
"Ahk! Di mana mereka!" tanya Supri sambil menghentikan langkah kakinya, sebab Maharani dan Sadewa sudah pergi menghilang entah kemana.
Bejo mengatur napas yang tersengal-sengal sesaat lalu menoleh ke samping. "Nggak tahu, parah si bos, ninggalin kita, mentang-mentang udah punya pacar kita malah ditinggalin," gerutunya lalu menyeka keringat di keningnya.
"Yah mau gimana lagi, nasib kita para jomblowan, apa perlu kita cari pacar juga," ucap Supri.
"Hm boleh juga tapi siapa yang mau sama kita."
"Kalau aku mah ada inceran, hehe. Tinggal dieksekusi aja," jawab Supri tersenyum tipis.
"Ha?" Bejo melonggo, tak mengira Supri sudah memiliki tambatan hati. Dia kesal sendiri jadinya. "Lah terus aku sama siapa?"
Supri mengulas senyum tipis. Lalu menepuk pundak Bejo. "Hehe, aku ada kenalan, pasti dia langsung suka sama kamu."
"Benaran, Sup? Siapa?" Bejo langsung melebarkan senyuman.
"Iya ada. Tuh di samping badan kamu," ucap Supri sambil menunjuk ke sisi kanan.
Bejo menoleh lalu mendengus. "Itu mah Sapi, Sup. Kamu pikir aku ini sapi apa?!"
"Haha!" Supri malah tertawa kuat sambil memegangi perutnya. Karena berhasil mengerjai Bejo.
"Sialan! Dasar teman lucknut! Ya udah sekarang kita kemana?" tanya Bejo kemudian.
"Kita ke sana aja, kayaknya Dewa bawa Rani jalan-jalan ke sana." Supri menghentikan tawanya lalu menunjuk ke arah selatan.
"Oke, ayo kita ke sana sekarang," ucap Bejo.
Sementara itu di sisi lain, Maharani dan Sadewa sedang duduk saling berhadapan di taman bunga. Pasangan sejoli itu tengah menikmati hembusan angin di sekitar.
"Walaupun lagi panas gini, tapi udara di desa sejuk banget ya Dewa," ucap Maharani.
"Iya dong, makanya aku suka di sini."
Dahi Maharani berkerut sedikit seketika. "Di sini? Memangnya sebelumnya kamu tinggal di mana? Bukannya kamu asli orang kampung sini Dewa?" tanya Maharani sedikit penasaran dengan kehidupan pribadi Sadewa.
"Hmm." Sadewa berdeham rendah sejenak kemudian melirik Maharani sekilas. "Ya Ibuku dari kampung ini, sebenarnya dulu waktu aku masih kecil, aku pernah tinggal di Jakarta."
"Ha?" Maharani terkejut dengan perkataan Sadewa barusan. "Serius? Kamu nggak bohong kan."
"Nggak." Sadewa menggelengkan kepala.
"Lah terus kenapa kamu nggak ke Jakarta lagi?"
"Aku nggak mau, di sini aja udah lebih dari cukup sama Ibuku," ucap Sadewa dengan tatapan sendu.
Maharani terdiam saat melihat sorot mata Sadewa memancarkan kesedihan. Untuk saat ini dia tak mau terlalu mengulik kehidupan Sadewa. Mengingat hubungan mereka juga baru seumur jagung.
"Maaf ya Dewa, aku banyak tanya," ucap Maharani kemudian.
__ADS_1
"Nggak apa-apa kok, wajar aja kamu kepo sama kehidupan aku, kamu kan pacar aku sekarang," ucap Sadewa sambil mencubit pelan pipi Maharani.
Maharani tersenyum hangat. "Dewa, setelah ini kita mau kemana?"
"Kamu mau ke pasar sore nggak? Di sana ada banyak jajanan sambil kita foto-foto nanti di sana, kamu ada bawa handphone kan?"
"Mau! Ada dong, hehe."
Setengah jam kemudian, setelah bersantai-santai di taman sejenak. Sadewa dan Maharani pergi ke pasar sore hendak menghabiskan waktu di sana.
Maharani sangat senang saat melihat banyak makanan dijajakan para pedagang. Tanpa bertanya, Sadewa langsung membelikan Maharani jajanan tradisional tersebut.
"Terima kasih, Dewa," ucap Maharani sambil mengambil kantong yang isinya beberapa kue dari tangan Sadewa.
Sadewa cemberut seketika. "Dewa? Apa nggak ada panggilan lain?"
Maharani terkekeh pelan. "Jadi maunya di panggil apa?"
Sadewa membungkukkan badan lalu berbisik di telinga Maharani. "Sayang, panggil aku sayang, ya sayang?"
Maharani tersipu malu. "Iya Sayang," ucapnya sambil mengangguk pelan.
*
*
*
"Rani, kita lewat jalan sana aja yuk," ucap Sadewa sambil menoleh ke belakang sekilas. Melihat Supri dan Bejo celingak-celinguk sedang mencari mereka.
"Kenapa? Apa nggak jauh kalau lewat jalan itu?"
"Ya mau gimana lagi, Supri sama Bejo ada di belakang kita sekarang."
"Ha? Mana?" Maharani hendak memutar kepalanya.
"Udah jangan dilihat, entar ketahuan pula, ayo kita kesana sekarang, sebelum mereka tahu keberadaan kita." Sadewa menyambar tangan Maharani lalu melangkah cepat ke jalan kecil.
Di belakang sana, Supri menyipitkan mata, melihat Sadewa dan Maharani berlarian.
"Jo, itu mereka! Ayo kita ke sana!" seru Supri sambil menepuk kuat pundak Bejo.
Bejo dan Supri langsung mengikuti pasangan muda itu.
"Aduh, capek banget aku Sup, malah udah mau gelap ini, kemana mereka tadi?" tanya Bejo berhenti sejenak.
Supri mengedarkan pandangan. "Kayaknya mereka masuk ke rumah itu deh tadi."
"Kamu yakin, ngapain mereka ke situ?" Bejo mengerutkan dahi.
__ADS_1
"Ya sembunyi dari kita lah Bejo, pakai di tanya segala lagi, ayo kita ke situ." Supri berjalan cepat mendekati rumah berdinding kayu itu.
Bejo pun menyusulnya.
"Mau ngapain kamu Sup?" tanya Bejo kemudian, melihat Supri tengah mengintip melalui celah-celah papan.
"Mau lihatin mereka lah, mana ya mereka?" gumamnya dengan menyipitkan mata.
"Benar juga, geser dikit kamu, aku juga mau lihat." Bejo di samping Supri, ikut mengintip.
"Ahk! Tukang mesum! Tolongin eyke! Tolong!!!" teriak seorang waria dari dalam rumah saat melihat ada empat buah mata mengintipnya. Kemudian dia bergegas keluar dari rumah.
Supri dan Bejo tersentak. Keduanya menjauhkan wajah hendak kabur. Namun, terlambat sudah sebab waria itu di hadapan mereka sekarang
Plak! Plak! Plak!
Waria itu langsung melayangkan tamparan di pipi Supri dan Bejo bertubi-tubi.
"Dasar tukang mesum! Doyan ya sama badan eyke, dasar kudanil ya!" seru waria itu sambil menampar pipi keduanya.
Para warga setempat berhamburan keluar dari rumah masing-masing saat mendengar keributan.
Berbeda dengan Maharani dan Sadewa. Saat ini malah tertawa cekikikan pelan bersembunyi di balik triplek di dekat rumah warga setempat. Keduanya saling berpelukan satu sama lain sekarang.
"Rani," panggil Sadewa menatap dalam Maharani.
Maharani menghentikan tawanya. Lalu mendongakkan wajah. "Iya."
"Aku sayang sama kamu," ucap Sadewa sambil menangkup kedua pipi Maharani.
Jantung Maharani berdetak sangat cepat seketika. "Aku juga sayang sama kamu."
Sadewa tersenyum hangat lalu mulai mendekatkan bibirnya. Maharani pun memejamkan matanya sambil menenguk ludah berulang kali.
Cup!
Sadewa mengecup pelan bibir Maharani tanpa melonggarkan pelukannya. Dengan mata terpejam sepasang insan manusia itu bercumbu mesra. Secara bersamaan pula sebuah desiran aneh melingkupi tubuh keduanya.
Semenit pun berlalu, Sadewa melepaskan pelan dekapannya.
"I love you," ujar Sadewa lalu melabuhkan kecupan di kening Maharani.
Maharani membuka perlahan matanya lalu menatap lekat bola mata Sadewa. "I love you too."
"Maaf, aku nggak jago ciumannya, soalnya ini ciuman pertama aku," ucap Sadewa kemudian.
"Hehe, nggak apa-apa Sayang, sama, ini juga ciuman pertama aku," kata Maharani malu-malu.
"Benaran?" Sadewa tak menyangka jikalau dia menjadi orang pertama yang menyentuh bibir Maharani.
__ADS_1
Maharani mengangguk pelan.
"Terima kasih, Sayang," ucap Sadewa tersenyum lalu membawa Maharani ke dalam pelukan.