Kepentok Cinta Petani Tampan

Kepentok Cinta Petani Tampan
Sah!


__ADS_3

"Sah!"


Pak penghulu dan para kumpulan manusia di ruangan itu berkata dengan lantang.


Sadewa dan Maharani melemparkan pandangan satu sama lain sejenak. Karena sekarang keduanya sudah sah menjadi suami istri. Binar kebahagian tergambar jelas dari mata mereka. Sebab setelah melalui banyak cobaan dan hambatan akhirnya mereka dapat bersatu dalam ikatan suci.


Maharani langsung menyalami Sadewa dengan takzim. Sedari tadi seulas senyum lebar menghiasi wajah cantik Maharani.


"Selamat Dewa! Tunggu aku, ntar nyusul ya!" seru Bejo senang sambil mengedipkan mata centil ke arah asisten rumah tangga Maharani yang ia taksir kemarin. Wanita berkepang dua itu membalas dengan tersenyum malu-malu meong.


"Ya elah kayak ada pasangan aja, lihat dong aku udah gandengan, betul nggak Sari, tahun depan kita nyusul ya, sapi di kampung ntar aku jual deh demi kamu." Supri tak mau kalah. Dia menoel pipi Sari yang kebetulan juga hadir di akad nikah Maharani.


Sari hanya senyum mesem-mesem.


"Eh, aku juga punya kali, tahun depan aku nyusul, ntar aku jual kambing Bapakku," ucap Bejo sambil memutar mata malas.


"Berisik kamu, Jo. Masa kambing Bapakmu yang di jual, ada aja, nggak yakin aku kamu punya gandengan, muka kayak ****4* kuali nggak mungkin ada yang mau," celetuk Supri.


"Heh! Muka ganteng spek Lee Min Ho gini kamu bilang kayak ****4* kuali! Sembarangan!" Bejo melototkan mata.


Dari jarak beberapa meter Sadewa dan Maharani menggeleng pelan karena dua temannya selalu saja membuat keributan. Keduanya pun melanjutkan sesi sungkeman kepada orangtua mereka.

__ADS_1


Ajeng, Bude Sri dan Samsul mengulas senyum tipis saat Sadewa dan Maharani berjalan pelan mendekati mereka.


Proses sungkeman pun berjalan dengan khidmat dan haru. Tangis Maharani pecah saat Samsul mengatakan tanggungjawabnya sudah berpindah tangan kepada Sadewa.


Setelah menyelesaikan proses sungkeman dan akad nikah. Siang harinya, akan dilanjutkan dengan resepsi pernikahan.


Sembari menunggu waktu pukul dua siang, Maharani berada di kamar sedang dirias oleh MUA. Tampak MUA bertubuh lentur dan para karyawan pria itu bercengkrama dengan Maharani. Terdengar suara tawa di dalam ruangan berwarna putih itu dari tadi.


"Rani, bebasin Mamaku!" Rara menyelenong masuk tiba-tiba dengan mimik muka masam.


Tawa Maharani berhenti seketika. Begitupula dengan MUA dan para karyawannya. Secepat kilat Maharani menoleh ke samping.


"Ra, aku bukan polisi, kalau kamu mau Mama kamu keluar dari penjara bilang sama Papi, bukan sama aku," ucap Maharani lalu mengalihkan perhatian ke arah cermin lagi.


"Siapa sih Say, kakak tirinya ya?" Pria bertubuh lentur itu mulai menaburkan kembali blush on di rahang Maharani.


Maharani mengangguk pelan.


"Oh gitchu, yei udah selesai, uh alemong, cantik banget sih Say, cucok meong!" Pria bertubuh lentur itu meliuk-liukkan tangannya seperti cacing kremi. Dia pun menaruh kembali brush ke atas meja kembali sambil menelisik penampilan Maharani.


Maharani langsung melihat hasil karya MUA tersebut di cermin. "Wah terima kasih ya, Say. Bagus banget."

__ADS_1


"Eyke gitu loh, hihi kamu memang asalnya cantik Say, udah yuk turun ke bawah, biar suami kamu terpesona!" Dari belakang pria bertubuh lentur itu memegang pundak Maharani hendak membantunya untuk berdiri. Karena sebentar lagi acara resepsi akan berlangsung.


***


Waktu menunjukkan pukul empat sore, dari tadi para tamu undangan datang silih berganti. Sadewa dan Maharani nampak keletihan karena para tamu tak henti-hentinya mengucapkan selamat. Namun, kedatangan Koko Aliong berserta anak istrinya membuat Maharani kembali bersemangat.


"Haih ya, wah-wah makin cantik lu Rani, selamat ya, Koko Aliong bawa kambing setruk dari kampung tadi buat kamu," kelakar Koko Aliong sambil menjabat tangan Maharan dan Sadewa secara bergantian.


Maharani terkekeh pelan. "Nggak usah repot-repot Ko, datang aja udah bersyukur banget."


"Terima kasih Ko, udah mau datang jauh-jauh dari kampung," ucap Sadewa tersenyum tipis.


"Hehe, iya ya, malam pertama nih nanti, cie udah siap belum?" Sekali Koko Aliong melontarkan guyonan membuat pipi Sadewa dan Maharani bersemu merah. Keduanya tengah membayangkan malam pertama mereka nanti.


"Hahaha! Gas pol malam ini ya Dewa, sekali lagi selamat, Koko mau makan makanan gratis dulu hehe," ucap Koko Aliong sambil menggandeng sang istri. Meninggalkan Maharani dan Sadewa saling bersitatap satu sama lain


"Malam ini kamu siap kan?" Sadewa berbisik pelan di telinga Maharani.


Maharani langsung menabok pundak Sadewa."Aku bilang nggak siap pun percuma, karena itu udah menjadi tugasku," ucapnya sambil membuang muka karena tak mau Sadewa sampai melihat kedua pipinya yang merah merona sekarang.


"Haha!" Sadewa tertawa kuat saat melihat tingkah sang istri. "Dalam beberapa bulan ke depan sering-sering keramas ya." Ia kembali berbisik di telinga Maharani sambil tersenyum jahil. Membuat Maharani semakin salah tingkah.

__ADS_1


"Ish!" Maharani menabok lagi pundak Sadewa.


__ADS_2