
"Kamu cemburu ya, Rara mau menikah." Mirna tersenyum sinis pada Maharani.
"Maaf ya tante, aku nggak peduli Rara mau menikah dengan mantan aku atau tidak, tapi karena aku sudah betah tinggal di sini dan aku memutuskan untuk jadi petani saja," ucap Maharani dengan penuh penekanan.
"Rani, jangan ngelawan kamu, pokoknya hari ini kamu harus pulang ke Jakarta!" seru Samsul.
"Aku nggak mau, Pi! Seharusnya Papi senang karena aku nggak akan ganggu keluarga Papi lagi, biarin aku tinggal di sini sama Bude," ucap Maharani tanpa beban sedikitpun.
Sudah bulat tekad Maharani untuk menetap di sini. Kalaupun ia mau melanjutkan sekolah, setelah dia mengumpulkan uang di desa. Lagipula kalau di Jakarta, dirinya selalu merasa kesepian, sementara di desa, Maharani memiliki banyak teman dan pacar yang selalu mendukungnya.
Samsul meradang. "Jangan membantah Rani!" bentaknya kemudian mengalihkan pandangan ke arah Dono. "Dono, ambil baju-baju dia di kamar sekarang!" titahnya.
"Nggak! Aku nggak mau pulang ke Jakarta!" Maharani berlarian menjauhi rumah Bude Sri seketika.
Bude Sri, Samsul dan Dono kalang kabut. Secepat kilat Samsul menyuruh Dono untuk mengikuti Maharani.
Berbeda dengan Mirna, dia sangat senang mendengar perkataan Maharani barusan' yang memilih tinggal di desa, jadi Rara memiliki kesempatan menjadi ahli waris bisnis Samsul. Walaupun selama ini Samsul selalu memberikan perhatian selayaknya seorang suami tapi pria itu malah mencatut nama Maharani sebagai pewaris kerajaan bisnisnya. Padahal Mirna sudah membujuk rayu Samsul agar mau membagi setengah ahli waris kepada Rara tapi Samsul hanya memberikan fasilitas seperti mobil, uang dan barang-barang mewah. Tentu saja Mirna tak merasa puas.
"Mir, aku mau susul Dono dulu ya, kamu tunggu di dalam dulu sama Sri, Rani itu keras kepala, si Dono pasti kewalahan" ucap Samsul saat tak kunjung melihat batang hidung Maharani dan Dono.
"Iya Mas, jangan lama-lama ya," ucap Mirna tersenyum lebar.
"Sri, aku titip Mirna ya," ucap Samsul kepada Bude Sri yang tengah menatap penuh arti pada Mirna saat ini.
"Ya, semoga saja masalah ini cepat selesai, tahan emosi Bang, walau bagaimanapun Rani anak kamu, dengarkan juga pendapatnya," ucap Bude Sri.
Samsul mengangguk cepat kemudian berlalu pergi dari hadapan keduanya.
"Buatin aku teh es dong, panas banget di sini!" Selepas kepergian Samsul, Mirna mengekori Bude Sri yang berjalan cepat melewati dirinya begitu saja.
__ADS_1
Bude Sri menghela napas kasar. "Iya, ayo masuk dulu ke rumah, biar nggak kepanasan."
Mirna mengangkat angkuh dagunya lalu mengekori Bude Sri untuk masuk ke dalam rumah.
"Ugh, rumah kamu bau banget sih, Sri." Saat di teras depan, Mirna mengedarkan pandangan sambil menutup hidungnya seketika. Dia seakan jijik tatkala melihat beberapa taik ayam menghiasi halaman tersebut.
"Belum aku bersihin, Mirna. Makanya kalau mau ke sini kabari aku, supaya nggak bau badan kamu," ucap Bude Sri sedikit ketus.
Mirna malah memutar mata malas.
"Oh jadi ini rumah mendiang suami kamu, jelek banget sih! Aneh ya, si Rani mau tinggal di desa sama kamu, eh tapi nggak aneh sih, cocok sih anaknya Santi tinggal di gubuk ini," ucap Mirna ketika sudah masuk ke rumah Bude Sri.
Bude Sri melirik Mirna sekilas. Wanita itu terlihat enggan menanggapi perkataan Mirna barusan. Dia memilih pergi ke dapur, meninggalkan Mirna sendirian.
"Hiii, bau banget, hoek!" Mirna duduk pelan-pelan di kursi kayu yang terdapat di ruangan lalu menyilangkan kakinya. Sembari menunggu kedatangan Bude Sri, dia memainkan bermain sosial media ponselnya sejenak.
"Ini teh esnya." Bude Sri meletakkan gelas di hadapan Mirna.
"Teh es aja? Nggak ada cemilan atau apa gitu?"
Bude Sri menarik napas panjang. "Nggak ada, kan udah aku bilang, lain kali kalau mau ke sini, bilang dulu Mirna, aku ini lebih tua dari kamu, sopan sedikit kamu sama aku."
Mirna melebarkan mata seketika. "Jadi kedatangan kami ke sini ngebuat kamu terbebani ya! Ingat ya Sri, tamu itu raja, seharusnya kamu memperlakukan aku dengan baik! Pantas saja mendiang orangtua kamu mengusir kamu dulu, karena sikap kamu yang keras kepala begini, sama kayak si Rani!"
"Sayangnya tamu seperti kamu nggak pantas diperlakukan seperti Raja, jangan sembarangan ngomong kamu! Bukannya mereka mengusirku juga karena ulahmu waktu itu!"
Sudah habis kesabaran Bude Sri. Mirnalah yang menjadi dalang mengapa dia tak pernah pergi ke Jakarta setelah berumah tangga bersama mendiang suaminya dulu. Wanita di hadapannya ini persis seperti ular. Bagaimana tidak' ketika dia menunggu restu dari orangtuanya dulu. Tanpa sepengetahuan Santi ataupun Samsul. Secara diam-diam Mirna bertandang ke rumah orangtuanya dan mengompori mereka. Alhasil dia pun di usir dari rumah.
Mirna tersenyum smirk. "Oh jadi kamu udah tahu?" ucapnya sambil mendelikkan mata.
__ADS_1
Bude Sri enggan menjawab. Saat ini ia menatap tajam Mirna dengan tangan terkepal kuat.
"Baguslah kamu tahu, jadi aku tidak perlu basa-basi lagi." Sambung Mirna lagi.
"Tentu saja aku tahu semuanya, bahkan aku juga tahu siapa dalang di balik kematian Santi, mendiang istri dari suamimu saat ini," ucap Bude Sri kemudian dengan melayangkan tatapan mengintimidasi.
"Apa mak-sud-mu? Me-mangnya sia-pa dalangnya?" tanya Mirna sedikit gelagapan.
Bude Sri berdecih sejenak. ''Aku tidak perlu memberitahu siapa pelakunya, bukankah pelakunya ada di hadapanku sekarang," ucapnya.
"Jangan sembarangan nuduh kamu!" seru Mirna sambil bangkit berdiri.
Mirna ketar-ketir, bagaimana bisa rahasia yang sudah lama ia kubur selama bertahun-tahun bisa diketahui Bude Sri. Ya dialah pelaku utama yang membuat rem mobil Santi blong, sahabatnya sendiri. Hal itu dikarenakan ia ingin terbebas dari suaminya yang miskin dulu. Mirna sangat iri dengan kehidupan Santi yang terlahir dari keluarga kaya raya dan memiliki suami kaya pula. Jadi dia ingin berada di posisi Santi. Untuk mendapatkan posisi Santi, dia bermain licik dengan menyuruh orang mengotak-atik mobil Santi dan akhirnya kecelakaan yang direncanakan Mirna pun terjadi.
"Aku nggak nuduh, karena aku yakin pasti kamu pelakunya, setelah Santi meninggal dia sempat datang ke dalam mimpiku, dia mengatakan kamu lah yang membunuhnya," ucap Bude Sri.
"Haha! Gila kamu ya, Sri. Itu cuma mimpi, mimpi kok di percaya, aneh banget!" Mirna menghela napas kasar.
"Kalaupun cuma mimpi, kenapa kamu tadi ketakutan?" tanya Bude Sri menatap tajam.
Walau cuma bunga tidur, Bude Sri merasakan feeling yang kuat kalau Mirna lah pelakunya. Sejak kepergian Santi, Bude Sri berusaha mencari bukti atas kejahatan Mirna akan tetapi hasilnya nihil. Apalagi kala itu dia juga memiliki permasalahan dengan kedua orangtuanya.
"Aku nggak takut tuh, cuma terkejut aja, jangan sembarangan nuduh kamu, aku sama Santi berteman baik, dia pernah menitipkan suaminya padaku kalau dia tiba-tiba pergi suatu saat nanti." Sebisa mungkin Mirna bersikap biasa saja agar Bude Sri tak curiga.
"Kamu pikir aku percaya? Dengan aku aja kamu bisa memutarbalikkan fakta, apalagi dengan Santi? Tunggu saja, Mir, suatu saat nanti kamu akan kena getahnya!" seru Bude Sri.
Mirna tersenyum sinis. "Sri, Sri, mimpi kamu jangan ketinggian, buktinya juga nggak ada tuh!"
"Aku memang belum memiliki bukti atas kejahatan kamu, Mirna, tapi aku percaya akan peribahasa lama, sepintar-pintarnya bangkai ditutupi, baunya tetap tercium juga!" seru Bude Sri berapi-api.
__ADS_1
"Mirna, Sri!" Samsul menyembul tiba-tiba dari balik pintu.