Kepentok Cinta Petani Tampan

Kepentok Cinta Petani Tampan
Luka Lama (Revisi)


__ADS_3

Dengan langkah gontai, Sadewa keluar dari rumah Maharani. Dia menoleh ke belakang sejenak, melihat Samsul dan Mirna saling melempar pandangan.


Sadewa mendengkus kesal sebab meninggalkan Supri tadi di rumahnya. Semisal ada Supri, mungkin saja dia dapat membawa Maharani kawin lari tadi. Tapi ibarat nasi sudah menjadi bubur, dan tak dapat lagi untuk disesali. Kalaupun menunggu Supri bangun tidur, dia tidak akan bisa mengagalkan pernikahan Maharani. Setidaknya sekarang dia bernapas lega karena Maharani tak jadi menikah dengan Bima.


Sadewa mengeluarkan lagi darahnya keluar. Dia menarik dan menghembuskan napas dengan perlahan, tengah meraup udara di sekitar agar mengisi paru-parunya.


Sesampainya di ambang gerbang perumahan, Sadewa melirik Pak Satpam, ternyata ikatan talinya masih melilit tubuh pria tersebut. Helaan berat terdengar dari hidung Sadewa seketika. Dia pun melangkah cepat, mendekati Pak Satpam dan melepaskan ikatan.


"Maaf Pak, habisnya Bapak nggak bisa kerjasama tadi, jadinya saya terpaksa ikat tangan Bapak," ucap Sadewa setelah melepas lilitan dari tubuh Pak Satpam.


Pak Satpam menarik napas panjang sebelum menjawab. "Fiuh, iya, iya, salah saya juga tadi, tapi gimana Non Rani jadi nikah apa nggak toh?" tanyanya penasaran.


"Iya nggak lah, Pak. Ngarep banget si Rani nikah," ucap Sadewa sedikit jengkel dengan pertanyaan Pak Satpam.


"Hehe, Bapak cuma becanda, jangan cemberut toh."


"Hm, oh ya Pak, saya boleh minta nomor hp Bapak?" Sadewa mengeluarkan handphone miliknya dari saku celana.


Dahi Pak Satpam berkerut hingga tiga lipatan seketika. "Loh untuk apa?" tanyanya penasaran.


"Ada aja, coba sebutin nomornya Pak.


Tanpa bertanya lagi, Pak Satpam pun mulai menyebut nomornya. Setelah mendapatkan nomor Pak Satpam, dia pun pamit undur diri. Sadewa memiliki rencana, siapa tahu saja Pak Satpam turut membantunya nanti.


"Saya pergi dulu, kalau ada nomor baru masuk, itu nomor saya ya Pak di simpan saja, permisi," sahut Sadewa dengan cepat lalu memasukan kembali ponselnya ke saku celana.


Anggukan cepat sebagai balasan Pak Satpam.


Sadewa mulai menggerakkan kaki menuju mobilnya yang terletak agak jauh dari gerbang perumahan tersebut. Namun, belum lima langkah, ayunan kaki Sadewa terhenti saat dari belakang seseorang memanggil namanya. Lantas Sadewa memutar badannya, melihat sosok yang dia benci dan dihindari ada di hadapannya sekarang.


"Sadewa, ini kamu kan Nak? Apa kamu lupa sama Bapakmu ini?" Pria paruh baya yang wajahnya sedikit mirip Sadewa memegangi kedua pipi Sadewa seketika. Lalu meraba-raba sejenak wajah Sadewa.

__ADS_1


Sadewa memutar mata malas lalu menyentak kasar tangan Bapaknya yang bernama Anto itu.


"Aku bukan anakmu! Aku nggak punya Bapak lagi! Bapakku sudah mati!" sahut Sadewa setengah berteriak.


Napas Anto tercekat. Dia tak mungkin lupa wajah anak kandungnya yang pernah dia telantarkan dulu, akibat kebodohannya di masa lalu. Dia pernah berselingkuh di belakang istrinya dan berakhir memilih selingkuhannya. Namun, beberapa tahun kemudian dia menyesali perbuatannya.


Anto berusaha mencari Sadewa kecil dan Ajeng. Akan tetapi, tak ada hasilnya sama sekali. Mereka seakan hilang di telan bumi. Namun, tepat hari ini saat di undang ke pesta pernikahan keluarga anak tirinya itu. Dari kejauhan dia melihat seseorang yang sangat mirip Sadewa sewaktu kecil. Anto memperhatikan wajah Sadewa dengan seksama dan menerka-nerka apakah benar itu anaknya. Hingga dia pun memutuskan menunggu Sadewa keluar dari rumah besannya.


"Bapak nggak lupa, kamu pasti Sadewa, anak kandung Bapak kan, apa kamu belum bisa memaafkan kesalahan Bapak Nak, Bapak minta maaf, Bapak sangat minta maaf, di mana Ibumu sekarang Nak?" Anto mengguncang-guncang tubuh Sadewa sejenak.


Sadewa menyentak kasar tangan Anto. Tak menyangka Bapaknya dengan mudah melontarkan kata maaf. Padahal dulu Bapaknya itu tak memikirkan perasaan Ibunya dan dirinya. Waktu itu masih teringat dengan jelas, saat dia masih kecil, melihat Bapaknya menyeret paksa Ibunya dan mengurung Ibunya di kamar yang sangat gelap serta tak diberi makan dan minum berhari-hari oleh Anto.


Tak cukup sampai di situ, Bapaknya secara terang-terangan membawa selingkuhan ke rumah mereka. Mendidih darah Sadewa kecil dulu, melihat Ibunya diperlakukan seperti itu. Dia ingin melawan pun percuma sebab tenaganya kalah telak. Dan hanya bisa menangis di depan pintu kamar tempat Ibunya di sekap selama tiga hari.


"Ya, aku memang Sadewa, tapi aku bukanlah anakmu lagi sekarang, simpan saja permohonan maafmu itu, jangan pernah bertanya tentang Ibuku, dia sudah bahagia bersamaku sekarang!" serunya berapi-api lalu mulai menggerakkan kaki kembali.


Anto menahan tangan Sadewa seketika. "Tunggu! Dengarkan Bapakmu, Nak, Bapak amat menyesali perbuatan Bapak dulu, sekarang di mana Ibumu, Bapak mau menebus kesalahan Bapak," sahutnya cepat.


Anto terpaku di tempat sejenak. Memegangi dadanya yang terasa amat sesak sekarang. Dia dapat melihat sorot mata Sadewa menyiratkan kemarahan dan kekecewaan mendalam.


Sedangkan Sadewa melenggoskan muka dan melenggang pergi dari hadapan Anto.


*


*


*


Tiga puluh menit kemudian, Sadewa sudah tiba di kediamannya. Dia langsung pergi menemui Ibunya yang tengah bersantai di taman belakang bersama Supri.


"Ibu," panggil Sadewa seraya mempercepat langkah kakinya.

__ADS_1


Ajeng dan Supri spontan menoleh. Lalu melemparkan pandangan satu sama lain sejenak.


"Mana Rani? Eh! Kamu kenapa Le?" Ajeng kebingungan saat Sadewa memeluknya tiba-tiba.


"Dewa nggak mau lihat Ibu menderita lagi," sahut Sadewa sambil melepas pelukan.


Ajeng mengernyitkan dahi sesaat. "Kesambet apa kamu Le? Ibu kan sekarang baik-baik nih, ada-ada saja kamu, Le."


Sadewa enggan menyahut hanya melayangkan tatapan sendu pada sang Ibu.


"Rani di mana, Le? Berhasil nggak?" Ajeng celingak-celinguk sambil mengedarkan pandangan mencari keberadaan Maharani, yang mungkin saja masih berjalan di belakang sana.


Sebelum menjawab, Sadewa menarik napas panjang. "50, 50 Bu. Dewa berhasil gagalin nikah Rani, tapi nggak berhasil bawa Rani keluar dari rumah itu, Rani di kurung sama Bapaknya tadi," ucapnya lemah.


"Apa? Terus apa rencana kamu selanjutnya Dewa, kasihan sekali Rani." Ajeng jadi teringat dengan memori kelamnya, saat dulu pernah disekap oleh mantan suaminya. Dia berharap Maharani dalam keadaan baik-baik saja sekarang.


"Wah parah banget Bapaknya Rani, anak sendiri di kurung, emangnya kucing apa di kurung-kurung." Supri mulai menimpali.


"Iya, kasihan Rani, semoga saja dia bisa bertahan selagi aku memikirkan rencana untuk membawa kabur Rani dan kawin lari dengannya, Bu," ucap Sadewa, tegas.


"Yakin kamu, Le? Bahaya loh, anak orang mau di culik-culik." Ajeng kurang setuju dengan rencana Sadewa.


"Daripada Rani tinggal di sana, Bu. Tadi aku lihat dengan mata kepalaku sendiri, Rani di tampar oleh Bapaknya di hadapan semua orang, bayangkan di depan orang saja Bapaknya berani main tangan sama anaknya, bagaimana kalau Rani sendirian, aku nggak mau lihat Rani menderita Bu, malam ini aku harus memikirkan cara agar aku bisa bawa Rani keluar dari rumahnya itu," sahut Sadewa penuh penekanan.


Ajeng terdiam. Dia pun ikut sedih dengan kondisi Maharani sekarang.


"Gimana caranya Dewa, kamu tahu sendiri kan pengawal di rumah Rani banyak banget," sahut Supri kemudian.


"Hm malam ini akan aku pikirkan, ya emang banyak, makanya kamu bangun cepat tadi semprul! Kalau kamu ikut, mungkin saja Rani bisa pulang sama aku tadi." Sadewa mendengkus kesal.


"Hehe, maaf bos." Supri malah menyengir kuda.

__ADS_1


__ADS_2