tidak akan mau menikahi pria yang tak ia cintai begitupula sebaliknya. Pasalnya Rara menikahi dengan Tomi tapi tidak memiliki hatinya. Tomi masih mencintai Maharani. Hal itulah yang membuat Rara membenci saudara tirinya itu sampai sekarang.


Tak ada sahutan dari Rara, Maharani menatap lurus ke depan lagi.


"Aku tahu Tomi tidak mencintaimu Ra, lebih baik kamu keluar Ra, daripada di sini' aku sedang tidak ingin berdebat denganmu, Bima hanya memiliki ragaku tapi tidak dengan jiwaku, dihatiku hanya ada satu nama yang selalu terukir," ucap Maharani tanpa ekspresi sedikitpun.

__ADS_1


Rara menatap punggung Maharani sejenak. Lalu melenggang pergi dari ruangan tersebut seketika.


***


Jam di dinding di kamar, menunjukkan pukul sembilan empat puluh lima menit lagi. Maharani lalu lalang di kamar, entah mengapa kegelisahan melandanya tiba-tiba. Dia pun tak tahu kenapa.


Bude Sri baru saja mengirimkan pesan padanya, untuk mempertimbangkan lagi keputusannya, menikahi Bima, katanya Sadewa juga ingin bertemu dia, mau menjelaskan kesalahpahaman yang terjadi diantara mereka dulu.


Maharani gamang seketika, mengapa tiba-tiba Bude Sri mengirim pesan tersebut.


"Rani sudah siap? Sebentar lagi turun ke bawah, akad nikah akan di mulai," ucap Mirna sedikit ketus. Dia menyelenong masuk ke kamar. Sedari tadi sudah berulang kali mengetuk-etuk pintu kamar tapi tak ada sahutan sama sekali. Atas perintah Samsul tadi, Mirna terpaksa ke kamar Maharani.


Mirna tersentak, raut wajahnya berubah cepat seperti orang jengkel. "Mana aku tahu, tunda-tunda, kamu mau bikin malu Papi kamu apa?! Pak penghulu sudah di bawah! Jangan bikin malu kami!" serunya sambil melototkan mata.


Maharani enggan menyahut. Dia memilin-milin kebayanya sejenak.


Aduh, gimana nih? Apa lebih baik aku kabur aja ya?


Maharani bermonolog di dalam hatinya.

__ADS_1


"Jangan coba-coba untuk kabur kamu!" Mirna seakan dapat membaca isi pikiran Maharani. Dia langsung memanggil beberapa bodyguard yang berada di luar yang ditugaskan menjaga Maharani.


Para bodyguard masuk ke dalam kamar seketika.


Maharani pasrah sebab sekarang tak ada celah lagi untuknya kabur.


"Ayo, sekarang turun!" perintah Mirna sambil menarik kuat tangan Maharani.


Mau tak mau Maharani ikut Mirna turun ke lantai dasar.


Sesampainya di bawah, para kumpulan manusia menunggu kedatangan Maharani sedari tadi. Saat Maharani melangkah pelan ke pelaminan, semua mata tertuju padanya. Begitupula dengan Bima sempat terkesima dengan paras Maharani.


"Baiklah, sudah siap semuanya?" Pak penghulu mengedarkan pandangan di sekitar saat melihat Maharani sudah duduk di samping Bima.


Belum juga kumpulan manusia di ruangan menjawab, bunyi kegaduhan terdengar dari luar rumah, lantas membuat mereka keheranan dan bertanya-tanya.


"Tunggu! Hentikan pernikahan ini!" teriak seseorang dari depan seketika.


Maharani tercengang kala mendengar suara yang tak asing bergema di telinganya. Secepat kilat menoleh ke sumber suara. Matanya melebar sejenak. Melihat Sadewa berdiri di depan utama dengan napas tersengal-sengal.

__ADS_1


"De-wa," ucap Maharani sedikit terbata-bata sambil bangkit berdiri.


__ADS_2