
"Sayang, kamu kenapa? Kita berobat sekarang yuk.' Saat ini Sadewa sedang mengurut-urut tengkuk leher Maharani yang berjongkok di closet duduk kamar mandi bawah.
"Hoek, hoek, hoek..." Maharani mengeluarkan semua isi makanannya. Napasnya terengah-engah dan tampak keringat membanjiri pelipisnya. Setelah memuntahkan isi makanannya, dia bangkit berdiri dan melangkah cepat ke wastafel kemudian membasuh mulutnya.
Di belakang, Sadewa terlihat khawatir. Dengan sabar ia berdiri di dekat sang istri.
"Kayaknya aku masuk angin, nggak usah Sayang, nanti aku minum obat paracetamol aja, pasti langsung sembuh," ucapnya setelah mengelap bibirnya dengan tisu.
"Nggak, jangan ngeyel deh, kita ke rumah sakit sekarang, lihat tuh muka kamu pucat, Sayang, aku minta maaf ya, pasti gara-gara aku, kamu jadi sakit." Sadewa merasa bersalah dan menebak pasti karena ulahnya yang selalu meminta jatah dengan Maharani tanpa mengenal waktu.
"Nggak apa-apa Sayang, aku baik-baik aja kok," ucap Maharani sambil tersenyum tipis.
Tok, tok, tok!
"Rani, Dewa!" panggil Samsul dari luar pintu.
Bunyi ketukan dan suara Samsul, pasangan suami istri mengalihkan perhatian seketika. Tanpa banyak kata Sadewa menggandeng tangan Maharani dan menuntunnya keluar.
"Rani, kamu kenapa Nak?" Begitu pintu di buka, Samsul langsung bertanya. Dia sangat mengkhawatirkan putri kandungnya itu.
"Rani baik aja kok, Pi, cuma masuk angin," jawab Maharani pelan.
"Bohong, baik apanya, lihat muka kamu pucat tuh, sekarang kita ke rumah sakit ya," sela Sadewa.
Maharani menghela napas.
__ADS_1
"Iye benar kata Dewa, kamu harus pergi ke rumah sakit." Samsul menyetujui perkataan menantunya itu, di tambahlagi wajah Maharani terlihat pucat pasi sekarang.
"Tapi Pi–"
"Nggak ada tapi-tapi, ayo sekarang kita pergi ke rumah sakit." Samsul menarik tangan putrinya seketika.
Selang beberapa menit, setelah mengganti pakaian, Maharani dan Sadewa pergi ke rumah sakit ditemani Bude Sri. Sementara Samsul tak jadi ikut karena Tomi membuat ulah di tempat kerjanya, sebulan lalu Samsul terpaksa menerima Tomi untuk menjadi pegawai di salah satu cabang perusahaannya, Samsul masih memiliki hati nurani karena tak mau cucunya yang masih kecil tak bisa minum susu.
Tak butuh waktu yang lama, mereka telah sampai rumah sakit terdekat. Maharani dan Sadewa langsung diarahkan petugas kesehatan ke poli umum. Sementara, Bude Sri menunggu keduanya di ruang tunggu.
Sesampainya di dalam ruangan, Maharani langsung menyampaikan keluh kesahnya.
"Sepertinya Ibu dan Bapak salah masuk ruangan poli," ucap Dokter laki-laki itu sambil mengembangkan senyuman.
Dahi Sadewa dan Maharani berkerut kuat sekarang.
"Begini, keluhan istri Bapak sepertinya mengarah ke gejala kehamilan, untuk memastikan hal tersebut, ada baiknya Bapak dan Ibu periksa ke poli kandungan," jelas Dokter tersebut dengan singkat.
"Ha-mil?" Sadewa berkata dengan terbata-terbata. Mendengar kata hamil membuat perasaannya bahagia seketika. Walaupun belum mengetahui dengan pasti kalau Maharani hamil atau tidak.
Maharani pun sama terkejutnya. Perasaannya campur aduk sekarang jikalau memang benar dirinya hamil.
Tak mau membuang banyak waktu, Sadewa dan Maharani pergi ke poli kandungan. Betapa terkejut dan bahagianya mereka saat mengetahui Maharani ternyata hamil muda.
"Terima kasih Sayang, terima kasih." Sadewa mengecup bertubi-tubi pucuk kepala Maharani yang berbaring di brangkar, masih di periksa oleh dokter kandungan yang tengah menggerakan alat USG di perut sang istri.
__ADS_1
Maharani menitihkan air mata, tak menyangka Allah memberikan kepercayaan padanya dan Sadewa begitu cepat.
Setelah memeriksakan diri ke rumah sakit, Maharani dan Sadewa langsung kembali ke rumah, hendak memberikan kabar bahagia untuk orang rumah.
"Sayang, turunin aku dong, malu tuh dilihatin Bude Sri."
Sesampainya di pekarangan rumah, tanpa bertanya sama sekali, Sadewa langsung menggendongnya ala bridal style, kata Sadewa' dia harus berhati-hati melangkah. Maharani manut-manut saja meski dirinya malu dengan Bude Sri yang senyam-senyum sendiri memperhatikan mereka sedari tadi.
Sadewa menoleh ke samping. "Ngapain malu, Nggak apa-apa kan Bude?"
Bude Sri terkekeh sejenak. "Iya nggak apa-apa kali, Bude malah senang lihat Rani dimanjain." Dia pun turut bahagia akan kehamilan keponakannya itu.
"Tuh dengar, udah yuk masuk." Sadewa mulai melangkahkan kaki memasuki rumah.
Maharani malah memutar mata malas karena Sadewa terlalu berlebihan.
"Dewa, kenapa Rani kok di gendong? Terus apa kata dokter?" tanya Samsul saat mereka sudah berada di ruang depan.
"Sengaja biar Rani nggak kenapa-kenapa, sebentar lagi Papi jadi kakek, Rani hamil," ucap Sadewa cepat.
"Apa? Benarkah?" Samsul tak menyangka Maharani tengah berbadan dua sekarang. Perasaan bahagia merasuk ke relung hatinya seketika.
Pasangan suami istri itu mengangguk cepat sambil tersenyum lebar.
"Kalau begitu kalian tinggallah di sini dulu, sampai Rani melahirkan ya." Samsul memberi usulan. Dia tak mau anak dan calon cucunya kenapa-kenapa.
__ADS_1
"Oke Pi, setuju," balas Sadewa sambil tersenyum lebar, menyetujui saran mertuanya itu.