
Maharani tak mengedipkan matanya sekarang, melihat Sadewa membuka baju atasannya, sehingga memperlihatkan otot-otot perut pria itu terukir seperti roti sobek. Sebuah otot yang menampakan kalau Sadewa memang tipe pria pekerja keras. Dan terlihat pula buliran peluh mengalir perlahan dari kulit Sadewa kini.
Maharani dapat mendengar suara jeritan para gadis-gadis di samping sana. Tanpa sadar ia meneteskan air liurnya sedikit..
Ya ampun, ini mah spek model luar negeri, badan Tomi aja nggak kotak-kotak kayak gitu, yang ada kerempeng kayak triplek.
Batin Maharani terpana dengan badan dan wajah Sadewa untuk sejenak.
"Haha! Ayo ketahuan kan!" Bejo menggerakan tangan di depan wajah Maharani sedari tadi.
Lamunan Maharani pun buyar. Secepat kilat ia mengusap air liurnya.
"Apaan sih! Nggak usah aneh-aneh deh," ucapnya sambil mencebikkan bibir seketika.
"Haha, Rani, Rani, kalau suka bilang toh, nanti aku comblangin gimana? Dewa jomblo dari lahir, padahal umurnya sudah 21 tahun," celetuk Bejo sambil cenggesan.
Oh jadi umurnya 21 tahun, emm lebih tua berarti dari aku, kenapa dia nggak kuliah ya.
__ADS_1
"Aku nggak nanya tuh umurnya berapa!" Maharani bangkit berdiri, melayangkan tatapan dingin pada Bejo.
"Aku kan cuma ngasi tahu, jangan marah dong cantik. Mau nggak sama Dewa, di sini dia dijuluki petani tampan sama gadis-gadis di kampung loh."
"Nggak! Aku nggak mau sama Dewa! Lagian dia bukan tipeku tahu! Aku tuh mau cowok yang putih dan mapan!" sergah Maharani.
"Yakin? Nggak mau? Dewa kan mapan, dia petani di sini punya pekerjaan juga."
"Maksud aku, aku nggak mau punya pacar petani! Aku mau hidup aku terjamin nantinya!" seru Maharani. Meskipun dia ada rasa ketertarikan pada Sadewa tapi dia tetap berpikir rasional mengenai suami idamannya nanti. Tidak munafik, dia menginginkan hidupnya yang nyaman untuk dirinya dan anak-anaknya nanti.
"Wah, Rani, Rani, jangan memandang pekerjaan seseorang sebelah mata, kamu nggak tahu aja, Sadewa punya sawah yang luasnya berhektar-hektar milik dia sendiri, oh satu hal lagi, dia juga punya kebun di desa sebelah, tanah juga ada, apalagi ya, lupa lupa lupa ingat deh aku," cerocos Bejo sambil mengingat-ingat apa saja yang dimiliki Sadewa selama ini.
Bejo menggelengkan kepala, melihat sikap Maharani yang ternyata menilai pekerjaan seseorang hanya sebelah mata saja. "Nanti kalau Dewa di ambil oranglain nangis," celetuknya sambil menjulurkan lidah.
"Ya udah ambil aja, ora urus aku!" ucap Maharani, mendengus sejenak kemudian melipat kedua tangan di dada.
"Oke deh, kamu mau tahu nggak ada anak pak RT di ujung sana yang suka sama Dewa sudah lama, gara-gara Dewa menetap di desa dan nggak kuliah. Cewek itu kalau ada hari libur pasti pulang ke kampung!" Bejo memajukan bibirnya sedikit, seakan memberitahu wanita mana yang menaruh hati pada Sadewa.
__ADS_1
Mendengar hal itu perasaan Maharani sedikit terganggu dengan cerita Bejo barusan. Jantungnya membara seketika, entah karena apa.
"Terserah!" ucap Maharani ketus.
"Ada apa ini kok ribut-ribut?" tanya Sadewa tiba-tiba.
Maharani tergelak, melihat kedatangan Sadewa yang entah sejak kapan berada di sampingnya. Dia memalingkan muka ke sembarang arah sebab tak mampu melihat roti sobek Sadewa yang terlihat seksi sekarang.
"Hehe, ini bos, tadi Rani bilang sama aku, kalau bos bukan tipe dia." Bejo membuka suara kemudian.
Maharani memutar mata malas ke atas.
"Jadi tipe kamu yang gimana Rani?" tanya Sadewa, menatap lekat-lekat wajah Maharani.
Maharani menoleh, dengan jantung yang berpacu cepat, ia berkata,"Apaan sih, nanyain hal kayak gitu, udah ah aku mau pulang."
Maharani hendak berbalik namun tangannya di cekal Sadewa seketika. Bagai sengatan listrik, wanita itu semakin salah tingkah.
__ADS_1
"Mau kemana, Rani? Pulangnya nanti saja, pergi sama-sama pulangnya pun sama Bude," sahut Sadewa tanpa sedikitpun berniat melonggarkan cekalannya.