
Sementara itu, di sebuah toko bunga, Maharani tercenung sejenak, menatap bunga Lily di hadapannya tengah meliuk-liuk terkena terpaan angin dari jendela depan.
Perasaan yang sama juga dirasakan Maharani sekarang. Dia merindukan Sadewa. Meskipun pria itu sudah berkhianat di belakangnya. Akan tetapi, jauh di lubuk hatinya masih ada ruang untuk Sadewa. Namun, karena sudah terlanjur dikecewakan. Maharani tak bisa melanjutkan hubungan. Dia tak lagi mempercayai para lelaki. Baginya semua pria sama saja, tak bisa setia dengan satu wanita.
Maharani menggeleng pelan saat hembusan angin di sekitar, membuat tubuhnya mengigil. Dia memeluk tubuhnya sejenak. Seketika bayangan dia dan Sadewa di dalam gubuk waktu itu saat menunggu hujan, melintas di benaknya.
Dewa, mengapa kamu memperumit segalanya, mengapa kamu tidak bisa menepati janjimu? Apa karena hubungan jarak jauh ini, membuat dirimu tak sabar. Ya Allah, hapuslah semua kenangan kami, di pikiran hambamu ini sekarang.
Maharani melamun lagi, menatap sendu ke arah jendela kaca, melihat keluar salju turun dengan perlahan ke tanah.
"Hai, Rani, belum pulang?" Bima menggerakan tangannya di wajah Maharani sekarang kala melihat wanitanya itu tak menyadari kedatangannya.
Mendengar namanya di panggil, Maharani tersentak. Lalu menoleh ke samping, menelisik penampilan Bima dari atas sampai ke bawah. Dia enggan menanggapi perkataan Bima. Dan memilih pergi ke ruangan belakang.
"Rani," panggil Bima saat melihat dirinya di acuhkan Maharani.
Sejak beberapa bulan yang lalu, Bima merasa Maharani lebih banyak terdiam dan tak seceria dulu. Entah apa yang terjadi. Pria itu hanya bisa menerka-nerka.
__ADS_1
"Bima, tumben kamu ke sini? Masih belum menyerah?" tanya Miss Tisya. Sedari tadi memperhatikan interaksi antara Bima dan Maharani dari kaca pembatas.
"Sampai kapanpun, aku tidak akan menyerah, Tisya. Lagipula jiwanya masih muda dan Rani memang keras kepala kata Papinya, tapi aku heran mengapa dia tidak bawel seperti dulu ya, sekarang dia lebih banyak melamun," ucap Bima lemah.
Miss Tisya menarik napas pelan "Iya, kamu benar, aku pun menyadari perubahan sikap Rani, sepertinya dia sedang patah hati."
"Patah hati?" Jantung Bima mencelos mendengar perkataan Miss Tisya barusan. "Memangnya Rani ada pacar?" tanyanya panik.
Miss Tisya terkekeh pelan. "Sepertinya, bukankah hal yang wajar jika Rani memiliki pacar, dia cantik, pintar dan juga baik, aku tidak tahu apakah dia memiliki pacar atau tidak, aku hanya menebaknya saja Bima, ayolah, jangan panik seperti itu, sudahlah, lebih baik kamu tanyakan langsung padanya nanti. Sekarang kamu duduklah di situ, menunggu Rani selesai berkerja."
Bima mengangguk pelan. Entah mengapa membayangkan Maharani bersama pria lain membuat dadanya terbakar membara. Selama ini Bima memantau gerak-gerik Maharani secara diam-diam. Saat melihat para pria di kampus yang menggoda Maharani. Bima langsung bergerak cepat dan tanpa pikir panjang, akan menyakiti para pria mata belang tersebut.
"Rani hanya milikku, hanya milikku," desis Bima pelan sambil menatap Maharani tengah memotong-motong tangkai bunga di depan sana.
Di tahun ketiga, Maharani sebentar lagi akan lulus kuliah. Iya, berkat tekadnya dia dapat menyelesaikan kuliah dalam waktu tiga tahun saja dan meraih predikat cum-laude. Meskipun begitu, perasaannya terasa kosong dan hampa. Bukankah seharusnya ia senang, entahlah.
Tak mau memikirkan yang aneh-aneh. Maharani memutuskan mencari lowongan perkerjaan di Jakarta. Sebenarnya, dia ingin sekali menetap dan berkerja di New Zealand. Namun, lagi-lagi Papinya memintanya untuk kembali ke Indonesia, meneruskan kerajaan bisnis Papinya. Maharani jengkel setengah mati, sebab hidupnya selalu di atur-atur. Jadi, dia berencana akan mencari kerja tanpa sepengetahuan Papinya.
__ADS_1
"Ck! Ayolah Rani, kamu harus bersyukur, setidaknya kamu masih memiliki orangtua, ya walaupun dua-duanya jahat," cetus Maharani sambil merapikan buku-buku di atas meja.
Setelah selesai memasukan buku-buku ke tas. Maharani bergegas ke toko bunga, hendak menemui Miss Tisya. Ingin memberitahu Miss Tisya, mengenai kepulangannya ke Indonesia bulan depan.
"Miss," panggil Maharani seketika.
Miss Tisya memutar badan lalu tersenyum sumringah. "Akhirnya kamu datang juga," ucapnya sambil bertepuk tangan sebanyak dua kali.
Dahi Maharani berkerut seketika. "Memangnya ada ap–" Perkataannya terhenti tatkala melihat ruangan di toko menjadi gelap dan tiba-tiba hidup kembali.
Mata Maharani melebar saat melihat lampu-lampu kecil menghiasi toko dan di depan kaca pembatas ada tulisan 'Will You Marry Me?"
Lalu terdengar suara derap langkah kaki dari belakang tubuh Maharani tengah mendekatiya. Maharani membalikkan badan. Menatap heran ke arah Bima tengah membawa setangkai bunga serta kotak cincin. Pria itu memakai jas berwarna hitam.
Bima tiba-tiba berlutut di hadapannya.
"Rani, sebenarnya aku ini bukanlah bodyguardmu, aku adalah pria yang dijodohkan Papimu, dan selama ini aku menyamar sebagai bodyguardmu untuk selalu bersamamu. Sejak pandangan pertama, aku sudah menyukaimu, Rani. Kamu wanita yang sangat berbeda, aku mencintaimu Rani. Maukah kamu menjadi istriku?"
__ADS_1
Bima membuka kotak cincin kemudian menghadapkannya pada Maharani. Berharap pujaan hatinya itu mau menerima lamarannya.