Kepentok Cinta Petani Tampan

Kepentok Cinta Petani Tampan
~ Si Penganggu


__ADS_3

Setelah ketahuan kawan-kawannya, Sadewa akhirnya memutuskan untuk pulang. Dia sangat kesal karena tidak bisa leluasa berduaan bersama Maharani.


"Jangan marah lah bos, lagian niat kami ini baik kok ," celetuk Supri di belakang sambil menyenggol lengan Bejo sejenak.


"Iya benar bos, kami itu sedang mengusir setan tadi," Bejo malah nyengir kuda, memperhatikan kedua tangan Sadewa dan Maharani menempel seperti perangko sedari tadi.


Sadewa menoleh lalu berkata,"Bisa diam nggak!" Lalu menatap lurus ke depan lagi.


"Huuu takut, haha!"


Supri tertawa terpingkal-pingkal saat melihat wajah masam Sadewa. Yang menurutnya sangat lucu. Begitupula dengan Bejo. Dia pun menertawai Sadewa. Niatnya untuk menganggu pasangan yang tengah kasmaran itu, terkabul juga.


Lima menit kemudian, mereka sudah tiba di rumah Bude Sri. Satu-persatu mereka menyalami wanita tersebut.


"Wah, sesuai jamnya, terima kasih loh Dewa, kamu antarin Rani sampai dengan selamat." Bude Sri melemparkan senyuman. "Eh ada Supri dengan Bejo, pergi berdua pulang berempat," celetuknya.


"Iya Bude, terima kasih Bude, udah izinin tadi, biasa Bude, dua semprul ini memang suka gangguin kesenangan oranglain." Sadewa melototkan mata ke arah Supri dan Bejo.


"Waduh, lagian niat kita baik loh, Bude. Sebenarnya ya tadi tuh si Dewa mau–ahk!" teriak Bejo tiba-tiba. Saat Sadewa mencubit kuat lengannya saat ini.


Sementara, Supri terkikik senang, melihat penderitaan temannya itu.


"Ya Allah Gusti!" Bude Sri mengelus dadanya karena teriakan Bejo membuat jantungnya hampir saja copot. "Kalian ini ada-ada saja, ya udah ayo Rani masuk, sudah malam ini, waktunya buat kamu tidur, luka kamu belum pulih sepenuhnya."


Maharani mengangguk pelan. Sedari tadi dia senyam-senyum sendiri, menyaksikan interaksi antara Sadewa dan teman-temannya.


"Aku masuk dulu ya, Dewa." Sebelum melangkah masuk ke dalam, Maharani tersenyum manis pada Sadewa.


"Iya sayang! Muach!" Bukan Sadewa yang membalas, melainkan Supri dan Bejo serempak.

__ADS_1


Tandul di atas kepala Sadewa langsung muncul dan tanpa pikir panjang menarik kuat telinga Supri dan Bejo.


"Ahk! Aduh, aduh ampun bos!" Supri dan Bejo mengaduh kesakitan.


Maharani dan Bude Sri terkekeh kuat dibuatnya sekarang.


*


*


Pagi menyongsong, di hari yang indah ini, Maharani bangun dengan hati yang berbunga-bunga. Walau tadi malam tak bisa tidur karena bayangan wajah Sadewa menari-menari dibenaknya, Maharani tetap memaksakan diri untuk melakukan aktivitasnya seperti biasa.


Maharani merasa tubuhnya sudah sembuh total jadi dia memutuskan untuk Bude Sri pergi ke sawah, sekaligus bertemu pacar barunya, Sadewa.


Dan tak terasa pula sudah seminggu keduanya berpacaran. Bude Sri mengetahui hubungan di antara Sadewa dan Maharani. Dia hanya berpesan untuk pandai-pandai dalam berpacaran dan tidak melakukan sesuatu di luar batas.


Maharani sangat bersyukur karena Bude Sri menyetujui hubungan mereka. Dia pun berjanji akan menjaga dirinya. Hari minggu ini, Sadewa mengajaknya untuk berjalan-jalan di desa. Namun, sebelum pergi, Sadewa mengajaknya pergi ke warung Koko Aliong terlebih dahulu hendak mengambil titipan obat untuk Ibunya.


"Sama-sama, haih ya, gue dengar-dengar lu berdua pacaran ya." Koko Aliong melemparkan senyuman ke arah Maharani dan Sadewa sejenak.


"Ko Aliong tahu dari siapa?" tanya Maharani penasaran.


"Itu, dari Supri dan Bejo!" seru Koko Aliong sambil menunjuk ke arah pohon, memperlihatkan Supri dan Bejo mengintip-intip. Mereka tahu ternyata persembunyian mereka diketahui Sadewa dan Maharani sekarang.


Maharani dan Sadewa menoleh bersama-sama. Lalu membuang napas kasar karena kedua pria itu selalu saja mengikuti mereka sejak kemarin.


"Sudahlah, biarkan saja Dewa. Mungkin mereka merasa kehilangan dirimu, karena temannya menghabiskan banyak waktu bersama pacarnya dari kemarin, jadinya mereka mengikuti kita dari," kata Maharani lalu tersenyum hangat.


"Kehilangan apanya, wong mereka itu memang senang buat aku kesal," ucap Sadewa sambil membuang napas kasar.

__ADS_1


Memang benar, Supri dan Bejo sudah seperti anak ayam yang menganggu waktunya untuk berdua bersama Maharani. Dan hal itulah yang membuat Sadewa sampai sekarang belum bisa berpelukan mesra dan berciuman dengan Maharani. Padahal dia sangat ingin bermesra-mesraan bersama kekasihnya itu. Namun, karena Supri dan Bejo keinginannya belum juga kesampaian.


"Sabar ya." Maharani menenangkan Sadewa dengan mengelus pelan punggung kekasihnya.


Sadewa mendengus pelan.


"Haha, Dewa, Dewa, mungkin Supri sama Bejo perlu di kirim ke planet Mars," celetuk Koko Aliong seketika.


"Saran yang bagus, Ko." Sadewa tersenyum lebar


"Hehe, Koko mau ucapin selamat sama kalian dan ingat pacaran sewajarnya aja, jangan sampai kebablasan. Jaga hati, jaga mata dan jaga pandangan, hehe."


"Iya, terima kasih Ko." Tanpa sadar Sadewa dan Maharani membalas perkataan Koko Aliong dengan serempak.


Keduanya pun melemparkan senyum sekilas.


"Haih ya! Koko udah kayak obat nyamuk aja, ya sudah mau jalan-jalan kan, hati-hati ya, tuh dua orang masih ngitilin kalian!" celetuk Koko Aliong sambil menunjuk Supri dan Bejo dengan bibirnya.


"Iya, Ko," jawab Sadewa.


Setelah selesai dengan urusannya. Sadewa mengandeng tangan Maharani lalu berbisik pelan. "Rani, kalau aku bilang lari, lari ya."


"Ha? Memangnya kenapa?" tanya Maharani keheranan. Pasalnya belum juga keduanya belum terlalu jauh dari warung Koko Aliong. Sadewa sudah meminta dirinya untuk berlari di siang bolong begini.


"Udah, ikutin aja kata-kata aku, tuh duo semprul masih ngikutin kita, aku mau kerjain mereka."


Maharani geleng-geleng kepala pelan lalu tersenyum. "Ada-ada saja kamu, ya deh iya."


"1, 2, 3 lari!!!" teriak Sadewa kemudian berlari kencang bersama Maharani.

__ADS_1


"Bejo, ayo cepat kejar mereka! Si bos kabur!" teriak Supri saat melihat Sadewa dan Maharani menjauhi mereka.


Bejo dan Supri auto ngacir dari balik pohon hendak mengejar Sadewa dan Maharani.


__ADS_2