Kepentok Cinta Petani Tampan

Kepentok Cinta Petani Tampan
Akan di Pertimbangkan


__ADS_3

Sebelum menjawab pertanyaan Samsul, Sadewa menarik napas panjang-panjang. Lalu menengakkan punggungnya dan menatap ke dalam bola mata Samsul.


"Mungkin jawaban saya terdengar klise bagi Bapak, tapi saya punya cinta untuk anak Bapak. Bapak tenang saja, saya akan memenuhi kebutuhan Rani. Iya saya sudah tahu Pak, Rani tidak bisa memasak dan lain-lainnya. Tapi saya yakin suatu saat dia pasti bisa, saya akan membimbing dia menjadi istri yang baik untuk anak-anak saya kelak, begitupun saya sebaliknya, akan menjadi imam yang baik untuk Rani. Saya menerima Rani apa adanya, baik itu kekurangan maupun kelebihan dia," ucap Sadewa, lantang.


Tak ada sahutan, mendadak ruangan menjadi hening seketika.


Dengan sabar Sadewa menunggu tanggapan dari Samsul.


Sama halnya dengan Supri dan Bejo, sedari tadi duduk di samping kanan dan kiri Sadewa. Keduanya tak berani memandangi Samsul, memilih untuk menundukkan mukanya. Supri dan Bejo sangat cemas kala Samsul tak langsung menyanggahi jawaban Sadewa. Keduanya curi-curi pandang satu sama lain sekarang.


Sementara itu, dari balik gorden, Maharani mematung di tempat, mendengar jawaban Sadewa. Semakin berbunga-bunga hati Maharani dibuatnya. Tanpa sadar dia tersenyum lebar.


"Rani!" panggil Samsul tiba-tiba tanpa menatap lawan bicara.


Mendengar namanya di sebut, Maharani terlonjak kaget sambil mengelus pelan dadanya.


"Kemari Nak, keluarlah." Samsul memutar kepala, menatap datar anak kandungnya itu.


Maharani tampak salah tingkah. Karena ternyata Papinya mengetahui dirinya menguping pembicaraan mereka. "Hehe, iya Papi." Dengan pelan gadis manis itu menghampiri Samsul di ruang tamu.


"Duduklah, di samping Papi," titah Samsul sambil menepuk-nepuk sofa di sampingnya.


Maharani mengangguk lalu mendaratkan bokongnya di sofa empuk tersebut. Melemparkan senyum kikuk pada Sadewa, Supri dan Bejo.


Suasana mendadak canggung.


"Jadi bagaimana Pak?" Sadewa memberanikan diri bertanya kembali. Dia tak mau membuang-buang banyak waktu lagi. Mengingat kejadian kemarin saat Maharani dinikahkan paksa oleh Papinya. Membuat dia was-was dan takut Maharani akan dinikahkan dengan orang lain.


"Hmm."


Samsul berdeham rendah membuat Sadewa dan Maharani ketar-ketir ketika menanti jawaban dari Samsul.


"Dono," panggil Samsul seketika saat melihat Dono baru saja masuk ke dalam rumah.


Helaan berat terdengar dari hidung Sadewa dan Maharani.


Dono keheranan, melemparkan pandangan sejenak. "Iya Den, kenapa Den?" tanyanya.


"Ambilkan aku rokok di ruang tengah dan buatkan aku kopi hitam seperti biasa, aku tidak bisa berpikir dengan jernih sekarang gara-gara belum minum kopi sepertinya," ucap Samsul cepat.


"Biarin Rani aja yang buatin, Pi. Rani bisa buatin kopi Papi kopi kok."


Belum juga bibir Dono bergerak, Maharani sudah menyela terlebih dahulu. Maharani ingin berusaha membuktikan pada Papinya bahwa dia bisa menjadi ibu rumah tangga yang baik juga.

__ADS_1


Samsul melirik ke samping, satu alisnya terangkat sedikit. "Memangnya kamu bisa, bukannya kamu susah membedakan garam dan gula selama ini?" tanyanya jujur.


Maharani nyengir kuda. "Rani sudah bedain kok Pi, tenang aja, udah ya, Rani ke dapur dulu," katanya sambil bangkit berdiri.


"Hmm."


Selepas kepergian Maharani dan Dono. Suasana di ruangan semakin canggung, Sadewa tak berani mendesak calon mertuanya itu sepertinya Samsul tengah mempertimbangkan matang-matang. Hal itu dapat dia lihat Samsul meminta dibuatkan kopi barusan. Yang artinya, Samsul ingin minum kopi dulu baru setelah itu memberi jawaban.


Selang beberapa menit, meja di ruang tamu itu sudah tersaji empat gelas kopi hitam. Maharani membawakan juga setoples kue bawang untuk tamu yang tak di undang itu.


Tanpa mengeluarkan satu patah katapun Samsul mengambil gelas dan mulai menyeruput kopi buatan anaknya itu secara perlahan. Begitupula dengan Sadewa dan kawan-kawannya.


Byur!!!


"Asin, woi!" Supri dan Bejo menyemburkan kopi seketika. Secepat kilat mereka meletakkan gelas di atas meja.


Maharani terkejut. Mengapa rasa kopinya asin, apa karena dia salah mengambil antara gula dan garam. Padahal tadi dia sudah berusaha menajamkan penglihatannya saat di dapur tadi. Sampai saat ini, Maharani mengakui dirinya belum terlalu lihai membedakan antara gula dan garam.


Berbeda dengan Sadewa dan Samsul. Dengan susah payah keduanya menelan air tersebut lalu meletakkan gelas ke atas meja.


"Inilah yang aku maksud, Dewa. Apa kamu masih mau menikah dengan anakku ini?" tanya Samsul kemudian.


"Masih, Pak. Saya nggak peduli, saya akan mengajari Rani nanti," ucap Sadewa sambil curi-curi pandang ke arah Maharani, yang nampak malu karena hasil buatan kopi tak enak.


Akhirnya sebuah jawaban yang dinantikan Sadewa sedari tadi terjawab sudah, walaupun dia harus melewati beberapa seleksi. Sadewa tak akan menyerah.


Sadewa, Maharani, Supri dan Bejo mengembangkan senyuman.


"Baik Pak. Saya akan mengikuti seleksi dulu dari Bapak."


Samsul melipat tangan di dada lalu menyeringai tipis. "Oke, tiga tahap seleksi, dan teman-temanmu juga harus ikut seleksi."


"Apa?!" Supri dan Bejo terkejut.


"Kenapa kami harus ikut Pak, kan yang mau ngelamar Dewa, bukan kami," protes Supri cepat.


"Itu adalah hukuman untuk kalian, karena membuat keributan di rumahku tadi malam, kalau kalian tidak mau ikut, maka aku ti–"


"Tenang, tenang, Pak. Supri dan Bejo pasti akan ikut Pak." Dengan cepat Sadewa memotong perkataan calon mertuanya itu sambil menatap tajam Supri dan Bejo.


"Apa! Mana bisa begitu–hmfff!" Sebelum Bejo protes, Sadewa langsung membekap mulut temannya itu seketika.


Sedangkan Supri hanya mampu berdecak kesal di dalam hatinya

__ADS_1


"Oke, seleksi akan di mulai besok, datanglah pagi-pagi ke rumahku, pakai baju warna loreng dan celana training, kalau gagal aku tidak akan merestuimu," ucap Samsul sambil beranjak dari tempat duduk.


"Baik Pak," balas Sadewa tanpa menurunkan tangan dari mulut Bejo.


Samsul mengangguk pelan. Lalu melangkah masuk ke dalam sambil berkata,"Rani, Papi ke dalam dulu."


Maharani melengkungkan senyuman lebar. "Iya Pi."


"Hmfff!" Setelah punggung Samsul menghilang, Sadewa langsung menurunkan tangannya dari bibir Bejo.


"J4ncok! Susah napas aku, Dewa!" seru Bejo dengan hidung kembang kempis.


"Ish! Salahmu sendiri tadi! Makanya jangan banyak membantah! Ikuti saja kata Bapaknya Rani." Sadewa melototkan mata.


Kedua mata Bejo mendelik ke atas sambil mencebikkan bibir.


"Tapi Dewa, kenapa seleksinya sampai tiga tahap begitu, emangnya kita mau latihan militer, mana di suruh pakai baju loreng lagi!" Supri keheranan, mengapa permintaan Samsul begitu aneh.


Sadewa mengedikkan bahu sedikit, menandakan ia tidak tahu.


"Sorry ya guys, Papi aku buat kalian jadi kesusahan." Maharani tak enak hati karena Papinya juga meminta Supri dan Bejo ikut serta dalam permasalahan kisah cintanya.


Melihat wajah Maharani murung, Sadewa bangkit berdiri dan duduk di samping kekasihnya.


"Dah, nggak usah di pikirkan Sayang, yang terpenting Papi kamu tidak menolak aku mentah-mentah tadi, aku yakin suatu saat nanti kalau aku punya anak perempuan, bakalan kayak Papi kamu juga nanti," ucap Sadewa sambil menggengam tangan Maharani.


Maharani menggulas senyum tipis. "Hehe, terima kasih Sayang, udah mau ngertiin Papiku, i love you."


"I love you too, muach!" Sadewa melayangkan kecupan melalui udara.


"Hoek, dasar bucin kronis, ada kita woi di depan!" ucap Bejo sambil memutar mata malas.


Sadewa mengalihkan pandangan ke arah Bejo seketika. "Iri!"


"Jo, Dewa, tapi kenapa perasaan aku nggak enak ya, kita nggak di apa-apain sama Bapakmu kan Rani?" Supri masih belum terima dengan keputusan Samsul.


"Nggak tahu Jo, semoga saja nggak," balas Maharani.


Supri dan Bejo malah ketar-ketir.


...****************...


Maaf updatenya nggak rutin 🙏, lagi sibuk sama dunia nyata

__ADS_1


__ADS_2