Kepentok Cinta Petani Tampan

Kepentok Cinta Petani Tampan
Nelangsa


__ADS_3

Di sisi lain.


"Sup! Sari! Ayo ketahuan!" sentak Sadewa dari belakang saat memergoki Supri dan Sari tengah berciuman barusan di gubuk.


Supri dan Sari terkejut. Secepat kilat menjauhkan tubuhnya, lalu menatap Sadewa sedang tertawa terpingkal-pingkal sekarang.


"Haha!"


"Semprul! Ganggu aja kamu, Dewa!" seru Supri dengan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Heh! Niat aku itu baik tahu, biar kalian nggak lanjut ciuman, ini di dekat sawah tahu, gimana kalau warga desa yang lihat, bisa berabe ntar, noh pak desa ada di luar tadi, mantau sawahnya juga," ucap Sadewa dengan nada pelan.


Supri mencebikkan bibir sementara Sari hanya terdiam sambil menunduk muka, sedang menyembunyikan kedua pipinya yang bersemu merah sekarang.


"Sup, ini kan baju aku? Kok kamu nggak bilang kalau mau pakai, ini hadiah dari Rani loh, ayo cepat lepas!" Mimik muka Sadewa berubah drastis ketika melihat Supri memakai pakaian pemberian pacarnya.


"Ya elah, minjam bentar bos! Hehe," ucap Supri menyengir kuda.


"Nggak! Lepas sekarang Sup! Kamu nih, semua aja di ambil, model rambut aja ngikut-ngikut!" seru Sadewa dengan menatap tajam Supri.


Supri cemberut tanpa banyak kata melepas baju dan menyodorkan kaos berwarna hitam itu kepada Sadewa. "Nih bos, hehe, terima kasih ya uda minjam," ucapnya tanpa dosa.


"Cih!" Sadewa berdecak sejenak kemudian menyambar kaos miliknya. "Sup, handphoneku mana?" tanyanya kemudian karena tadi saat membajak sawah menitip handphone kepada Supri.

__ADS_1


Supri mengedarkan pandangan ke lantai, hendak mencari handphone Sadewa. "Di sini tadi aku simpan bos." Dia menunjuk ke sisi kanan.


Sadewa menoleh ke arah yang di tunjuk Supri. "Di sini apanya, nggak ada nih!"


"Itu bukan Dewa?" Sari menunjuk handphone merk oppoh di dekat pintu seketika. Sedari tadi dia diam-diam juga ikut mencari handphone Sadewa.


Sadewa dan Supri menoleh.


"Jauh amat kamu simpan, Sup. Entar kalau di curi orang gimana!" Sadewa melangkah cepat hendak mengambil handphone-nya.


"Perasaan aku nggak taruh di situ deh bos, kok bisa pindah ya," ucap Supri dengan dahi berkerut kuat.


"Hmm, ngeles kamu." Sadewa membungkukkan badannya sedikit kemudian mengambil handphone-nya. "Udah gih bajak sawah Sup, gantian, aku kecapean. Dan kamu, Sari pulang sana gih, udah mau sore ini," ucapnya sambil menatap Supri dan Sari secara bergantian.


"Coba aja ada ayangku di sini, nggak mupeng kan aku ngelihat Supri sama Sari ciuman tadi," gumam Sadewa pelan ketika melihat kepergian Supri dan Sari.


"Hah, Rani lagi ngapain ya kira-kira di sana?" sahut Sadewa cepat sambil mengotak-atik ponsel. Namun, gerakan jarinya terhenti kala melihat satu panggilan masuk dari Maharani dan panggilan tersebut di angkat.


"Loh kok?" Sadewa mengerutkan dahi dengan sangat kuat sekarang. "Kapan aku angkatnya?" Dia pun menghubungi nomor Maharani. Akan tetapi tak terhubung sama sekali.


"Lah, kok nggak bisa masuk?" Sadewa merasa ada yang tidak beres sekarang. Secepat kilat ia kembali menelepon Maharani dan hal yang sama pun terjadi.


"Nggak mungkin nomorku di blokir kan?" Sadewa melihat foto profil Maharani kosong. Dan saat ia mengirim pesan hanya centang satu.

__ADS_1


Sadewa panik seketika. Tanpa pikir panjang, ia masuk ke sosial media instagram, hendak menghubungi Maharani dengan DM (direct message). Namun, akun instagram Maharani tak ditemukan sama sekali.


Sadewa benar-benar ketakutan. Dia pun tak menyerah, mulai menjelajahi semua sosial media Maharani yang lainnya. Lagi dan lagi akun Maharani tak ada. Sadewa menebak jika akunnya di blokir Maharani.


Akhirnya Sadewa memutuskan keluar hendak mencari Bude Sri. Betapa terkejutnya Sadewa saat mendengar penuturan dari Bude Sri mengatakan kalau Maharani tadi menghubungi Bude Sri, untuk menyampaikan pesan kepada Sadewa, jangan menganggunya lagi karena dia tak mau menjalin hubungan dengan pria yang mengingkari janjinya.


Tentu saja Sadewa kebingungan. Dia pun langsung meminjam ponsel Bude Sri untuk menghubungi Maharani. Namun, Maharani tak mengangkat sama sekali panggilannya.


"Rani., kamu kenapa sih? Angkat dong Sayang." Sadewa nampak muram, melihat layar ponsel Bude Sri yang gelap.


Lima menit kemudian, Sadewa memutuskan untuk kembali ke rumah. Hendak meminjam handphone Ibunya. Sadewa begitu nelangsa, melihat Maharani tak kunjung mengangkat panggilan.


"Rani..jangan giniin aku dong! Argh!" Sadewa membanting handphone ke atas kasur kemudian mengacak-acak rambutnya, frustasi.


"Kayaknya ada yang nggak beres nih tadi!" Sadewa mendengus kesal sejenak.


Hari berganti hari, bulan berganti bulan. Walaupun Maharani tak menghubungi dirinya semenjak hari itu. Sadewa tetap menganggap Maharani pacarnya. Selama menunggu, Sadewa juga mencari penyebab, apa yang membuat Maharani tiba-tiba memutuskan hubungan secara sepihak. Namun, tak ada hasilnya sama sekali, dia pun kebingungan sendiri jadinya.


Sadewa begitu nelangsa, tak berkomunikasi dengan Maharani. Kini pria itu terlihat tak seceria dulu jika bersama Supri dan Bejo.


"Sampaikan salamku padanya ya Allah, aku merindukannya, jika aku ada salah, aku minta maaf..." Sadewa menatap hamparan sawah dari gubuk, tempat ia dan Maharani dulu pernah berpelukan untuk pertama kalinya. Entah mengapa tiba-tiba cairan bening mengalir begitu saja dari sudut matanya. Dada Sadewa terasa amat sesak, menahan rindu kepada pujaan hatinya yang sekarang entah sedang apa di sana.


"Rani, jaga hati untukku ya, aku mohon, i love you, i miss you..." lirihnya pada hembusan angin yang berada di sekitarnya. Berharap semesta dapat menyampaikan pesannya sekarang.

__ADS_1


__ADS_2