
"Rani, will you marry me?" Sekali lagi Bima bertanya sambil menatap penuh damba dan menunggu balasan dari Maharani dengan sabar
Hening sejenak.
Miss Tisya yang berdiri tak jauh dari keduanya, harap-harap cemas ketika melihat Maharani tak langsung menjawab.
"Rani," panggil Bima sekali lagi.
Maharani terdiam membisu. Untuk sejenak matanya tak berkedip memandangi cincin berlian yang nampak indah menurutnya.
"Maaf." Akhirnya bibir munggil Maharani bergerak pelan. "Aku tidak bisa menerima lamaranmu." Sambungnya lagi sambil melenggang cepat dari hadapan Bima.
Maharani keluar dari toko bunga itu seketika.
Bima membeku di tempat. Apa dia tidak salah mendengar? Jika Maharani tidak menerima lamarannya. Padahal Bima sudah sangat berharap Maharani dapat menerima lamarannya. Apalagi Maharani tak memiliki kekasih setahunya.
Sebelum melamar Maharani, kemarin, Bima berusaha mencari tahu siapa-siapa saja mantan pacar dan orang terdekat Maharani. Dari informasi yang ia dapatkan Maharani sempat menjalin kasih dengan suami Rara, yaitu Tomi. Setelah itu tidak ada lagi. Apa mungkin Maharani belum bisa melupakan cinta pertamanya itu, entahlah.
Bima menatap nanar pintu toko yang masih bergerak-gerak pelan di depan sana. Ada apa dengan Maharani, pikir Bima sejenak. Dari semua wanita yang pernah ia temui, Maharani lah yang berbeda. Wanita sangat sulit di tebak.
Bima galau seketika. Hatinya bagai tertusuk sembilu, tanpa sadar Bima memegang dadanya yang terasa sesak sekarang.
"Bima, bersabar..."
Dari belakang Miss Tisya mencoba meraih pundak Bima hendak menguatkannya. Akan tetapi belum sempat Miss Tisya menyentuh bahu Bima. Pria itu bangkit berdiri lalu berjalan cepat keluar tanpa mengeluarkan satu patah katapun.
*
*
*
Beberapa hari kemudian.
Bandara International New Zealand.
Maharani menarik napas panjang karena hari ini akan pulang ke tanah airnya. Dia melirik sekilas Bima di samping yang tengah menatap lurus ke depan. Keduanya sedang menunggu keberangkatan.
Semenjak lamaran Bima di tolak, pria itu bersikap dingin pada Maharani. Maharani sedikit tak enak hati. Namun, dia tak mau memberikan harapan palsu pada Bima. Walau bagaimanapun di hati Maharani masih terukir nama Sadewa hingga kini, meski Sadewa sudah menduakannya.
"Rani, apa semua barang-barangmu sudah semua dimasukkan?" tanya Bima tiba-tiba.
Maharani melirik Bima. "Sudah," jawabnya singkat.
Selang beberapa menit Maharani dan Bima sudah di pesawat. Mereka duduk bersebelahan tanpa bercengkrama satu sama lain. Maharani nampak asik membaca buku, sementara Bima sibuk memainkan i-pad-nya.
__ADS_1
Sesampainya di Jakarta, Maharani langsung pulang ke rumahnya. Dia keheranan mengapa Bima ikut bersamanya. Ingin bertanya tapi gengsi Maharani selangit dan memilih untuk tak peduli.
Menempuh kurang lebih satu jam, Maharani sudah sampai rumah. Dia mengedarkan pandangan sejenak di pekarangan rumah, melihat sisa-sisa sampah berhamburan di mana-mana, sepertinya baru saja ada pesta yang diselenggarakan di rumah. Tak mau ambil pusing, Maharani melangkah masuk ke dalam seraya menyeret kopernya.
Sedangkan Bima mengekorinya dari belakang. Pria itu tak mengalihkan pandangan matanya dari punggung Maharani sedari tadi.
"Rani," panggil Samsul tatkala melihat Maharani hendak ke lantai atas.
Mirna, Rara, Tomi dan anak perempuan kecil yang berada di gendongan Rara memusatkan perhatian pada Maharani seketika.
Kedua kaki jenjang itu berhenti bergerak, Maharani memutar badan lalu melepas kacamata yang bertengker di hidungnya.
"Iya, ada apa Pi?" tanya Maharani dengan raut muka datar.
Samsul menghampiri Maharani sambil melengkungkan senyuman.
"Sudah sampai kamu, ternyata. Maaf ya, Papi nggak bisa menjemputmu tadi di bandara. Cucu pertama Papi ulangtahun, jadi Papi tidak sempat ke bandara. Ngomong-ngomong Papi sangat bangga sama kamu, Nak. Karena kamu bisa lulus lebih cepat dari perkiraan Papi," ucapnya sambil memegang pundak Maharani.
"Hm, iya tidak apa-apa Pi, oh ya, selamat ulangtahun untuk cucu Papi, Rani mau ke atas dulu ya Pi, mau istirahat."
Meskipun Maharani mengatakan tidak apa-apa, tapi jauh di dalam dasar hatinya, dia sangat kecewa dengan keputusan Papinya. Mengapa tak menjemputnya ke bandara. Dia tahu betul jika ulangtahun keponakannya adalah kemarin bukan hari ini.
Maharani pun bingung sendiri.
Selama berkuliah di luar negeri, Papinya jarang sekali menghubungi dan menanyakan kabarnya. Kalaupun dia yang menelepon pasti ada saja alasan Samsul. Maharani benar-benar tak mampu berkata apa-apa lagi sekarang.
Mau tak mau Maharani menurut. Meski dia jengkel sendiri, melihat raut wajah Mirna dan Rara yang sangat tak enak di pandang saat ini.
"Mau ngomong apa Pi?" tanya Maharani tanpa basa-basi sambil mendaratkan bokong di sofa.
"Tunggu dulu, Bima kemarilah kenapa kamu berdiri di depan pintu, sebentar lagi kamu akan menjadi bagian keluarga ini." Bukannya menjawab pertanyaan Maharani, Samsul malah memanggil Bima untuk bergabung bersama mereka.
Maharani mengerutkan dahi, mendengar perkataan Papinya yang terkesan ambigu.
Bima mengangguk cepat lalu duduk di samping Maharani seketika.
"Papi, mau ngomong apa?" Maharani mengulangi pertanyaannya.
"Rani, kamu sudah tahu kan siapa Bima ini, dia adalah anak sahabat Papi. Sewaktu kalian masih kecil dulu, Papi dan Pamungkas berniat akan menjodohkan kalian, jadi–"
"Langsung ke intinya saja Pi?" sela Maharani tak sabaran.
"Jadi lusa kalian akan menikah," ucap Samsul dengan cepat sambil melemparkan pandangan ke arah Bima yang nampak tersenyum sumringah sekarang.
"Apa?" Maharani terkejut, secepat kilat beranjak dari tempat duduknya. "Rani nggak mau Pi, Rani nggak cinta sama Bima!" serunya seketika.
__ADS_1
Senyuman yang mengembang di wajah Samsul memudar cepat. "Rani! Jangan membantah kamu! Tanpa persetujuan dari kamu, kalian akan tetap menikah!" serunya sambil bangkit berdiri.
Tanpa permisi cairan bening dari pelupuk mata Maharani mengalir. Dia mengalihkan pandangan ke samping, melayangkan tatapan tajam pada Bima.
"Munafik kamu, Bima! Hanya karena aku menolakmu kemarin, kamu menggunakan cara kotor seperti ini!" Dengan lantang Maharani berkata kemudian berlarian menuju pintu utama.
Bima terhenyak seketika.
Samsul langsung berteriak-teriak memanggil nama Maharani berulang kali.
*
*
*
Sekarang Maharani mengemudikan mobil dengan sangat laju, melebihi batas ambang kecepatan. Kini dadanya terasa amat sesak, membayangkan hidupnya yang selalu diperlakuan tak adil dan di atur sesuka hati oleh Papa kandungnya sendiri.
Maharani begitu sedih. Pulang ke Indonesia bukannya di sambut dengan baik, Maharani akan di masukan ke jeruji besi lagi.
Kedua mata Maharani sudah basah dengan genangan air dan napasnya mulai tak beraturan. Entah kemana lagi dia akan mengadu. Marah, bingung, kecewa, melebur menjadi satu. Dia tak tahu kemana mobil ini akan bergerak. Maharani hanya mengikuti kata hatinya sekarang.
Selang beberapa menit, mobil Maharani berhenti di taman. Ya taman bunga di mana ia dan Sadewa pernah berjumpa dulu. Dia pun kebingungan mengapa mengendarai mobilnya ke sini.
Maharani melangkah perlahan di taman bunga sambil mengusap jejak air matanya. Dia mengedarkan pandangan sejenak, melihat kumpulan manusia sedang menikmati waktu senggangnya di sore hari ini.
Langkah kaki Maharani tiba-tiba terhenti saat melihat di ujung sana ada seseorang yang amat sangat ia kenal.
"Sadewa," gumam Maharani pelan.
Sadewa tengah duduk di bangku, tempat keduanya pernah berpelukan dan bercumbu mesra dulu.
Tanpa sadar Maharani tersenyum tipis dan hendak menghampiri Sadewa. Namun, langkah kakinya terhenti kala Sadewa di peluk oleh seorang wanita yang tak dia kenal dari belakang tiba-tiba. Secepat kilat Maharani memutar badannya, memegangi dadanya yang terasa amat perih.
"Bodoh sekali kamu, Rani..." lirihnya sambil menitihkan air mata kemudian berlalu pergi dari taman.
***
Rumah Samsul.
"Rani! Dari mana saja kamu ha?!" teriak Samsul saat pintu terbuka lebar dari luar, memperlihatkan Maharani masuk ke dalam sambil menundukkan muka.
Maharani mengangkat wajah. "Rani serahin semua kehidupan Rani sama Papi, Rani akan menikah dengan Bima," ucapnya sambil sesenggukan.
Mata Samsul berkedip cepat. Seolah tak percaya dengan perkataan Maharani barusan. Dia langsung melemparkan senyuman pada Bima seketika.
__ADS_1
Bima sangat senang dengan keputusan Maharani, namun, mengapa hatinya begitu sakit mendengar isak tangis Maharani yang terdengar pilu sekarang.