
"Papi, Dewa, eh ada mertuaku hehe." Belum sempat Sadewa membalas ucapan Bapak dan mertuanya. Maharani melangkah cepat dari anak tangga. Wanita itu baru saja bangun tidur.
Sadewa, Samsul dan Anto menoleh ke sumber suara.
"Sudah bangun kamu, duduklah di samping Papi," ucap Samsul sambil menepuk-nepuk sofa di sebelahnya.
Maharani mengangguk lalu menjatuhkan bokongnya di samping Samsul. "Sudah lama datangnya Pak?" tanyanya saat merasakan suasana sedikit aneh sebab mimik muka Papinya tak enak di pandang.
Anto mengulas senyum tipis. "Lumayan, Bapak senang rupanya kamu yang menjadi menantu Bapak, selamat ya, maaf Bapak belum ada kado untuk kamu dan Dewa, tapi Bapak punya tiket gratis untuk kalian berbulan madu keluar negeri," ucapnya.
"Iya terima kasih, waduh, nggak usah repot Pak, hehe." Maharani melirik Sadewa sekilas. Mengapa sudah dua orang yang menawarkan tiket gratis untuk mereka berbulan madu. Tentu saja Maharani keheranan dengan pikiran Papi dan mertuanya yang hampir kurang lebih sama.
"Yakin nih?" Anto bertanya sekali lagi. Dia sangat senang melihat istri putranya yang ramah dan baik hati.
"Hehe yakin."
"Hmm, maaf kalau Papi menyela pembicaraan kalian, tapi kembali ke topik tadi, apa benar kamu sama Dewa mau tinggal di kampung?" sela Samsul kemudian.
__ADS_1
Tanpa tahu permasalahan yang terjadi tadi, Maharani menganggukkan kepala karena dia pikir Sadewa sudah memberitahu Papinya. "Iya Pi, kenapa ya?"
Tak ada sahutan, Samsul nampak sedih dan terdiam.
Maharani terlihat kebingungan.
"Berarti tak ada kah harapan untuk kamu meneruskan bisnis Bapak, Dewa. Kamulah harapan Bapak satu-satunya Nak?" Anto mulai bertanya lagi tentang rencananya menyerahkan warisan kepada Sadewa.
Sadewa serba salah. Dia bingung harus menjawab apa saat melihat sorot mata Bapaknya menyiratkan kesedihan. "Bapak jangan sedih, walaupun kami tinggal di kampung, Dewa akan sering-sering ke Jakarta." Tanpa pikir panjang ia akan mencoba menghandle bisnis Bapaknya itu.
Mendengar jawaban Sadewa, ekspresi Anto langsung berubah senang."Berarti kamu mau Nak?"
"Alhamdulillah, terima kasih Nak, sekali lagi terima kasih, Bapak senang mendengarnya." Secepat kilat Anto berdiri dan mendekati Sadewa kemudian memeluk anaknya itu dengan erat.
Untuk sejenak, Sadewa terpaku saat mendapatkan pelukan hangat dari Bapaknya.
"Dewa, kamu yakin mau tinggal di kampung?" Setelah melihat Anto duduk kembali ke tempat semula, Samsul mulai membuka suara.
__ADS_1
"Yakin Pi, sebelumnya Dewa minta maaf belum kasi tahu Papi, soal rencana mau tinggal di sana, Papi jangan khawatir kami pasti akan sering ke Jakarta, apalagi sekarang ada pekerjaan yang harus Dewa handle juga," ucap Sadewa dengan menatap seksama mata mertuanya dan berharap menyetujui rencananya.
"Tapi Papi, kurang setuju, di sini Papi pasti akan kesepian," ucap Samsul. Dia takut jikalau Sadewa tak menepati janjinya.
Maharani menarik napas panjang karena sudah mengetahui apa yang membuat raut wajah Papinya terlihat sendu sedari tadi. "Pi, tenang ya, Rani janji, Rani sama Dewa bakalan ke sini terus. Papi tadi dengar sendiri kan Dewa sekarang juga handle bisnis Bapaknya," ucapnya sambil merangkul tangan Papinya.
Samsul menghela napas pelan kemudian melemparkan pandangan ke arah Sadewa dan Maharani secara bergantian, tengah menimbang-nimbang.
"Hmm, baiklah, tapi kalian harus menepati janji kalian ya," ucap Samsul akhirnya.
Mendengar jawaban Samsul, Sadewa dan Maharani tersenyum lebar.
"Iya, Rani janji, terima kasih Pi," ucap Maharani sambil memeluk singkat Samsul.
Samsul mengulum senyum sambil mengelus-elus kepala putri kandungnya itu.
"Hoek!" Maharani membekap mulutnya saat perutnya bergejolak tiba-tiba. Secepat kilat ia bangkit berdiri dan melenggang pergi.
__ADS_1
"Sayang!" Sadewa begitu panik, tanpa banyak kata ia pun mengejar Maharani.