
Di sisi lain, Ajeng mengedarkan pandangan di sekitar rumah pemberian almarhum orangtuanya dulu. Dia melihat sejenak rumahnya nampak sepi karena tak ada Sadewa, Supri dan Bejo. Hanya ada Dewi yang membantunya membersihkan rumah dan memasak di dapur.
Sampai saat ini Ajeng masih belum percaya putra yang ia besarkan sendiri dari kecil hingga dewasa sudah berkeluarga. Dia berharap Sadewa dapat menjadi kepala keluarga yang baik nantinya.
Selagi masih di Jakarta, hari ini Ajeng berencana pergi ke taman bersama Bude Sri, ingin melepas rindu di sini sebelum pulang kembali ke kampung. Sesudah memasukan makanan dan beberapa buah ke kotak bekal, Ajeng pun membersihkan diri.
Menjelang sore, Ajeng pun bersiap-siap untuk pergi ke taman yang sudah ditentukan ia dan Bude Sri. Setelah selesai memakai pakaian, Ajeng bergegas ke taman menggunakan taksi.
"Pas kok jamnya, apa Sri tahu tamannya ya?"
Saat ini Ajeng sudah di taman. Dia melihat arloji di pergelangan tangannya menunjukkan pukul empat sore. Namun, Bude Sri seperti terlambat datang ke sini dan benar saja dering handphone dari tasnya barusan, memperlihatkan pesan singkat kalau Bude Sri terjebak macet di jalan jadi akan terlambat datang.
Ajeng menghela napas pelan. Dia pun memutuskan menunggu Bude Sri di taman bangku sambil memperhatikan pengunjung taman yang menikmati waktu senggang.
"Ajeng, kamu kah itu?"
Ajeng terpaku di tempat kala mendengar suara seseorang dari belakang. Dia menoleh ke sumber suara, melihat sosok yang pernah membuat luka di hatinya' melangkah cepat mendekatinya. Ajeng bangkit berdiri, raut wajahnya tanpa ekspresi sama sekali. Dia tak menyangka akan bertemu mantan suaminya juga pada akhirnya.
"Jeng, akhirnya aku dapat bertemu kamu." Anto menggenggam seketika tangan Ajeng. Sedari tadi pria itu juga berjalan-jalan di taman, baru pulang dari kantor hendak melepas kepenatan setelah seharian berkerja.
Secara perlahan Ajeng menarik tangannya dari tangan Anto. "Iya, sudah ya, aku mau ke sana dulu." Sebisa mungkin Ajeng tak mau berdekatan Anto karena hanya akan membuat luka di hatinya semakin mengangga lebar.
__ADS_1
"Tunggu! Jeng, jangan menghindar dariku, aku minta maaf, Jeng. Aku sungguh menyesal Jeng, karena sudah menyakitimu dan Dewa," ucap Anto sambil menahan tangan Ajeng seketika.
Ajeng menghela napas pelan lalu tersenyum tipis. "Aku sudah memaafkanmu, Mas." Setelah sekian tahun lamanya, Ajeng berusaha berdamai dengan masa lalunya dan mencoba memaafkan mantan suaminya itu karena sekarang Anto pun juga telah menyadari perbuatannya.
"Benarkah?" Anto senang karena Ajeng sudah memaafkannya. Meskipun begitu dia semakin merasa bersalah karena kebodohannya di masa lampau membuat dia tersiksa seumur hidup sekarang. Seandainya saja waktu dapat di putar, Anto tak akan tergoda wanita di luar sana.
Anggukan pelan sebagai balasan Ajeng. "Iya Mas."
"Terima kasih Jeng, tapi sampai sekarang Dewa belum bisa memaafkanku, aku benar-benar tersiksa Jeng, anakku sendiri tidak mau memaafkanku, kemarin aku pernah bertemu dan meminta maaf dengannya, Jeng, tapi Dewa tak mau memaafkanku. Apa dia sudah memberitahumu, kalau kami pernah bertemu?"
Mendengar penuturan Anto, Ajeng terkejut sebab Sadewa tak pernah memberitahunya sama sekali."Nggak pernah Mas."
Anto murung seketika. "Apa yang harus aku lakukan agar dia mau memaafkanku Jeng?" tanyanya balik mencoba meminta saran dari Ajeng.
"Terima kasih Jeng," ucap Anto sambil tersenyum lebar. Dia malu sendiri jadinya karena wanita yang pernah disakitinya dulu memiliki hati yang baik.
"Oh ya Mas, apa kamu tahu Dewa sudah menikah?" tanya Ajeng kemudian.
Anto terkejut. "Nggak tahu, Jeng, siapa menantuku itu?" tanyanya penasaran.
"Namanya Maharani, kamu pasti kenal Samsul Jamaludin."
__ADS_1
Mata anto berkedip cepat. "Samsul? Astaga, aku tidak menyangka, baguslah, aku senang mendengarnya, kenapa Tomi tak mengatakan padaku ya."
Ajeng mengedikkan bahu sedikit. "Hm, entahlah Mas."
"Ajeng!" panggil Bude Sri seketika dari samping. Wanita itu baru saja sampai ke taman. Dia sedikit heran, melihat Ajeng berbicara dengan seseorang.
Lantas panggilan tersebut, mengalihkan atensi Ajeng dan Anto. Keduanya menoleh ke sumber suara, melihat Bude Sri melangkah cepat, menghampiri mereka.
"Siapa?" Bude Sri merangkul tangan Ajeng seketika, wanita itu sepertinya lupa pernah bertemu Anto kemarin, mungkin karena penampilan Anto sekarang yang memakai jas dan terkesan rapi.
"Perkenalkan namaku Anto, mantan suami Ajeng. Sepertinya kita pernah bertemu waktu itu." Belum sempat Ajeng membalas, Anto sudah lebih dahulu memperkenalkan diri dan menjabat tangan Bude Sri.
Bude Sri memandang lekat-lekat sambil tersenyum kaku. Dia baru saja teringat. "Hehe oh ya, benar."
"Jeng, kalau begitu aku permisi dulu, ini kartu namaku, hubungi aku nanti, semoga kamu dapat membujuk Dewa nanti," ucap Anto sambil menyodorkan kartu nama kepada Ajeng.
Ajeng menerima kartu nama Anto. "Iya Mas."
Anto mengangguk cepat lalu berlalu pergi dari hadapan Ajeng dan Bude Sri.
"Jeng, kamu baik-baik saja?" tanya Bude Sri selepas kepergian Anto.
__ADS_1
Ajeng membalas dengan mengulas senyum tipis. Namun, hatinya teriris saat bayangan beberapa tahun lalu menari-nari di benaknya sedari tadi.