
Keesokan harinya, hari yang dinantikan Sadewa telah tiba. Pagi-pagi sekali, dia sudah bangun dari tidurnya. Dengan langkah riang ia berjalan ke kamar Supri dan Bejo hendak membangunkan mereka.
Dengan susah payah Sadewa membangun Supri dan Bejo. Sampai pada akhirnya dia terpaksa menyirami teman-temannya dengan air seember.
Byur!
"Ahkkkk! Banjir! Banjir!" pekik Bejo sambil mengucek-ucek mata sejenak. Bejo masih ling-lung.
"Banjir woi!" teriak Supri tak kalah nyaring. Secepat kilat ia mengedarkan pandangan di sekitar. Melihat Sadewa tengah menahan tawanya.
"Hahahaha! Banjir bandang!" Sadewa memegang perutnya.
"J4ncok! Kita lagi asik-asik mimpi malah di bangunin!" Supri mendengkus kesal.
"Benar, Sup. Mana mimpi aku tadi lagi enak-enaknya lagi," ucap Bejo.
"Haha, udah ah ayo cepat kita siap-siap, ingat hari ini kita ada seleksi dari calon mertuaku!"
Sebelum Supri dan Bejo protes, secepat kilat Sadewa menarik tangan mereka untuk beranjak dari tempat tidur.
Selang beberapa menit, ketiganya sudah mandi dan memakai pakaian sesuai intruksi dari Samsul. Setelah memastikan semuanya aman, mereka pun bergegas ke rumah Maharani.
***
"Dewa, kok perasaan aku nggak enak ya, masa kita di suruh berdiri di sini, kayak mau latihan militer aja?" ucap Supri setengah berbisik di telinga Sadewa.
Beberapa menit yang lalu, setelah sampai di rumah Maharani. Ketiganya di suruh Dono untuk berdiri di depan pekarangan rumah sesuai perintah Samsul. Selagi menunggu Samsul untuk turun ke bawah. Mereka melemparkan pandangan satu sama lain sejenak, keheranan sebab sudah hampir setengah jam Samsul belum nampak batang hidungnya.
Di lantai dua, tepatnya di atas balkon, dari kejauhan diam-diam Maharani memperhatikan Sadewa dan kawan-kawannya. Dia tak diperbolehkan turun oleh Papinya selama seleksi berlangsung. Maharani menurut-nurut saja karena tak mau membuat Papinya marah.
Sedari tadi Maharani melengkungkan senyuman ke arah Sadewa di bawah sana, berharap pacarnya itu dapat lulus seleksi dan menikah bersamanya. Sebenarnya Maharani juga penasaran seleksi seperti apa yang akan diberikan Papinya kepada Sadewa, sampai-sampai harus memakai baju loreng dan celana training.
"Udah nggak usah banyak tanya, kita ikuti aja,"ucap Sadewa pelan.
"Hmmm!!!"
Dehaman kuat dari depan, membuat Sadewa, Supri dan Bejo terlonjak kaget. Ketiganya pun menatap ke arah sumber suara. Melihat Samsul berdiri tegap melayangkan tatapan tajam ke arah ketiganya secara bergantian. Pria itu memakai pakaian seperti tentara, baju kaos warna hijau agak ketat, celana panjang berwarna hitam, sepatu boots pendek, topi hijau dan terakhir di lehernya bertengker tali pluit berwarna merah.
Berulang kali Sadewa dan kawan-kawannya menelan ludah, menetralisir kegugupan yang melanda mereka tiba-tiba.
"Dewa, Sup, ini kita mau di apain ya?" Supri mencondongkan sedikit badannya ke arah Sadewa.
"Nggak tahu," balas Sadewa cepat tanpa menatap lawan bicara.
"Siapa yang suruh kalian berbicara?!" teriak Samsul seketika. Membuat detak jantung Sadewa, Supri dan Bejo berdegup kencang.
"Ng-gak a-da Pak," ucap Bejo sedikit terbata-bata.
__ADS_1
"Masih berbicara?!" Samsul berteriak sekali lagi.
"Tid–hmmf!" Belum sempat Supri meneruskan perkataannya, Sadewa langsung membekap mulut temannya itu.
Sadewa tersenyum kikuk kepada Samsul sekarang.
Samsul menyipitkan mata lalu mengangkat satu alis matanya. "Hari ini kalian akan mengikuti seleksi , kalian siap?"
"Siap Pak," balas Bejo cepat.
"Siapa yang suruh bicara ha!" teriak Samsul kemudian membuat Bejo mengelus dadanya.
"Tidak ada Pak, hehe," kata Bejo sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Samsul menyeringai tipis. "Hmm, untuk hari ini ada dua seleksi, ikuti saja petunjuk dan arahan dariku, jika gagal poin akan dikurangi masing-masing, mengerti?"
Tak ada sahutan, keheningan terjadi di sekitar sejenak.
Sadewa, Supri dan Bejo melirik satu sama lain, tengah kebingungan apa boleh membuka suara atau tidak.
"Kenapa kalian diam?" tanya Samsul setengah berteriak.
"Ta-di ka-tanya nggak bo-leh ngo-mong Pak." Bejo memberanikan diri membuka suara meski ia menjawab dengan terbata-bata.
"Sekarang boleh, siap atau tidak?"
"Siap, tidak!" Sadewa, Supri dan Bejo melempar satu sama lain sebab jawaban ketiganya berbeda-beda.
"Ya elah ngapain juga di tanyain kalau emang diharuskan siap ikutan seleksi." Tanpa sadar Bejo bergumam-gumam pelan namun, sayangnya dapat di dengar oleh Samsul, Sadewa dan juga Supri.
"Ngomong apa kamu ha! Push-up 200 kali kamu!" perintah Samsul seketika sambil menunjuk Bejo.
"Apa?" Bejo terkejut di tempat. "Tapi Pak–"
"Nggak ada tapi-tapi, push up sekarang waktu kita tidak banyak!" seru Samsul sambil mendekati Bejo lalu memberi kode pada Bejo untuk mengambil posisi push up.
Bejo langsung cemberut. Dengan terpaksa menuruti perkataan Samsul.
Sepuluh menit kemudian, dengan napas terengah-engah Bejo bangkit berdiri. Menatap kesal ke arah Samsul di depan, yang sekarang duduk di kursi sambil menyeruput kopi dan dari belakangn Dono mengurut-urut pundaknya.
"Sudah selesai?" Samsul menyodorkan gelas kepada Dono seketika. Secepat kilat Dono mengambil benda tersebut dari tangan majikannya.
"Sudah Pak." Bejo menarik napas panjang-panjang.
Samsul beranjak lalu berdiri tegap di hadapan ketiganya.
"Oke, seleksi akan segera di mulai, sekarang kalian lihat ke sebelah kanan bagian atas, itulah tugas kalian!" seru Samsul.
__ADS_1
Lantas Sadewa, Supri dan Bejo menengok ke atas. Dahi ketiganya berkerut kuat setelahnya.
"Tugas kita ngapain Pak? Lihatin doang kan Pak?" tanya Supri mulai ketar-ketir.
"Di buang!" seru Samsul tanpa beban.
"Apa? Itu kan sarang lebah Pak!" Sadewa, Supri dan Bejo terlonjak kaget. Bagaimana bisa mereka membuang sarang lebah yang hinggap di dekat pilar rumah Samsul itu sekarang.
"Ya, saya tahu itu sarang lebah, kalau mau lebih ekstrem lagi, sarang tawon juga ada di belakang sana," ucap Samsul sambil tersenyum penuh arti. "Ayo cepatlah, waktu kalian tidak banyak. Terserah kalian bagaimana caranya menyingkirkan sarang lebah itu dari rumahku, mereka sudah lama berdiam di sana!"
Tanpa mengeluarkan satu patah katapun, mimik muka Sadewa, Supri dan Bejo langsung berubah dratis. Dengan langkah gontai ketiganya menuju ke sisi kanan rumah.
"Dewa, kayaknya Bapaknya Rani ada dendam sama kita deh," celetuk Bejo seketika sambil mengambil batang kayu di atas meja yang sudah disiapkan penghuni rumah.
Sadewa menghela napas kasar."Mungkin, udah yuk kita atur strategi, biar tuh lebah nggak gigit muka kita," ucapnya.
"Ckck! Emang di pikir mudah apa Dewa, hii ngelihatnya aja udah merinding aku, tuh lihat tuh di atas, terbang-terbang mereka." Supri mendonggakkan kepala.
Untuk sesaat ketiganya bergedik ngeri membayangkan jikalau di sengat lebah-lebah di atas.
Lima menit kemudian setelah menyusun rencana dengan matang. Dengan bantuan tangga dan alat yang sudah disiapkan penghuni rumah. Kini Supri berdiri di atas pundak Sadewa. Dia tengah mengulurkan batang kayu ke sarang lebah. Dan dari bawah Bejo memberi intruksi, ke kanan atau ke kiri letak sarangnya sebab muka Supri sekarang ditutupi jaring pelindung wajah dari serangga, jadi penglihatan Supri tidak terlalu jelas.
"Yang mana Jo? Kanan apa kiri?" tanya Supri kebingungan karena Bejo tak jelas menyebut tadi antara kanan atau kiri.
"Kanan, kanan kayaknya," jawab Bejo.
"Ha? Kok kayaknya, yang benar dong, Jo." Supri kesal sendiri jadinya.
Sementara Sadewa sibuk melihat Maharani
memperhatikan mereka di ujung balkon sedari tadi. Wanita itu sedang memberikan ciuman melalui udara kepada Sadewa.
"Kiri, hehe, duh cantik banget sih, gemes deh," ucap Bejo.
"Ha? Ngawur kamu Jo, gemes sama lebah?" Supri mengerutkan dahi.
Bejo malah cekikikan. Pasalnya sedari tadi dia tak melihat ke atas, melainkan tengah curi-curi pandang pada seorang asisten rumah Maharani yang di dalam rumah tengah menggelap kaca. Wanita itu juga malu-malu meong sambil senyam-senyum ke arah Bejo.
"Bejo! Yang mana?!" Sudah habis kesabaran Supri, secepat kilat ia melempar kayu ke sembarang arah dan membuka cepat topinya.
Cret!!!
Baru saja di buka, wajah Supri terkena sesuatu. Dia keheranan. Secepat kilat memegang wajahnya dan mengendus-endus cairan apa itu.
"J4ncok! Tahi burung! Hoek!"
Entah mengapa kaki Supri kehilangan keseimbangan, menjadikan dia terjatuh seketika. Begitupula dengan Sadewa. Alhasil Supri menimpa tubuh Sadewa dan Bejo.
__ADS_1
Gedebum!
"Dewa!" teriak Maharani sambil membekap mulutnya sendiri.