Kepentok Cinta Petani Tampan

Kepentok Cinta Petani Tampan
Kabur


__ADS_3

Di sisi lain.


Maharani menangis di dalam kamar, tengah merenungi nasib dirinya yang miris. Sedari tadi dia berusaha menendang-nendang pintu kamar tersebut hingga akhirnya Maharani menyerah. Di daun pintu, Maharani terduduk dengan memeluk lututnya sendiri. Isakan tangis masih terdengar lirih dari bibirnya saat ini. Maharani nampak sesenggukan akibat menangis terlalu lama tadi.


"Mami..." lirih Maharani pelan sambil tak hentinya menitihkan air mata.


Tok, tok, tok!


"Non Rani, ini saya Dono."


Maharani menghentikan tangisannya kala mendengar bunyi ketukan pintu dan suara Dono dari luar. Dia menegakkan kepalanya kemudian mengusap cepat jejak air matanya.


"Iya, kenapa Don?" Suara Maharani terdengar serak. Dia menempelkan telinganya ke daun pintu hendak mendengar Dono.


"Jangan menangis Non, ini ada Dono bawa makanan untuk Non, tapi Non geser dulu ya, jangan coba-coba kabur, di luar ada bodyguard nih," sahut Dono takut-takut karena memang benar di luar kamar Maharani empat orang bodyguard memantau gerak-gerik Dono sedari tadi.


Dono kasihan kepada Maharani karena sejak tadi pagi belum makan sama sekali. Jadi pria yang sudah berkerja selama belasan tahun di kediaman Samsul itu, berinisiatif memberikan Maharani makanan, tak lupa dia meminta izin sama Samsul tadi sebelum mengantarkan makanan ke kamar Maharani.


Maharani menarik napas panjang. "Nggak usah, Don. Aku nggak nasfu makan," ucapnya lemah.


"Jangan gitu dong, Non. Nanti ayang Dewa marah loh kalau Non nggak makan."


Mendengar nama Sadewa di sebut, Maharani mengulas senyum tipis.


"Makan ya Non, biar tenaga untuk bul-bul, hehe," ucap Dono saat tak mendapat balasan dari Maharani di dalam kamar. Dia curi-curi pandang ke arah para bodyguard yang tengah berdiri tegap di belakang sana sambil mengedarkan pandangan di sekitar.


Dahi Maharani berkerut kuat, tak memahami kosakata baru yang dilontarkan Dono barusan. "Bul-bul? Apaan tuh Don?"


Dono menghela napas sepertinya Maharani lupa dengan bahasa isyarat mereka berdua dulu. "Ish, Non Rani pikun ya, ayo coba di ingat lagi apa Bul-bul?"


"Ha?" Maharani melonggo sejenak. Berusaha mencari kalimat yang tak asing itu di dalam otaknya. Kedua mata Maharani berkedip cepat seketika saat mengingat apa itu bul-bul. "Kabur," gumamnya pelan.

__ADS_1


"Udah ingat Non?!" tanya Dono setengah berteriak karena Maharani tak membalas ucapannya. Lantas para bodyguard langsung mengalihkan pandangan ke arah Dono. Dia tampak salah tingkah. Dono menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sambil menyengir.


"Ingat!!!" Maharani membalas Dono tak kalah nyaringnya dari dalam kamar sampai-sampai Dono terkejut sendiri jadinya.


"Hehe, bagus, Non sekarang makan ya, ngisi tenaga, biar bisa bul-bul nanti malam sama ayang di alam mimpi, sekarang Non agak jauhan gih," titah Dono sambil meminta salah seorang bodyguard memasukan kunci ke gagang pintu.


Selang beberapa menit, Maharani sudah mengisi kampung tengahnya dengan makanan yang sudah diantarkan Dono. Selesai makan, Maharani langsung mandi dan memasukan baju-bajunya ke dalam tas. Tadi, saat mengambil piring di atas nampan, dia melihat secarik kertas kecil menempel di bawah piring. Maharani langsung membaca apa isi kertas tersebut. Dan betapa senangnya Maharani kalau nanti malam Sadewa akan membawanya kabur dari rumah ini.


Maharani sangat tak sabaran. Lebih baik dia hidup serba berkecukupan tapi hatinya selalu bahagia. Daripada memiliki uang banyak tapi hidupnya menderita. Setelah mempacking barang-barangnya ke tas. Maharani duduk di tepi ranjang sambil memperhatikan jam dinding kamar menunjukan pukul 4 sore. Dia berharap rencananya untuk kabur akan berhasil.


Sementara itu, di tempat lain, Sadewa dan Supri sedang lalu-lalang di ruangan, sedang memikirkan bagaimana caranya menyelinap masuk ke rumah Samsul.


"Dewa, sebenarnya kamu punya ide nggak sih?!" Supri menghentikan gerakan kakinya seketika.


Langkah kaki Sadewa pun terhenti. "Ideku belum nampak hilalnya, Sup. Tapi aku udah kirim pesan sama Dono dan Pak Satpam kok, hanya saja aku masih bingung, bagaimana melumpuhkan para bodyguard itu, asal kamu tahu aku tadi kewalahan meladeni mereka, gerakan mereka sangat cepat dan sepertinya mereka orang terlatih, aku mau membawa Maharani keluar tanpa menimbulkan kegaduhan," ucapnya lalu berjalan maju dan mundur lagi di ruangan.


Supri menarik napas panjang, menatap ke atas, tengah mencari akal di otak kecilnya itu. Dia nampak berpikir keras.


Sadewa tersentak sambil mengelus dadanya sejenak. "Apaan sih Sup?!" tanyanya sambil berteriak juga.


"Hehe, aku punya ide, sini," ucap Supri sambil mendekatkan bibirnya ke telinga Sadewa. Dia berbisik-bisik sesaat.


Sadewa menjauhkan kepalanya seketika. "Yakin berhasil?" ucapnya saat mendengar rencana dari Supri barusan.


"Yakin, serahin ke aku, yang penting Dono sama Pak Satpman mau kerjasama sama kita."


"Emang kamu tahu belinya di mana? Aku nggak pernah beli begituan, iya kalau Dono sama Pak Satpam, mereka pasti mau bantu."


"Tenang, aku punya kenalan di sini, serahin semuanya sama aku, Dewa, sekarang kita atur strategi dulu," ucap Supri sambil menarik tangan Sadewa untuk di duduk di sofa. Keduanya pun saling berhadapan.


Malam pun tiba. Kediaman Samsul sudah terlihat sunyi dan senyap. Setelah bercengkrama ria tadi di ruang keluarga. Sebagian para penghuni rumah memutuskan untuk beristirahat ke kamarnya masing-masing. Beberapa lampu di ruangan rumah sudah terlihat dimatikan dan hanya disinari cahaya remang-remang.

__ADS_1


Di lantai dua, tepatnya di depan pintu kamar Maharani. Sedari tadi empat orang bodyguard yang ditugaskan Samsul berjaga di depan pintu, tengah menguap lebar saat rasa kantuk menyerang tiba-tiba.


"Aduh, kecapean ya jagain Non Rani, ini saya ada buatin kopi untuk kalian," ucap Dono sambil menaruh nampan berisi empat gelas kopi berwarna hitam pekat di atas meja.


Para bodyguard mengalihkan pandangan ke arah Dono.


"Wah, terima kasih Don, tahu aja kita lagi ngantuk, orang rumah pelit juga ya Don, dari tadi aku cuma di kasi makanan sisa sama air putih doang," celetuk bodyguard yang wajahnya tak terlalu seram itu.


"Hehe, udah biasa itu, sebenarnya Den Samsul nggak pelit, istrinya yang pelit, mari silakan dicicipi kopinya, biar segar matanya." Dono tersenyum lebar hingga menampakkan gigi-gigi putihnya.


"Iya, Don. Sekali lagi terima kasih, Don."


"Hehe, ya, saya permisi dulu," ucap Dono sambil melenggang pergi dari para bodyguard.


Selepas kepergian Dono, para bodyguard itu menyeruput air kopi itu perlahan-lahan sampai habis. Selang beberapa menit, mata mereka terasa amat berat. Dan dalam hitungan detik para bodyguard itu tertidur pulas.


"Yes, berhasil, Dewa ayo cepat kita keluar, mumpung mereka tidur," sahut seseorang dari balik tembok. Siapa lagi kalau bukan Supri.


Sadewa dan Supri melangkah pelan keluar dari tempat persembunyian. Keduanya memakai pakaian dari atas kepala sampa kaki serba hitam-hitam.


"Ayo cepat ambil kuncinya." Supri berbicara seperti orang berbisik-bisik.


Sadewa celingak-celinguk sejenak lalu membungkukan badan hendak mengambil kunci kamar Maharani yang berada di saku salah seorang bodyguard. Dengan pelan ia mengambil kunci lalu melangkah cepat menuju pintu kamar Maharani.


Begitu pintu di buka, Maharani langsung keluar dan berhamburan memeluk Sadewa.


"Sayang, terima kasih," ucap Maharani pelan sambil melepaskan pelukan.


Sadewa mengulas senyum tipis lalu menggandeng tangan Maharani. "Iya, ayo sekarang kita keluar, shftt, ingat jangan berisik."


Maharani mengangguk cepat. Kemudian mengekori Sadewa dari belakang.

__ADS_1


Prang!!!


__ADS_2