Kepentok Cinta Petani Tampan

Kepentok Cinta Petani Tampan
Ahli Waris


__ADS_3

Tak terasa sudah sebulan, Maharani dan Sadewa menjadi suami istri. Maharani mengumpat kesal di dalam kamar mandi karena sebelum mandi ia harus meladeni suaminya itu untuk kesekian kalinya. Bagaimana tidak, dari pagi, siang dan malam Sadewa selalu menerkamnya. Maharani benar-benar tak habis pikir, apakah suaminya tidak kecapean atau apa. Entahlah, badannya begitu remuk serasa di tinju.


"Ish, bagaimana ini, bulan depan kami honeymoon, pasti dia kesenangan!" Sekali lagi Maharani menggerutu sambil menyalakan shower lalu mulai mengguyur tubuhnya. Kemarin Papinya memberikan mereka tiket gratis untuk mereka pergi berbulan madu keluar negeri.


"Apa lebih baik aku mengatakan pada Papi bulan madunya di kampung saja karena soal perkerjaan Dewa?"


Maharani komat-komit sendiri, tengah membuat alasan agar tak jadi berbulan madu keluar negeri karena kalau di kampung, dia bisa meminta bantuan Supri, Bejo ataupun Bude Sri agar tidak digauli suaminya terus menerus. Tempo lalu, Sadewa mengatakan padanya kalau sekarang sudah menyerahkan soal perkerjaan kepada orang kepercayaannya di sana. Beberapa bulan yang lalu juga, Sadewa sudah panen dan mendapatkan banyak keuntungan. Jadi sekarang waktu yang tepat untuk meminta Sadewa kembali lagi berkerja, mengumpulkan pundi-pundi uang.


"Ya, benar, aku akan berbicara sama Papi nanti, hehe, awas saja kamu, Dewa!" Maharani tersenyum penuh arti setelah mendapatkan ide untuk mengagalkan rencana berbulan madu mereka keluar negeri.


"Sayang, jangan harap rencanamu akan berhasil."


Maharani tersentak saat dari belakang Sadewa berbisik pelan sambil melingkarkan tangan ke pinggangnya sekarang. Padahal tadi pintu kamar mandi sudah di kuncinya.


Maharani menoleh ke belakang. "De-wa? Sejak kapan kamu ada di sini dan bagaimana bisa?" tanyanya karena takut rencananya akan gagal.


Sadewa tersenyum penuh arti. "Hehe, aku kan punya kunci serep, kamu nggak perlu tahu aku di sini sejak kapan, sekarang kamu harus mendapatkan di hukum," ucapnya sambil membalikan badan Mahaarani dan mencium bibir sang istri dengan liar.


Maharani tak dapat berkutik. Dia merutuki dirinya sendiri karena tak bisa menolak Sadewa. Saat ini ia terbuai akan sentuhan yang diberikan suaminya hingga pada akhirnya pagi itu pergulatan pun kembali terjadi di kamar mandi. Sadewa benar-benar tak mengenal tempat dan waktu.


*


*


*


"Rani, apa kamu baik-baik saja, sepertinya kamu kurang tidur?" tanya Bude Sri saat melihat mata Maharani terlihat sayup.


Saat ini Sadewa dan Maharani sudah di ruang makan. Keduanya akan menyantap sarapan bersama keluarganya.


Maharani malah melirik tajam ke samping, dirinya mengantuk karena ulah suaminya itu.


Sadewa malah senyum-senyum sendiri.


"Iya Bude habisnya setiap malam Rani di gangguin terus karena harus ngadon donat' jadinya ngantuk deh," jawab Maharani cepat sambil melototi Sadewa.

__ADS_1


Melihat tingkah Maharani, Bude Sri mengerti. Dia pun tersenyum lebar. "Ada-ada saja, nggak apa-apa Rani, pahala buat kamu."


Maharani membalas dengan mendengkus kesal.


"Pi, bulan madunya di percepat jadi minggu depan aja, aku udah booking tiket untuk ke London," sahut Sadewa seketika.


"Apa!" Maharani terkejut karena rencananya untuk beristirahat sepertinya akan gagal.


"Boleh, tapi Papi udah booking tiket untuk bulan depan, Dewa," ucap Samsul.


Keduanya mengabaikan Maharani yang sudah nampak panik.


"Tiketnya kasi Tomi sama Rara, Pi." Sadewa melirik Tomi sekilas di hadapannya, sedari tadi saudara tirinya itu asik makan sendiri.


"Boleh Pi." Rara menimpali. Tentu saja dia sangat senang dengan perkataan Sadewa.


Samsul tak langsung membalas, tengah berpikir keras. "Hm baiklah."


"Nggak usah, Pi," sela Tomi cepat.


"Udah lah, Ra. Aku ini suami kamu, ikuti aja apa kata aku, lagian itu kan awalnya bukan buat kita, udah ah aku mau ke atas, kayaknya Meta udah bangun." Tomi langsung beranjak dari tempat duduknya dan melenggang pergi.


Rara berdecak kesal melihat tingkah Tomi.


Suasana mendadak aneh seketika. Baik Samsul, Sadewa, Maharani dan Bude Sri melemparkan pandangan sejenak.


*


*


*


Menjelang sore, Sadewa mengerutkan dahi, mendapatkan pesan dari Samsul untuk turun ke bawah. Dia melirik Maharani sekilas, melihat istrinya tertidur pulas karena baru saja selesai melakukan pergulatan tadi. Sebelum ke lantai dasar, Sadewa mengecup sekilas pucuk kepala sang istri.


"Ada apa Pi?" Langkah kaki Sadewa saat melihat Bapak kandungnya duduk di hadapan Samsul.

__ADS_1


"Duduklah dulu, Dewa," ucap Samsul kemudian.


Tanpa banyak kata Sadewa duduk di samping Samsul.


"Bagaimana kabarmu Nak? Bapak senang melihat kamu sekarang terlihat bahagia," ucap Anto tiba-tiba.


"Baik Pak."


"Hm baguslah, Bapak ke sini cuma mau meminta maaf lagi sama kamu, apa kamu mau memaafkan Bapak Nak?" Anto menatap lekat-lekat wajah putranya itu.


Sadewa tak langsung menjawab. Dia melirik Tomi sekilas yang baru saja melintas di ruangan.


Tomi seakan acuh tak acuh dengan kedatangan Anto. Dia memilih pergi sebelum kehadirannya di ketahui Bapaknya.


"Iya Pak, aku sudah memaafkan Bapak, Dewa juga minta maaf karena kemarin kasar sama Bapak."


Kemarin, Ajeng bertandang ke rumah dan menasehati Sadewa untuk memaafkan Anto. Walau bagaimana pun pria di hadapannya ini adalah Bapak kandungnya sendiri. Meskipun pernah melakukan kesalahan tapi tidak sepantasnya kita sebagai manusia menaruh dendam terus menerus. Setelah berpikir jernih dan menimbang-nimbang, akhirnya Sadewa mau memaafkan Bapaknya itu.


"Benarkah? Terima kasih Nak." Kedua mata Anto berbinar-binar setelah sekian lama, akhirnya putranya sendiri mau memaafkannya.


Samsul pun senang mendengar perbincangan Bapak dan anak itu dengan seksama.


"Iya Pak." Sadewa tersenyum tipis.


"Bapak sangat senang Nak, kamu mau memaafkan Bapak, oh ya sebenarnya Bapak kemari bukan hanya ingin meminta maaf denganmu tapi ada hal penting yang mau Bapak bicarakan juga," ucap Anto.


Dahi Sadewa berkerut samar. "Mau ngomong apa Pak?"


Sebelum menjawab Anto menarik napas panjang. "Kamu tahu sendiri, sekarang Bapak semakin tua dan bisnis Bapak sekarang yang pegang adalah Bapak sendiri, Bapak mau kamu selanjutnya yang mengembangkan bisnis Bapak, apalagi kamu sekarang kan sudah tinggal di Jakarta," ucapnya. Anto tak mau bisnis yang sudah ia dirikan sejak lama runtuh karena tak ada yang mengurus, jika ia pergi suatu saat nanti.


Sadewa terkejut karena Bapaknya tiba-tiba memintanya melanjutkan bisnis Bapaknya. "Pak, maaf sebelumnya, tapi Dewa tidak akan menetap di sini, Dewa mau kembali ke desa lagi sama istri Dewa."


"Apa maksudmu, Dewa?" Samsul tiba-tiba menimpali saat mendengar rencana Sadewa yang akan tinggal di kampung.


Sadewa menghembuskan napas pelan sebab belum memberitahu mertuanya akan rencananya kembali ke desa. Dia tengah merangkai kata-kata agar Samsul menyetujui rencananya.

__ADS_1


"Jadi kamu nggak mau melanjutkan bisnis Bapak? Apa kamu tidak bisa mempertimbangkan lagi Dewa, Bapak hanya punya kamu," ucap Anto dengan melayangkan tatapan memelas.


__ADS_2