Kepentok Cinta Petani Tampan

Kepentok Cinta Petani Tampan
Terkuak


__ADS_3

Keesokan harinya, setelah mengikuti dua seleksi kemarin di rumah Maharani, Supri dan Bejo begitu senang karena tidak mengikuti seleksi ketiga. Sehingga mereka bisa tidur nyenyak. Berbeda dengan Sadewa setelah mendapatkan tantangan dari Samsul kemarin. Pikiran Sadewa berkecamuk sejak semalam. Menebak ada yang tidak beres dengan Mirna. Dari semalam juga diam-diam Sadewa bergerak terlebih dahulu, mencari tahu apa yang terjadi.


Sadewa begitu terkejut kala mengetahui rekaman tersebut adalah hari di mana Mama Maharani meninggal dunia. Dia pun bersemangat untuk menyelesaikan seleksi ketiga ini. Selesai mandi dan memakai pakaian, Sadewa bergegas ke rumah Maharani hendak menemui calon mertuanya itu.


"Ngapain kamu ke sini?!" tanya Mirna saat melihat Sadewa lah yang menekan bell rumah.


"Aku yang menyuruh Dewa ke sini."


Belum juga bibir Sadewa bergerak, Samsul berjalan cepat menuruni anak tangga, menghampiri mereka.


Secepat kilat Mirna menoleh, melihat Samsul sudah mandi dan rapi. "Mas, kenapa kamu suruh pria miskin ini ke sini? Kurang kerjaan sekali, ganggu orang pagi-pagi?"


"Dewa, masuklah." Bukannya membalas perkataan Mirna, Samsul malah menyuruh Sadewa untuk segera masuk.


Sadewa tersenyum kikuk lalu membungkukkan badannya sedikit dan berjalan masuk ke dalam' melewati Mirna yang terpaku di tempat.


"Ayo ikut aku." Samsul melirik sinis Mirna sekilas lalu mempersilahkan Sadewa untuk mengikutinya ke suatu tempat.


"Hari ini pakailah mobilku pergi ke kantor polisi dan ikuti petunjuk yang aku berikan padamu kemarin," ucap Samsul kemudian.


"Baik Pak."


"Laporkan padaku secepatnya, jika ada pertanyaan dan hambatan di jalan, beritahulah aku," Sekali lagi Samsul berkata tanpa menatap lawan bicara.


"Iya, Pak. Apa ada petunjuk lain, selain video itu Pak, karena wajah pria itu tidak jelas dan buram." Sadewa memberi tanggapan dan memang benar pria yang ada di dalam rekaman, wajahnya sama sekali tak nampak.


Samsul menghela napas lalu menghentikan langkah kaki. "Tidak ada, Dewa. Aku sangat berharap kamu dapat mengungkapkan apa yang terjadi pada hari itu," ucapnya sambil menatap Sadewa.


Aku yakin sekali kalau Mama tiri Rani lah dalang di balik kematian Mama kandung Rani, semoga saja aku mendapatkan petunjuk.


Monolog Sadewa di dalam hati.


"Baik, Pak. Akan saya usahakan, apa saya boleh meminta video rekaman video itu lagi Pak?"


"Boleh." Samsul segera mengambil ponsel di sakunya dan mengirim video tersebut ke nomor Sadewa.


Selang beberapa menit setelah berbincang-bincang bersama Samsul. Sadewa memutuskan untuk bergegas pergi ke tempat tujuannya. Namun, suara seseorang di belakang menghentikan gerakan kaki Sadewa.

__ADS_1


Sadewa menoleh lalu mengembangkan senyuman. Melihat sosok yang sangat ia cinta itu menghampirinya. "Rani."


Maharani mendekat sambil ttersenyum hangat. "Hati-hati Sayang, jangan laju-laju pakai mobilnya hehe, ini aku membawakanmu bekal," ucapnya sambil menyodorkan tempat makanan kepada Sadewa.


Sadewa mengambil alih kotak bekal itu dari tangan Maharani. "Terima kasih Sayang, iya doakan aku ya."


Maharani mengangguk cepat.


Sadewa mengemudikan mobil keluar dari kantor polisi. Setelah tadi bertanya pada petugas keamanan tentang kecelakaan beberapa tahun silam dan menunjukan video tersebut, mereka bungkam. Sadewa menebak jika mereka sudah di beri uang pencuci mulut. Tak mau menyerah, Sadewa akhirnya memutuskan pergi ke tempat teman kuliahnya dulu, yang kebetulan seorang progamer IT.


Tak butuh waktu yang lama, Sadewa sudah sampai di rumah temannya. Dia pun langsung meminta teman lamanya, menelusuri rekaman yang tak jelas itu.


"Kayaknya gue kenal deh sama pemilik jaket ini, jaketnya mirip anak geng motor, tuh coba lu lihat logo di belakangnya?" Pria bermata sipit itu menunjuk ke layar komputer.


"Ya benar, Sen?" Sadewa menyipitkan mata, menajamkan penglihatannya.


"Iya, gue otak-atik dulu bro, videonya di edit nih, tenang aja lu, setelah itu kita ke tempat anak geng motor itu."


"Oke, thanks Sen."


Waktu menunjukkan pukul tiga sore, suasana di kediaman Samsul nampak sunyi. Dan hanya terdengar suara gemercik air mancur di tengah-tengah ruangan keluarga. Mirna sedang menyirami bunga hiasnya yang terdapat di sudut-sudut ruangan.


"Mirna!" panggil Samsul seketika dengan meninggikan suara.


Mirna tersentak. Secepat kilat ia memutar badan. Melihat Samsul melangkah cepat, mendekatinya. Mirna ketakutan kala sorot mata Samsul menyiratkan kemarahan. Tanpa sadar ia memundurkan langkah kakinya.


Plak!!!


"Ahk!" Mirna meringis kesakitan kala pipinya di tampar kuat oleh Samsul barusan. Dia menoleh ke depan sambil memegangi pipinya yang terasa panas sekarang. "Mas, salahku apa?" tanyanya dengan mata berkaca-kaca.


Samsul melempar beberapa lembar foto dan bukti-bukti transaksi tepat di muka Mirna.


"Kamu masih bertanya salahmu apa ha! Dasar pembunuh! Bodoh sekali aku, selama ini menikahi pembunuh istriku sendiri!"


Deg.


Mirna membeku, rahasia yang sudah lama ia simpan rapat-rapat, akhirnya terungkap juga. "Mas, aku–"

__ADS_1


"Diam!!! Mulai detik ini aku jatuhkan talak padamu, Mirna! Kamu bukan istriku lagi!"


"Mas!" Napas Mirna tercekat. Dia menitihkan air matanya seketika.


"Papi, ada apa?" Maharani baru saja turun bersama Bude Sri dari lantai dua, setelah mendengar keributan di bawah.


Samsul menoleh. Menatap nanar putri kandungnya yang menderita karena ulahnya selama ini. Dia merasa seperti pria bodoh, mengabaikan Maharani dan malah membela Mirna, yang jelas-jelas membunuh Santi, mendiang istrinya.


Beberapa menit yang lalu, Samsul mendapatkan sebuah file dan video dari Sadewa. Betapa terkejut dirinya saat melihat video menampilkan pria bertopi hitam itu mengotak-atik mobil Santi dan setelah itu Mirna memberikan pria itu amplop berwarna coklat, yang diyakini di dalamnya ada uang. Tak cukup sampai di situ, Sadewa juga menunjukkan rekaman pria tersebut, yang mengaku di suruh Mirna.


"Rani, naik ke atas kamu, Sri bawa Rani ke atas." Samsul memberi kode pada Bude Sri agar membawa Maharani ke atas.


Bude Sri mengangguk dan merangkul tangan Maharani. Sementara, Maharani mengerutkan dahi, tengah kebingungan apa yang terjadi. Dengan berat hati ia mengikuti perkataan Papinya dan berlalu pergi.


Dalam sepersekian detik, dari depan pintu utama, Sadewa masuk ke dalam bersama dua orang petugas keamanan.


"Tangkap dia! Jebloskan ke penjara!" Samsul menunjuk Mirna yang masih menangis sedari tadi.


Mirna meraung histeris saat para petugas keamanan mencekal dan memborgol pergelangan tangannya seketika.


"Lepaskan aku! Nggak Mas, jangan! Aku minta maaf Mas! Aku benar-benar minta maaf!!!" seru Mirna sambil menoleh ke arah Samsul.


Samsul hanya diam saja. Melihat Mirna di seret petugas polisi. Dia menoleh ke belakang sekilas saat Bude Sri turun lagi ke bawah.


Melihat kedatangan Bude Sri, Mirna meradang. "Ini semua gara-gara kamu, Sri! Dasar wanita mur4han! Argh!!! Rara tolong Mama Nak!" teriaknya sambil berusaha memberontak.


Mendengar namanya di panggil, Rara yang kebetulan baru selesai menidurkan anaknya, berlarian menuju sumber suara.


Kedua mata Rara terbelalak, melihat Mirna di seret polisi keluar dari rumah."Mama! Ada apa ini?!"


Mirna malah menjerit-jerit tak jelas. Secepat kilat Rara mengalihkan pandangan ke arah Samsul. "Pi, Mama mau di bawa kemana?"


Samsul mengabaikan Rara.


"Dewa, Sri, ayo ikut aku ke ruangan lain," ucap Samsul sambil mengurut pelipisnya.


Sadewa dan Bude Sri mengangguk cepat lalu mengikuti langkah kaki Samsul dari belakang. Meninggalkan Rara sendirian di ruangan, dengan raut muka penuh tanda tanya besar.

__ADS_1


__ADS_2