
"Sri! Apa yang kamu katakan sama Samsul tadi ha?!" Mirna menyentak kasar tangan Bude Sri seketika.
Maharani, Sadewa, Supri dan Bejo begitu terkejut. Mereka melemparkan pandangan satu sama lain sejenak.
"Sudah aku bilang, Mir. Tanyakan langsung pada suamimu, mengapa kamu jadi panik sendiri." Bude Sri menyeringai tipis sebab Mirna sepertinya mulai terintimidasi oleh perubahan sikap Samsul barusan.
Mirna menebak jikalau Bude Sri menceritakan sesuatu pada Samsul. Dia melototkan matanya sambil mengangkat satu tangan ke udara' hendak melayangkan tamparan di pipi Bude Sri. Namun, gerakannya di tangkis oleh Maharani.
Bude Sri terkesiap Begitupula dengan Sadewa, Supri, dan Bejo yang mendengarkan obrolan mereka sedari tadi.
"Ahk! Lepaskan tangan Mama, Rani!" teriak Mirna kala Maharani mencekal pergelangan tangannya dengan sangat kuat.
"Cih!" Maharani menyentak kasar tangan Mirna seketika. "Mengapa kamu selalu bermain tangan! Sebaiknya kamu pergi dari sini, aku muak melihat wajahmu!" serunya.
Mirna mendengkus kesal lalu mengedarkan pandangan pada mereka. "Awas saja kalian! Aku akan membuat perhitungan!" ucapnya lalu melenggang pergi.
Rara dan Tomi pun akhirnya kembali ke kamar, setelah dari tadi menyaksikan keributan di lantai dua barusan. Sedari tadi keduanya diam saja karena menahan rasa kantuk di tengah malam buta ini.
Sementara para bodyguard selepas kepergian Samsul tadi. Mereka pergi ke lantai dasar.
"Ada-ada saja Mamamu, Rani, lebih serem dari mak lampir," celetuk Bejo setelah melihat punggung Mirna, Tomi dan Rara menghilang dari penglihatannya.
Maharani terkekeh pelan lalu menatap Supri dan Bejo secara bergantian."Ya begitulah, Jo. Sebelumnya terima kasih ya, kalian sudah membantuku tadi."
"Sama-sama, demi calon istri Dewa, apa sih yang nggak mungkin, hehe, ya nggak Dewa," ucap Bejo sambil menyenggol lengan Sadewa.
Sadewa membalas dengan tersenyum tipis.
__ADS_1
"Iya benar, sebagai manusia kita harus saling menolong, ya walaupun Sadewa selalu menyusahkan kita," kelakar Supri sambil tersenyum lebar.
"Sembarangan kalian!" Sadewa menarik kedua telinga Supri dan Bejo seketika.
"Ahk, ampun bos, bercanda!" sergah Bejo sambil mengusap telingnya yang memerah.
Melihat tingkah tiga sekawan itu, Bude Sri dan Maharani cekikikan sejenak.
"Dewa, sebaiknya kalian pulanglah dulu, kasihan Ibumu di rumah sendirian, Bude Sri akan menemani Rani di sini," ucap Bude Sri kemudian.
"Oke Bude." Sadewa mengalihkan pandangan ke arah Maharani. "Sayang, aku pulang dulu ya, baik-baik di sini, besok aku datang lagi."
"Ya Sayang, hati-hati ya." Maharani mengulas senyum tipis.
Setelah pamit undur diri kepada Bude Sri dan Maharani. Sadewa, Bejo dan Supri pulang ke rumah.
Bude Sri menoleh ke samping. "Ada deh, yang penting kamu akan bahagia sebentar lagi," ucapnya sambil tersenyum lebar.
"Bahagia? Maksudnya Bude?" Sekarang Maharani semakin bertambah penasaran. Apa yang membuat Papinya dapat berubah pikiran dalam sekejap mata.
"Udah, nggak usah dipikirkan, Bude ngantuk nih, nanti kamu tahu sendiri kok," ucap Bude Sri sambil menguap lebar.
Maharani hanya diam saja. Mencoba menerka-nerka ada apa di antara Bude Sri dan Papinya tadi.
"Rani, nggak usah ngelamun, entar kesambet setan loh, udah yuk kita tidur, Bude tidur di kamar kamu ya."
Lamunan Maharani buyar seketika. "Eh, iya, iya Bude, ayo kita ke kamar Rani," ucapnya sambil merangkul tangan Bude Sri.
__ADS_1
Di sisi lain, tepatnya di lantai tiga. Di sebuah kamar berwarna putih gading, Mirna tengah kebingungan kala tak melihat batang hidung suaminya. Sedari tadi dia membuka-buka ruangan di dalam kamar' mencari Samsul.
Kepala Mirna celingak-celinguk sejenak di atas balkon, yang biasanya sebagai tempat favorit Samsul untuk melepas kepenatan.
"Kemana sih!" Mirna mencak-mencak sendiri jadinya. Hatinya begitu resah dan gelisah, apa yang terjadi pada Samsul sebenarnya. Entah dorongan dari mana Mirna memutuskan untuk pergi ke kamar mendiang Santi dan Samsul dulu, yang berada di lantai empat.
Sesampainya di lantai empat, Mirna mengedarkan pandangan di sekitar, melihat koridor-koridor nampak remang-remang. Di lantai empat penghuni rumah memang jarang ke sini, apalagi kepulangan Santi pada Sang Pencipta, membuat Samsul tak menyuruh sembarang orang rumah naik ke atas. Mirna bergedik ngeri sejenak. Lalu melangkah cepat menuju kamar almarhum Santi dan Samsul dulu saat keduanya masih menjadi suami istri.
"Mas!" Mirna memutar-mutar gagang pintu seketika sambil mengedor-edor pintu kamar.
Lima pun berlalu. Tak ada tanda-tanda ada orang di dalam kamar. "Ck! Kemana sih dia!" Mirna berdecak kesal karena Samsul tak ada di dalam kamar juga. Mirna akhirnya terpaksa kembali ke kamar saat tiba-tiba rasa kantuk mulai menerpanya seketika. Dia sangat berharap Samsul dapat menyusulnya nanti.
Sementara itu di dalam ruangan, setelah melihat gagang berhenti bergerak, Samsul menghempaskan bokongnya di tepi ranjang kemudian mengedarkan pandangan di sekitar, yang nampak sedikit berdebu karena sudah lama tak ditinggali.
Terlihat sebuag figura seorang wanita berpakaian pengantin bersama pria pakaian pengantin pula tergeletak di atas nakas. Samsul mengembangkan senyuman, melihat foto pernikahannya dengan Santi dulu. Secara perlahan dia meraih bingkai foto dan menatap penuh rindu pada mendiang istrinya itu.
"Santi, mengapa kamu pergi terlalu cepat, maafkan aku, aku minta maaf Santi, karena sudah membuat anak kita sedih dan menderita," ucap Samsul sambil menitihkan air matanya.
"Mirna, telah mengotori otakku, Santi.... Aku benar-benar minta maaf sama kamu...."
Setelah berbicara empat mata tadi bersama Bude Sri, Samsul sangat terkejut saat melihat sebuah rekaman CCTV, yang memperlihatkan Mirna tengah berbicara bersama seorang pria bertopi hitam di dekat mobil Santi sebelum kecelakaan terjadi. Lalu video seakan di potong dan dalam hitungan detik, pria bertopi itu mengendap-endap di samping mobil Santi, entah apa yang pria itu lakukan barusan. Karena rekaman tersebut tiba-tiba buram dan tak jelas. Seperti di edit-edit oleh seseorang.
Untuk kesekian kalinya, Bude Sri mengatakan jika Mirna adalah dalang di balik kematian Santi. Dulu, dia sama sekali tak percaya dengan perkataan Bude Sri tapi sekarang saat melihat rekaman itu, perasaan Samsul seketika gamang, bertanya-tanya apakah Mirna benar-benar pembunuh istri tercintanya dulu.
Bude Sri juga menceritakan semua curhatan hati Maharani kepadanya, saat Maharani tak pernah diperlakukan adil oleh dirinya sendiri. Mendengar hal itu, Samsul begitu sedih dan baru saja sadar atas perbuatannya selama ini. Dia berjanji pada Bude Sri akan memperbaiki hubungannya dengan Maharani. Akan tetapi, Samsul dilanda kegalauan dan semua itu karena Mirna.
Sampai saat ini Mirna memiliki ruang khusus, di hati Samsul. Walaupun Mirna kerapkali berkata kasar dan pedas, akan tetapi Mirna bisa dikatakan sebagai istri yang penurut. Kala itu di saat ia terpuruk ditinggalkan Santi, Mirna lah yang mengulurkan tangannya dan memberinya kekuatan. Namun kini hati Samsul remuk redam, mendapati satu fakta sepertinya Mirna adalah pelaku di balik kematian Santi. Maka dari itu Samsul harus bertindak tegas.
__ADS_1
"Santi, sebenarnya apa yang terjadi padamu di hari itu?" Cairan bening yang meluruh dari kedua mata Samsul menetes di bingkai foto pernikahannya seketika. Setelah sekian tahun lamanya, pria itu terisak pelan sambil memandangi figura mendiang sang istri dengan melayangkan tatapan penuh rindu.