Kepentok Cinta Petani Tampan

Kepentok Cinta Petani Tampan
Coba Yuk


__ADS_3

Jarum jam di kamar Maharani menunjukkan pukul sembilan malam. Yang artinya resepsi pernikahan Sadewa dan Maharani telah usai. Saat ini pengantin baru itu tengah berbincang-bincang dengan sanak saudara di ruang tamu, sebelum mereka kembali ke rumahnya masing-masing.


"Sekali lagi selamat ya Le, Ibu senang akhirnya anak Ibu satu-satunya sudah berkeluarga, Ibu harap kamu bisa menjadi imam yang baik untuk Rani, sayangi dan cintailah dia dengan sepenuh hati ya Le." Ajeng menggapai kedua pipi Sadewa sambil menatapnya lekat-lekat. Dia sangat bahagia dan tak menyangka putra satu-satunya sudah berkeluarga.


Sadewa mengembangkan senyuman. "Iya Bu, Dewa janji bakalan bahagia Rani."


"Baguslah, pegang janjimu Le." Ajeng menurunkan tangan lalu beralih menatap Maharani. "Rani, anggap Ibu ini, Ibumu sendiri ya, jangan sungkan-sungkan kalau mau meminta sesuatu, Ibu sudah menganggap Rani, anak Ibu sendiri juga," ucapnya sambil mengelus pipi Maharani.


"Iya Bu, pasti itu, malam ini Ibu nggak nginap di sini?" tanya Maharani.


"Nggak, Ibu tidur di rumah aja, lagian Supri sama Bejo suka ngerecokin ikan di akuarium, bahaya ntar kalau di tinggal," ucap Ajeng sambil melirik Supri dan Bejo di ujung sana masih bercengkrama dengan lainnya.


"Baiklah, hati-hati ya Bu, pulangnya." Maharani memeluk mertuanya seketika.


Lima menit kemudian, semua keluarga dari sebelah Samsul dan Ajeng serta sanak saudara pamit undur diri.


"Cie malam pertama nih ye, pelan-pelan Dewa, kasihan Raninya," kelakar Supri di pintu utama rumah.


"Iya benar tuh, kasihan anak orang, hihi." Bejo mulai menimpali.


Sadewa memutar mata malas, melihat kejahilan kedua temannya itu. "Dasar semprul! Pulang gih sana!"


Supri dan Bejo mencebikkan bibir.


"Ya elah mentang-mentang udah beristri, kita dilupain, nasib-nasib, udah yuk Sup, kita pulang." Bejo merangkul pundak Supri lalu mengalihkan pandangan pada sosok wanita berkepang dua di sisi kanan, sedari tadi curi-curi pandang ke arahnya."Bye Neneng, muach, Abang besok ke sini ya," ucapnya sambil memanyunkan bibir seakan ingin mencium.


Wanita berkepang dua bernama Neneng itu mengulas senyum tipis sambil menyelipkan anak ramburnya ke telinga. "Neneng tunggu ya, Bang."


Supri geleng-geleng kepala sejenak lalu menurunkan tangan Bejo dan melangkah cepat mendekati Sari, yang dari tadi menunggunya.


"Papi ke atas dulu ya, kalau capek nggak usah, besok-besok aja." Selepas kepergian sanak saudara penghuni rumah, Samsul menepuk pundak Sadewa sambil tersenyum jahil.


Mendengar hal itu, Maharani sedikit bernapas lega, Papinya berada dipihaknya. Sebab sampai saat ini dia belum siap untuk di unboxing oleh suaminya sendiri.


"Hehe ya Pak, saya usahakan."


Ish! Dewa mah, apa dia nggak capekan ya, badanku aku aja rasanya remuk nih.


Raut wajah Maharani berubah seketika saat mendengar jawaban Sadewa barusan. Tanpa banyak kata ia melangkah cepat, melewati Papinya pergi ingin mengatur strategi agar tak digauli malam ini.


Melihat kepergian Maharani, Sadewa, Samsul dan Bude Sri melemparkan pandangan tanda tanya.


"Udah Papi ke atas dulu, Sri aku duluan ya," kata Samsul.


Sadewa dan Bude Sri mengangguk.

__ADS_1


"Bude juga mau ke kamar, udah ngantuk, jangan kencang-kencang ya Dewa sama Raninya." Sebelum berlalu pergi Bude Sri menggoda Sadewa.


Setelah Bude Sri benar-benar menghilang dari penglihatannya, Sadewa memutuskan pergi ke dapur terlebih dahulu, ingin membasahi kerongkongannya yang haus dari tadi.


Lima menit kemudian, Sadewa sudah di lantai dua, hendak masuk ke kamar Maharani, dan sekarang menjadi tempat dirinya dan sang istri untuk mengistirahatkan diri. Malam ini adalah malam yang istimewabbagi Sadewa, karena malam ini ia dan pujaan hatinya akan menikmati malam panas. Namun, dahi Sadewa kuat seketika, tak melihat Maharani sama sekali di dalam.


"Kemana dia? Apa dia mau kabur? Jangan harap!" Sadewa bergumam sambil mata celingak-celinguk mencari istrinya. Tanpa berpikir panjang ia pun melangkahkan kaki ke kamar mandi, menebak jikalau Maharani ada di dalam.


"Rani!" panggil Sadewa sambil memutar-mutar gagang pintu dan benar jika Maharani ada di dalam.


Tak ada sahutan, Sadewa keheranan. "Rani buka pintu Sayang, kenapa di kunci? Aku kan suamimu."


"Tunggu, sebentar lagi aku akan keluar, bersabarlah." Maharani menjawab dengan setengah berteriak. Entah apa yang dilakukan wanita itu tapi berhasil membuat Sadewa penasaran dan tak sabaran ingin mencumbu istrinya itu.


"Kamu sedang apa? Keluar lah Sayang!" Suara berat itu membuat Maharani mau tak mau keluar dari kamar mandi.


Ceklek!


Sadewa mengembangkan senyuman, melihat Maharani menyembul keluar. Untuk sejenak dia sedikit keheranan, melihat penampilan Maharani, tidak seperti di khayalannya, Maharani memakai piyama tidur yang atasan dan bawahnya semuanya panjang. Ya, walaupun tertutup semua tapi menurut Sadewa, Maharani terlihat imut dan menggemaskan. Namun, mengapa raut wajah istrinya terlihat sedih sekarang.


"Ada apa Sayang?" tanyanya penasaran.


Helaan napas pelan keluar dari hidung mancung Maharani. "Sayang sepertinya malam ini dan minggu ini, aku tidak bisa melayanimu, aku datang bulan," ucap Maharani dengan


"Apa?!" Birahi Sadewa yang sudah di ubun-ubun sedari tadi menguap tiba-tiba. Tubuhnya menjadi lesu mendengar ucapan Maharani barusan. "Jadi kita nggak bisa buat adek dong?" ucapnya dengan raut wajah sedih.


Sadewa menyipitkan mata, melihat gelagat Maharani. "Hmm, mencurigakan," gumamnya sambil masuk ke dalam kamar mandi hendak membersihkan diri.


***


Semakin malam bulan bersinar semakin terang, menemani penduduk pribumi melepaskan kepenatan, setelah seharian melakukan aktivitas. Tak terkecuali Maharani sedari tadi dia kesusahan untuk masuk ke ruang mimpi. Dia membalikan badannya ke samping, membelakangi Sadewa yang sudah tertidur pulas sedari tadi.


Maharani merasa bersalah karena membohongi Sadewa tadi. Yaps, Maharani berkilah agar malam ini tak menghabiskan malam pertama dengan suaminya.


Dia belum siap melayani Sadewa, sebab sewaktu SMA dulu Maharani sering sekali mendengar teman-teman kelasnya bercerita, kalau saat berhubungan intim pasti akan kesakitan dan perih. Hampir rata-rata kawan kelas SMA-nya sudah tak perawan lagi. Tapi berbeda dengan Maharani. Sampai saat ini ia tetap menjaga kesuciannya hanya demi jodohnya yaitu Sadewa.


Membayangkan saja, Maharani bergedik ngeri sendiri jadinya.


Srek!


Maharani terlonjak saat tangannya di tarik Sadewa dari belakang tiba-tiba.


"Ahk! Dewa! Ka-mu mau a-pa?" Entah sejak kapan Sadewa sudah berada di atas tubuhnya, Maharani gugup saat Sadewa mendekat wajahnya.


Hembusan napas Sadewa menerpa wajah Maharani. Wanita itu semakin gugup dan terlihat salah tingkah, matanya bergerak kemana-mana karena tak mampu menatap balik Sadewa saat ini.

__ADS_1


Seringai tipis muncul di wajah Sadewa seketika.


"Buka! Ayo buka! Buka nggak!" seru Sadewa sambil menarik pakaian Maharani dalam satu kali hentakan. Mengabaikan teriakan Maharani yang melengking nyaring di ruangan.


"Argh! Dewa jangan-hmmf!" Maharani tak sempat melanjutkan perkataan saat Sadewa membungkam bibirnya seketika.


Deg, deg, deg!


Jantung Maharani berdetak kencang. Entah mengapa dia mulai menutup matanya perlahan, menikmati setiap sentuhan yang dilakukan Sadewa sekarang, Sadewa tengah memeluknya dengan sangat erat dan tangan pria itu sudah bergerilya kemana-mana.


Dalam keadaan cahaya lampu remang-remang, Sadewa mencumbu istri dengan lembut hingga Maharani pun terbuai.


"Nakal ya! Kamu bohong kan sama aku." Sadewa melonggarkan pelukan tiba-tiba. Tadi, saat di kamar mandi dia mencari jejak merah di pakaian dalam Maharani namun tak ada sama sekali.


Maharani membuka matanya, meraup udara di sekitarnya sejenak. "Aku takut," ucapnya gugup.


"Phft! Haha!" Sadewa malah terkekeh pelan, melihat ekspresi Maharani yang menurutnya lucu.


"Ish! Kok malah ketawa, aku takut Dewa, kata teman-temanku pas melakukannya perih gitu," ucapnya dengan memanyunkan bibir.


"Asal kamu tahu ini yang pertama bagiku," Maharani kembali menambahkan.


"Sayang, perihnya bentar aja, nanti kalau lama-kelamaan enak kok." Sadewa melirik tubuh Maharani sekilas, yang nampak menggoda, adiknya semakin menegang. Dari tadi Sadewa menahan diri untuk tidak menerkam Maharani.


Sepertinya Maharani belum menyadari kalau dirinya tak memakai piyama hanya pakaian dalam saja yang menempel ditubuhnya.


"Enak gimana? Memangnya kamu pernah berhubungan badan?" tanya Maharani dengan mimik serius.


"Nggak pernah Sayang, kata orang-orang sih enak."


Maharani merengek. "Kan kata orang-orang, Sayang."


"Makanya kalau gitu coba yuk." Dengan sabar Sadewa membujuk istri manjanya itu.


Maharani ragu-ragu. Namun, pada akhirnya dia mengangguk pelan kemudian langsung memejamkan mata dan terlihat pasrah dengan apa yang akan dilakukan Sadewa selanjutnya.


Sadewa tersenyum lebar.


"Ahk!" teriak Maharani saat Sadewa menanggalkan semua pakaiannya.


"Kenapa Sayang?" Sadewa yang tengah membuka pakaiannya juga terkejut.


Maharani membuka cepat matanya. "Hehe, dingin Sayang."


Sadewa mendengus pelan, nampaknya malam ini akan sangat panjang. Tanpa mengucapkan satu patah katapun, Sadewa mengatur suhu ruangan AC lalu mulai melanjutkan aktivitasnya.

__ADS_1


Selang beberapa menit, setelah melakukan pemanasan sejenak, Maharani tersentak saat benda tumpul milik Sadewa melesak masuk ke dalam inti tubuhnya. Sadewa pun mulai menggerakan tubuhnya, membawa istrinya mengarungi lembah kenikmatan.


__ADS_2