Kepentok Cinta Petani Tampan

Kepentok Cinta Petani Tampan
Seleksi Kedua


__ADS_3

Sementara itu, dari kejauhan Samsul tersenyum tipis melihat ketiganya saling berteriak-teriak sekarang, menyalahkan satu sama lain. Sedari tadi dia duduk di kursi menikmati pijatan dari Dono.


"Haha, lucu ya mereka Den, bukannya selama ini Aden bilang sarang lebahnya dibiarin aja, tapi kok sekarang malah di suruh buang?" tanya Dono penasaran.


Sebab sudah bertahun-tahun lamanya sarang lebah tersebut menempel di tembok rumah. Dan Samsul tak menyuruh Dono ataupun asisten rumah untuk membuang sarang lebah, dengan alasan rumah lebih terlihat aestetik jika ada sarang lebah. Namun, sekarang Samsul malah menyuruh Sadewa dan kawan-kawannya membuang sarang lebah itu. Dono jadi heran sendiri.


Samsul mengangkat satu alis mata lalu melirik Dono. "Hmm, emangnya mereka bisa buang sarang lebahnya? Lihat tuh mereka dari tadi nggak ada pergerakan sama sekali," ucapnya sambil menunjuk ke arah Sadewa, Supri dan Bejo tengah berduel seperti anak kecil.


"Hehe, kayaknya nggak bisa deh," jawab Dono sambil menyengir kuda. Sekarang dia mengerti kalau Samsul sepertinya hanya ingin mengerjai Sadewa dan kawan-kawannya.


"Nah, kalau sudah tahu diam aja, lihatin aja pertunjukan ini. Yang kencang Don, pijatnya."


"Hehe, ya Den." Kedua tangan Dono langsung memberi penekanan lebih kuat dari sebelumnya di pundak Samsul.


"Don, menurut kamu Dewa gimana?" tanya Samsul tiba-tiba.


Dengan dahi berkerut kuat, Dono menjawab," Menurut saya, Dewa anaknya baik Den, nggak sombong juga, cocok sama Non Rani, tapi saya aneh loh Den, kata Maharani, Dewa petani tapi kok punya mobil mewah ya Den?"


Samsul menoleh ke belakang. "Mobil? Nggak ada tuh?" tanyanya sambil mengedarkan pandangan ke pekarangan rumah.


"Dewa parkirnya di luar gerbang Den, Pak Satpam juga kemarin bilang kalau Dewa pernah berdebat sama Tomi, nggak tahu karena apa dan Pak Satpam juga pernah lihat Dewa ngomong-ngomong sama Bapaknya Tomi," jelas Dono singkat, berdasarkan menurut informasi yang ia dapatkan dari Pak Satpam tempo lalu.


Samsul langsung mengalihkan pandangan ke arah Sadewa, menyipitkan mata sejenak."Hmm, Don, tolong cari identitas Dewa," ucapnya tanpa menatap lawan bicara.


"Iya Den."


"Aku mau ke atas dulu." Samsul beranjak tiba-tiba. "Suruh mereka berhenti aja, pusing aku lihat mereka kelahi, seleksi kedua suruh mereka cari semut warna merah di pekarangan rumah sebanyak 10 ekor," katanya sambil melangkah pelan menuju pintu utama.


"Hehe iya Den." Dono mengaruk kepala sesaat sebab perintah Samsul agak aneh.


Sesampainya di lantai empat, tepatnya di kamar mendiang sang istri, Samsul langsung membersihkan diri. Lima menit kemudian, dia sudah memakai kemeja berwarna biru laut. Samsul pun memutuskan turun ke bawah hendak mengambil rokok yang berada di lantai dua.


"Mas! Kamu tidur di kamar Santi?" Terdengar suara Mirna dari belakang.


Samsul melirik Mirna sekilas. "Iya, kenapa?"

__ADS_1


Tanpa sadar tangan Mirna terkepal kuat. "Mas, kamu kenapa sih? Dari kemarin menghindar dari aku, aku ini istri kamu, Mas, kenapa kamu malah tidur di kamar Santi, dia sudah berpulang Mas."


Samsul menyambar kotak rokok di atas lemari buffet lalu membalikkan badan. "Aku nggak menghindar kamu, Mirna. Walau bagaimanapun dia tetap istriku dulu, aku sedang merindukan dia, memangnya salah aku tidur di kamarku dulu," ucapnya lalu berjalan cepat, melewati Mirna, yang sekarang mematung di tempat sejenak.


"Tapi Mas, aku istrimu sekarang, apa kamu tidak mencintai aku lagi?" Mirna mengekori Samsul yang kini tengah berjalan cepat menuju balkon.


Tak ada sahutan, lagi dan lagi Mirna diabaikan oleh Samsul. Sejak kedatangan Bude Sri kemari, sikap Samsul berubah drastis terhadapnya.


"Mas!" Saat di atas balkon, Mirna menepuk kuat pundak Samsul seketika.


Samsul memutar badan, melayangkan tatapan tajam. Dia tak mengeluarkan satu katapun.


Mirna begitu ketakutan.


Detik selanjutnya, Samsul menjauhi Mirna dan berdiri tegap di dekat pembatas balkon, menoleh ke bawah sana, melihat Maharani sedang meniup-niup mata Sadewa saat ini, sepertinya pria yang menjalin kasih bersama putrinya itu, matanya tengah kemasukan debu.


Dengan jarak satu meter, Mirna mengikuti arah mata Samsul. "Cih! Dasar pria miskin! Kamu yakin Mas mau menjadikan dia menantu di keluarga kita, dia hanya seorang petani yang tidak punya masa depan sama sekali, berbeda dengan Tomi, walaupun Tomi tidak dekat Bapaknya, tapi setidaknya pasti Tomi memiliki warisan dari Bapaknya," ucapnya sambil tersenyum sinis.


"Kamu yakin Tomi memiliki warisan dari Bapaknya?" Akhirnya Samsul membuka suara meskipun suara Samsul terdengar dingin.


Mirna menoleh ke samping dengan kening berkerut kuat. "Maksud kamu Mas?"


"Cih! Menjijikan!" sahut Mirna seketika.


Samsul menoleh dengan satu alis terangkat sedikit. "Lebih menjijikan mana, anak perempuanmu yang melakukan hubungan badan dengan pacar saudaranya sendiri atau Dewa dan Rani yang saat ini hanya berpelukan di bawah sana?"


Kalimat menohok yang dilontarkan Samsul barusan, membuat Mirna tersinggung seketika.


"Mas, Rara anakmu..." lirih Mirna dengan menatap sendu Samsul.


Samsul menyeringai tipis. "Apa kamu lupa, aku bukan Ayah biologisnya Rara. Hanya Rani lah anak kandungku," ucapnya sambil melangkah cepat keluar dari balkon.


Mirna terpaku di tempat.


"Oh ya, tadi kamu bilang, pekerjaan Dewa sebagai seorang petani tidak ada masa depan sekali kan? Sepertinya kamu harus buka mata lebar-lebar Mirna, walaupun dia hanya seorang petani tapi dia memiliki perkerjaan dan tidak mengharapkan harta dari orangtuanya, daripada menantumu si Tomi itu sampai sekarang tidak memiliki perkerjaan dan hanya menumpang di rumah ini." Sebelum benar-benar keluar dari balkon, Samsul melirik Mirna lagi.

__ADS_1


Mirna tergugu, lidahnya sangat kaku untuk membalas perkataan Samsul sekarang. Kalimat-kalimat yang diucapkan Samsul membuat perasaan Mirna was-was.


Samsul menyeringai tipis kemudian melenggang pergi.


*


*


*


Lantai satu. Di pekarangan rumah.


"Sayang kamu naik ke atas gih, nanti Papi kamu marahin kamu loh," ucap Sadewa sambil mengambil kotak yang di dalamnya ada semut merah berjumlah 10 ekor.


"Hehe, aku masih kangen sama kamu, Sayang." Maharani tersenyum lebar.


"Aku juga." Sadewa mengecup sekilas kening Maharani.


Cup!


"Hmmm!!!"


Sadewa dan Maharani terlonjak kaget saat mendengar dehaman kuat dari suara yang mereka kenal. Secepat kilat mereka berjauhan lalu menatap ke arah Samsul seketika.


"Pa-pi," ucap Maharani terbata-bata.


"Hm, ke atas sekarang Rani, apa kamu mau Dewa nggak lulus seleksi." Samsul memberi ancaman.


Maharani menggeleng cepat. "Nggak mau! Maaf Pi, Dewa aku pergi dulu ya, semangat!" ucapnya sambil melirik Sadewa sekilas.


Anggukan pelan sebagai balasan Sadewa.


Setelah melihat punggung Maharani menghilang, Sadewa mendekati Samsul lalu menyodorkan kotak.


"Pak, ini semut merahnya."

__ADS_1


Samsul hanya memperhatikan semut-semut merah itu sejenak. "Oke lulus, sekarang seleksi ketiga ini hanya kamu yang mengikutinya, kamu lihat baik-baik video ini, cari bukti apa yang terjadi di dalam video, siapa saja yang terlibat dan laporkan padaku secepatnya," katanya sambil menghadapkan layar ponsel ke arah Sadewa.


Dahi Sadewa berkerut samar, memperhatikan sebuah rekaman video yang tidak jelas, menampakkan mama tiri Maharani tengah berbicara dengan seorang pria bertopi berwarna hitam.


__ADS_2