Kepentok Cinta Petani Tampan

Kepentok Cinta Petani Tampan
~ Semakin Jauh


__ADS_3

Malam pun tiba, Maharani terpaksa membersihkan dirinya setelah melamun di kamar sejak tadi siang hingga menjelang petang. Dia tak memiliki tenaga sama sekali untuk melakukan aktivitas. Walau raganya di rumah namun jiwanya berada di kampung saat ini.


Selesai mandi dan menggenakan piyama tidurnya. Maharani berusaha mengotak-atik ponselnya dan berharap benda pipih nan ramping itu dapat segera hidup. Setengah jam pun berlalu ponsel tersebut tak juga hidup. Maharani pun memutuskan pergi ke konter besok. Semenjak tinggal di kampung, Maharani banyak belajar untuk bisa lebih mandiri dan tidak mengantungkan semuanya pada oranglain. Jika semula ia selalu meminta bantuan Dono kalau ponselnya rusak atau apa. Namun, sekarang Maharani akan menjadi pribadi yang lebih baik lagi dari sebelumnya.


"Non Rani." Bunyi ketukan pintu dan suara Dono dari luar mengalihkan perhatian Maharani seketika.


"Iya." Maharani menoleh kemudian beranjak dari tempat tidur dan melangkah cepat ke daun pintu.


"Kenapa Don?" Saat pintu terbuka, Maharani langsung bertanya.


"Turun Non, di suruh Den Samsul makan malam sama-sama," jawab Dono sambil menyunggingkan senyuman.


"Oke, ayo." Maharani keluar dari kamar dan menutup pintu.


Sesampainya di lantai satu, ruang makan.


Maharani langsung menarik tangan Dono untuk duduk di dekatnya.


Dono kalang kabut. "Loh Non, kok sa-ya du-duk di sini, saya hanya supir Non," ucapnya ketakutan saat Mirna menatapnya tajam saat ini.


"Memangnya kenapa kalau supir, nggak apa-apa duduk di dekat Rani aja Don, aku mau ditemanin kamu," ucap Maharani dengan tenang. Mengabaikan berbagai tatapan aneh dari kumpulan manusia di ruangan.


Dono semakin salah tingkah saat Maharani mengambilkan dia nasi.


"Non, saya sudah kenyang." Dono menolak dengan halus.


"Nggak usah banyak bantah deh Don, makan aja, oke?" ucap Maharani sambil melemparkan senyum tipis.


"Nggak apa-apa Don, makan aja, benar kata Rani." Samsul membuka suara akhirnya. Sedadi tadi pria itu secara diam-diam memperhatikan tingkah Maharani.


Dono tersenyum hambar. "Hehe terima kasih Den, kebetulan saya juga lapar," ucapnya setelah mendengar perkataan Samsul barusan.


"Hmm." Samsul membalas dengan berdeham rendah sambil memotong daging steak di piring.


"Tapi Mas, Dono kan cuma supir, nggak layak dia duduk di sini," ucap Mirna seketika sambil melirik Dono sekilas.

__ADS_1


"Kata siapa dia nggak layak?" ucap Samsul membuat Mirna keheranan dengan sikap suaminya itu.


"Hehe, iya Mas, dia layak kok," balas Mirna sambil tersenyum paksa.


"Pi, masa kita satu meja sama Dono sih, tuh lihat si Tomi aja heran, kenapa kita semeja sama pembantu," ucap Rara menimpali. Saat melihat kerutan di dahi Tomi terukir kuat.


Samsul menoleh. "Pembantu? Jangan sembarangan ngomong, Ra. Dono sudah Papi anggap sebagai keluarga Papi," ucapnya.


Rara berdecak kesal di dalam hatinya sejenak, saat Papinya malah membela Dono.


"Tomi apa kamu keberatan dengan kehadiran Dono?" tanya Samsul kemudian.


Tomi menggeleng cepat. "Nggak Pi, aku sama sekali nggak keberatan, aku hanya heran aja sama sikap Rani yang berubah. Tidak seperti dulu." Tomi kebingungan mengapa sikap Maharani dapat berubah tak seperti dulu.


Samsul tersenyum hangat. "Ya, jangankan kamu, Papi juga heran, tapi Papi senang berkat diasingkan dia ke kampung, Rani jadi lebih dewasa," ucapnya lalu melirik Maharani.


Maharani enggan menanggapi perkataan Papinya. Dari tadi dia asik sendiri menyantap makan malamnya sebab dia ingin cepat tidur.


"Hehe ya benar itu, Den. Saya juga senang toh, Non Rani juga tambah cantik, wajahnya berseri-seri, apa jangan-jangan di sana dia kecantol sama petani tampan," kelakar Dono.


"Waduh, Non. Pelan-pelan," ucap Dono hendak mengambil gelas namun gerakannya kalah cepat. Sebab Tomi langsung menyodorkan gelas pada Maharani.


Suasana mendadak panas, Rara cemburu buta melihat perhatian yang diberikan Tomi pada Maharani barusan.


"Thanks," ucap Maharani sambil mengambil gelas dari tangan Tomi. Lalu menenguk minuman itu sampai tandas.


"Ahk!" pekik Tomi tiba-tiba saat Rara menginjak kakinya di bawah meja sambil melayangkan tatapan tajam.


"Kenapa Tom?" tanya Mirna keheranan.


Tomi mengaruk kepalanya yang tidak gatal. "Maaf Mami, tadi nggak sengaja nginjak kaki sendiri hehe."


Maharani, Dono, dan Samsul melemparkan pandangan sejenak. Lalu mereka mulai melanjutkan makan malamnya.


"Rani, mulai minggu depan kamu sekolah di luar negeri saja, selesai sekolah kamu langsung kuliah," ucap Samsul setelah menghabiskan makanan.

__ADS_1


Maharani terkejut. Dia tak menyangka Papinya malah mengirimnya lagi ke tempat yang lebih jauh."Nggak mau Pi, di sini aja!"


"Rani, ini demi kebaikan kamu, Papi mau kamu mengambil jurusan management bisnis agar kamu bisa menjalankan perusahaan Papi nantinya," ucap Samsul dengan tegas.


Maharani bangkit berdiri."Kenapa Papi semau hati mengatur hidupku, Rani nggak mau, lebih baik di sini aja, bukankah di Jakarta banyak Universitas yang bagus, mengapa pula Rani harus kuliah di luar negeri!"serunya sangat tak setuju dengan keputusan Maharani.


"Iya, benar kata Rani, biarkan dia kuliah di sini bersama Rara." Mirna menimpali. Dia pun sama terkejutnya mendengar ucapan Samsul barusan.


Maharani memutar mata malas mendengar perkataan Mirna barusan.


"Tidak, keputusanku sudah bulat, Rani harus kuliah di luar negeri, tanpa persetujuan darinya minggu depan dia tetap akan pergi bersamaku ke New Zealand!" seru Samsul.


"Pi, Rara juga mau kuliah di sana." Rara memberanikan diri membuka suara. Dia sangat iri karena Maharani akan dikuliahkan Papinya ke luar negeri.


"Nggak bisa! Kamu sedang hamil, Ra! Bukankah kamu sebentar lagi akan menikah, jangan banyak membantah kalian! Ini rumahku! Bagi siapapun yang tinggal di rumah ini harus menuruti perkataanku!" Samsul berkata dengan sorot mata mematikan.


Rara, Mirna dan Tomi terpaku di tempat.


"Rani benci Papi!" Maharani melenggang pergi dari ruangan seketika.


"Dono, cepat susul Rani, bujuklah dia." Samsul mengalihkan pandangan ke arah Dono seketika.


"Iya Den." Dono meminum lagi orange juice di atas meja kemudian bergegas melangkahkan kaki menuju lantai dua.


***


"Non! Buka pintunya! Ini Dono Non!" seru Dono sambil mengetuk-etuk pintu kamar Maharani saat mendengar bunyi keributan dari dalam.


"Argh!!! Rani benci Papi!" teriak Maharani kemudian melempar vas bunga yang terdapat di hadapannya ke lantai.


"Non!" Dono panik bukan main kala mendengar bunyi pecahan kaca."Aduh gimana ini?!"


"Hiks, hiks, hikss, Mami, Rani rindu Mami...." Maharani terisak kuat dengan menepuk-nepuk kuat dadanya yang terasa sesak.


Dono menarik napas panjang, saat mendengar Maharani menangis sekarang. Dia sangat kasihan dengan nasib yang dialami anak majikannya itu. Sebab sedari dulu sejak kepergian Santi, dia selalu mendengar Maharani menangis sendirian di kamar. Dono sangat berharap Maharani dapat menjadi wanita kuat setelah menimba ilmu di luar negeri nanti.

__ADS_1


__ADS_2