
Rasa perih yang menerpa inti tubuhnya, perlahan-lahan berubah menjadi rasa yang tak dapat Maharani jabarkan sama sekali. Saat ini ruangan yang cukup luas itu dipenuhi suara rintihan Maharani. Sedari tadi Sadewa tak berhenti menghujaminya bertubi-tubi sampai lupa waktu.
Pria itu sangat bersemangat membawa Maharani menuju pucak. Entah sudah berapa kali ia menyemburkan benih-benihnya ke rahim istrinya itu. Hingga pada akhirnya Sadewa terpaksa menyudahi semuanya saat melihat Maharani nampak keletihan. Dia pun mengecup pelan kening Maharani yang banjir dengan keringat kemudian membawanya ke dalam pelukan dan mulai tidur memasuki ruang mimpi.
Pagi-pagi sekali, Maharani melengguh sejenak saat sinar mentari dari balik gorden kamar, menerpa wajah cantiknya. Ia membuka matanya dengan pelan lalu menoleh ke bawah, melihat tangan besar dan kokoh melingkar di perutnya.
"Ahk!" Maharani terkejut seketika. Matanya celingak-celinguk ke segala arah, sepertinya nyawa Maharani belum terkumpul sepenuhnya dan lupa kalau statusnya sudah menikah."Loh kok ada Dewa di sini?" ucapnya ketakutan.
Mendengar teriakan Maharani, Sadewa langsung terbangun dan menatap istrinya. "Kenapa Sayang?" tanyanya sambil menguap lebar.
"De-wa, kenapa kamu ada di sini!?" Maharani menutup matanya dengan cepat saat melihat Sadewa dalam keadaan polos sama sepertinya. Dia pun memundurkan tubuhnya sambil menyilangkan kedua tangan di dada.
Sadewa menghela napas. "Astaga, Sayang kemarin kita kan udah nikah."
"Ha?" Maharani membuka cepat matanya. "Nikah?" gumamnya pelan sambil mengingat-ingat kemarin. "Hehe, oh ya benar, aku lupa Sayang." Sambungnya sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Maharani tidak menyadari tingkahnya sekarang, begitu menggemaskan di mata Sadewa. Entah mengapa melihat wajah bangun tidur Maharani yang nampak cantik dan imut, membuat Sadewa ingin menerkamnya lagi.
__ADS_1
Srek!
Sadewa menarik tangan Maharani seketika.
"Say-ang mau apa?" Maharani meneguk lidahnya berulang kali saat Sadewa mendekatkan wajahnya.
"Mau menghukummu, karena semalam berbohong dengan suamimu ini," ucap Sadewa dengan menyeringai tipis.
Belum sempat Maharani membalas perkataannya. Sadewa mengecup kuat bibir Maharani dan kembali mengulangi pergulatan di pagi hari ini. Suara des@han kembali bergema di dalam ruangan kamar bernuansa putih itu.
Sementara itu, di sisi lain tepatnya di tangga besar menuju lantai dua. Supri dan Bejo mengedarkan pandangan ke segala arah, seperti mencari seseorang.
Bejo bermaksud ingin bertemu Neneng, setelah tadi malam tak bisa tidur karena terbayang-bayang wajah Neneng. Jadi dia berpura-pura datang ke rumah Maharani ingin bertemu Sadewa hari ini. Namun, Supri yang mengetahui akal bulus Bejo, akhirnya ikut bersama Bejo sekarang ke rumah Maharani, sekaligus ingin menggoda Sadewa karena pasti sudah menghabiskan malam bersama Maharani. Tadi mereka sudah pamit dengan Samsul dan Bude Sri, setelah mendapat izin, mereka pun langsung naik ke lantai dua.
"Mana aku tahu, mungkin aja dia lagi sibuk Jo," balas Supri.
"Iya kali."
__ADS_1
"Hm, kita ganggu Dewa yuk, kayaknya mereka belum bangun," sahut Supri sambil menarik tangan Bejo untuk melangkah cepat menuju kamar Maharani.
Sesampainya di depan pintu kamar, Supri mengetuk pintu.
Tok, tok, tok!
"Dewa, bangun woi, udah pagi hihi." Supri dan Bejo cekikikan.
Tak ada sahutan sama sekali dari dalam, sebab pengantin baru itu tengah asik membuat manusia.
Bejo melemparkan pandangan kepada Supri sejenak kemudian menempelkan telinganya ke daun pintu, penasaran apa yang sedang terjadi di dalam sana. Supri pun melakukan hal sama.
Bugh! Bugh!
"Ahk!" teriak Supri dan Bejo saat kepala mereka di pukul tiba-tiba oleh seseorang. Secepat kilat keduanya memutar badan.
"Dono! Ngapain kamu pukul kepala kita?" tanya Supri sambil mengusap-usap kepalanya.
__ADS_1
"Habisnya kalian kurang kerjaan, ngapain nguping orang lagi ngadon donat," sembur Dono seketika sambil berkacak pinggang.
Supri dan Bejo malah cenggengsan.