Kepentok Cinta Petani Tampan

Kepentok Cinta Petani Tampan
Ups!


__ADS_3

Maharani terkejut saat mendengar suara Sadewa dari belakang dan menutup mulutnya sejenak, karena salah orang. Dia tersenyum kikuk.


"Apa-apaan kamu! Kenapa kamu menampar suamiki ha!' teriak wanita itu yang diyakini adalah pasangan pria di hadapannya ini.


"Maaf, baju suamimu mirip dengan baju suamiku, hehe," ucap Maharani tak enak hati.


Wanita itu melototkan mata, melihat pipi suaminya nampak merah.


"Kamu harus tanggung jawab!" serunya berapi-api.


"Sudahlah Ma, jangan diperpanjang lagi kan dia sudah minta maaf, sudah ya." Suami wanita itu mengelus punggung sang istri hendak menenangkannya. Namun, istrinya malah mengibaskan tangannya seketika lalu mendengus kasar.


"Maaf, istriku sedang hamil, dia salah paham," Dengan napas terengah-engah Sadewa berkata. Dia baru saja selesai dengan urusannya dan terkejut kala melihat Maharani menampar salah satu karyawannya.


Melihat kedatangan Sadewa, pria itu membungkukkan badannya sedikit. "Oh begitu, iya iya Pak, tidak apa-apa, sudah Ma, ayo kita istirahat," ucapnya sambil memberi kode pada sang istri agar tak memperpanjang lagi.


"Iya, saya benar-benar minta maaf, tadi saya mengira anda suami saya, karena bajunya mirip, sekali lagi saya minta maaf." Maharani menampakkan mata memelas.


Sang istri tak mengucapkan satu patah katapun malah berlalu pergi tiba-tiba.


"Ma!" Meninggalkan suaminya yang masih berdiri di hadapan Sadewa dan Maharani. Ketika punggung sang istri menghilang di balik pintu. Dia menatap ke arah Sadewa dan Maharani secara bergantian."Iya nggak apa-apa Pak, Bu, kalau begitu saya permisi dulu," ucapnya sambil tersenyum tipis.


Sadewa dan Maharani membalas perkataan pria tersebut dengan mengangguk cepat. Selepas kepergian karyawannya, Sadewa menggengam tangan Maharani. "Sayang, lain kali jangan sembarangan nampar orang ya."


"Iya Sayang, maaf aku pikir itu tadi kamu pelukan sama selingkuhan kamu," ucap Maharani cemberut.

__ADS_1


Sadewa geleng-geleng kepala sejenak."Ada-ada saja kamu, buang semua pikiran negatifmu Sayang, aku nggak ada selingkuhan, nggak ada gunanya selingkuh, lagian aku punya istri cantik dan menggemaskan yang tidak akan bisa membuat aku berpaling," ucapnya sambil mengecup singkat bibir Maharani tiba-tiba.


"Sayang! Ini di depan umum!" Rona merah di kedua pipi Maharani menyembul keluar. Dia tersipu malu sebab Sadewa melabuhkan kecupan di bibirnya.


Sadewa tersenyum sumringah."Biarin, udah yuk kita keluar, aku mau makan, pasti kamu dan anakku sudah kelaparan kan?" sahutnya sambil mengelus pelan perut Maharani.


Maharani menyengir kuda


"Hehe, tahu aja, iya, gara-gara dia nih, Mamanya selalu berpikir negatif." Maharani menengok perutnya seketika.


"Iya, gara-gara si munggil ini." Sadewa merendahkan tubuhnya lalu mengecup pelan perut Maharani.


Karyawan-karyawan yang lalu-lalang di sekitar mengulum senyum, melihat kemesraan bos dan istrinya.


"Udah yuk, kita turun ke bawah." Sadewa merangkul tangan Maharani kemudian menuntunnya keluar dari koridor kantor.


Sadewa masih menghandle bisnis Bapaknya dan juga mengurus perusahaan Samsul kadangkala. Tempo lalu Samsul menyerahkan ahli waris perusahan kepada Maharani. Maharani menerimanya tapi untuk saat ini dia meminta bantuan Sadewa sebab dia masih sibuk mengurusi Stephani.


Bude Sri dan Ajeng pun berada di kampung. Begitupula dengan Supri dan Bejo yang sekarang juga sudah menikah bersama tambatan hatinya masing-masing. Siapa lagi kalau bukan Sari dan Neneng.


"Sayang!" Maharani keluar dari kamar mandi tiba-tiba sambil membawa sesuatu. Binar kebahagian terpancar jelas dari kedua matanya.


"Iya?" Sadewa bangkit berdiri dan melangkah cepat, mendekati Maharani. "Ada apa Sayang?" tanyanya heran.


"Sayang, lihat ini," ucap Maharani sambil menyodorkan testpack kepada Sadewa.

__ADS_1


Dengan hati-hati Sadewa mengambil benda pipih tersebut. Kedua matanya membulat, melihat garis dua terpampang di hadapannya. "Sayang, ka-mu ha-mil?"tanyanya terbata-bata.


"Hehe iya Sayang."


Sadewa langsung membawa Maharani ke dalam pelukan dan mengucap syukur kepada Allah berulang kali karena akan diberikan rezeki sebentar lagi. Dia tak menyangka Maharani tengah berbadan dua sekarang dan akan melahirkan anak keduanya.


"Terima kasih Sayang." Sadewa mencium pelan kening Maharani seketika dan memeluknya dengan lebih erat."


Maharani tersenyum lebar, nyatanya pria yang di pandang sebelah mata oleh Papinya dulu, membuat hatinya selalu berbunga-bunga setiap hari. Untuk sejenak keduanya saling bersitatapan satu sama lain.


Sadewa melonggarkan pelukan seketika lalu menangkup kedua pipi Maharani dan berkata,"I love you."


"I love you too, petani tampan," balas Maharani sambil melengkungkan senyum lebar.


TAMAT



Cerita tentang Maharani dan Sadewa sudah selesai, author mohon maaf kalau di dalam novel ini masih banyak kekurangannya 🤗🙏


Terima kasih untuk readers yang sudah memberikan dukungan berupa like ataupun komentar.



...----------------...

__ADS_1


Sampai ketemu di novel lainnya.


__ADS_2