Kepentok Cinta Petani Tampan

Kepentok Cinta Petani Tampan
~ Mengingkari Janji


__ADS_3

Hari datang silih berganti. Dan tak terasa waktu bergulir dengan sangat cepat. Maharani sudah berkuliah. Dia amat bersungguh-sungguh menepati janjinya.


Begitupula dengan Sadewa. Pria itu berkuliah di universitas terkenal di ibukota Jakarta dan sekarang tengah berlibur di kampungnya.


Hubungan jarak jauh yang mereka lakukan. Tak mengurangi rasa cinta keduanya. Hampir setiap malam. Sadewa dan Maharani videocall, sekadar berkomunikasi dan melepas rindu melalui handphone.


Seperti malam ini, di kota New Zealand. Setelah selesai pulang kerja part time di negeri orang, Maharani hendak menghubungi Sadewa sebelum mandi. Walaupun Maharani menempuh pendidikan dari hasil uang orangtuanya. Dia memutuskan untuk berkerja juga setelah selesai kuliah.


"Hallo Sayang," sapa Maharani saat melihat layar ponselnya dipenuhi wajah kantuk Sadewa. Sepertinya pria itu baru saja terbangun dari tidurnya.


Perbedaan waktu antara New Zealand lebih cepat 5 jam lebih dari Indonesia.


"Hallo, maaf Sayang, hari ini capek sekali, aku baru saja sampai ke kampung, jadi tadi aku selesai mandi dan makan langsung tidur," ucap Sadewa menguap lebar.


"Kasihan, tidurlah kalau begitu, aku cuma mau melihat wajahmu, Sayang. Bye, i love you, muach!".


"Eh! Enak saja mau langsung di tutup, tanggungjawab dong, aku udah melek gini, sekarang temani aku sampai tidur lagi," sahut Sadewa seketika tanpa mengalihkan pandangan dari layar.


"Hehe, tapi aku mau mandi Sayang." Maharani tersenyum melihat wajah cemberut Sadewa di sebrang sana.


"Ya udah, mandi gih, tapi jangan di putus sambungannya, taruh aja di atas meja," ucap Sadewa sambil melengkungkan senyuman.


"Ish!" Maharani pura-pura ngambek. Secepat kilat ia menaruh handphone di atas meja, menghadap layar depannya ke atas langit. Lalu berlarian ke sisi kanan hendak mengambil handuknya yang tersampir di kursi kayu.


"Loh, kok nggak ada orangnya, cium dulu dong!" seru Sadewa dari di ujung sana.


"Sebentar Sayang! Aku ambil handuk dulu." Setelah menyambar handuk, Maharani kembali mendekati nakas.


"Nah ini dia cewekku hehe, sekarang mana kissnya?" Sadewa memonyongkan bibirnya seketika.


Tanpa banyak kata Maharani mencium layar ponsel. "Muach! Muach! Udah ya, mau mandi nih, udah bau acem," sahutnya kemudian.


"Muach, muach, terima kasih Sayang. Udah mandi sana, bau kamu tuh!"


"Ish nyebelin banget sih! Bau-bau ginipun pacar kamu, Bye!"

__ADS_1


Setelah berkata pada Sadewa, Maharani bergegas ke kamar mandi hendak membersihkan diri. Selang beberapa menit, Maharani sudah keluar dari kamar mandi. Dia mengusap-usap rambut panjangnya yang menjuntai sambil melangkah perlahan mendekati nakas, ingin melihat wajah Sadewa.


Maharani tersenyum melihat Sadewa malah tertidur pulas dengan posisi menyamping. Dari handphone, dia dapat mendengar suara dengkuran halus dari hidung Sadewa.


"Kasihan sekali dia," ucap Maharani sambil menyambar handphone dan menghadapkan layar ke wajahnya.


"I love you, Sayang. Tidur nyenyak ya." Maharani memutuskan untuk mengakhiri sambungan. Tak lupa ia melabuhkan kecupan di layar handphone. Dan meletakkan kembali benda pipih tersebut ke tempat semula.


Belum sampai lima menit, dahi Maharani berkerut samar saat mendengar suara bell rumah bergema di depan sana. Secepat kilat Maharani memakai pakaiannya.


Baru saha membuka pintu. Melihat kedatangan Bima, raut wajah Maharani langsung berubah seketika.


"Ngapain ke sini?" Maharani menyenderkan kepalanya di pintu sambil melipat tangan di dada.


"Saya mau mastiin, apa Non sudah pulang apa belum?" Bima tersenyum lebar. Melihat calon istrinya dalam keadaan baik-baik saja.


Maharani memutar mata malas sebab Bima tak mendengar perkataannya. Hampir setiap hari Bima memeriksa dan berkunjung ke rumah, sekadar ingin memastikan dirinya dalam keadaan aman atau tidak. Maharani sampai bosan melihat wajah Bima.


"Udah lihatkan aku masih hidup dan sehat walafiat, udah ya, aku mau tidur, pergi sana! Ganggu waktu orang aja!" Tanpa mendengar jawaban Bima, Maharani langsung menutup pintu dengan sangat kuat tepat di wajah Bima.


"Oh my God, hah, mengapa susah sekali berdekatan dengannya, padahal banyak wanita di luar sana menginginkanku, fiuh, Rani, Rani wanita yang sangat berbeda tapi aku suka," gumam Bima sambil mengukir senyum.


***


Esok harinya, pagi-pagi sekali Maharani terbangun tidurnya. Dia hendak membangunkan Sadewa. Seperti yang biasa ia lakukan.


"Sayang, bangun!" sahut Maharani saat melihat wajah bangun tidur Sadewa menghiasi layar ponselnya sekarang.


"Hooaammm, astaga, apa aku semalam ketiduran." Sadewa mengucek matanya sekilas sambil mengingat-ingat kegiatan semalam. Dan baru saja teringat kalau ia dan Maharani sempat berteleponan.


"Hehe, iya." Maharani tersenyum tipis.


"Maafkan aku sayang." Sadewa sangat tak enak hati sekarang.


"Tak apa Sayang, sudahlah, sebaiknya kamu bangun agar bisa cepat-cepat pergi ke sawah sekarang, aku juga mau mandi dan berangkat ke kampus,"jawab Maharani sambil beranjak dari tempat tidur.

__ADS_1


"Baiklah, kabari aku nanti Sayang."


"Iya, Sayangku, muach!" sahut Maharani semangat sambil mencium layar ponselnya.


Menjelang siang, setelah menyelesaikan perkuliahannya, Maharani langsung pergi ke tempat kerjanya. Sesampainya di toko bunga, tempatnya berkerja. Entah mengapa Maharani ingin sekali menghubungi Sadewa, bermaksud menggoda pacarnya itu sebab dia hari ini di tembak lagi oleh kakak tingkatnya di kampus. Ya, selama berkuliah, Maharani cukup populer di kampus. Berkat kecerdasan dan kecakapannya dalam mengenyam pendidikan, Maharani di kenal mahasiswa lainnya. Dan hampir sebagian kaum adam mengagumi Maharani.


Setelah menekan-nekan layar ponsel. Maharani menunggu dengan sabar dan berharap Sadewa membawa ponselnya ke sawah.


Mata Maharani membulat sempurna saat melihat pemandangan Sadewa tengah membelakanginya dan berciuman bersama seorang wanita yang tak asing menurutnya.


"Sari..." lirih Maharani dengan nada bergetar sambil menutup mulutnya sendiri.


Maharani tak menyangka Sadewa mengingkari janjinya. Pria itu ternyata berselingkuh bersama Sari. Untuk kedua kalinya hati Maharani hancur berkeping-keping. Tanpa permisi cairan bening mengalir dari sudut matanya.


Dunia Maharani seakan berhenti sebentar. Perih, sakit, dan kecewa melebur menjadi satu. Betapa tak beruntung dirinya dalam soal percintaan. Padahal dia berharap jika Sadewa berbeda dengan Tomi. Namun, nyatanya sama saja.


Tak mau terlalu lama melihat kemesraan antara Sadewa dan Sari sekarang. Maharani langsung memutus sambungan lalu memblokir nomor Sadewa dan memblokir akun sosial media pacarnya. Ralat, bukan pacar lagi, melainkan mantan pacar.


"Aku membencimu, Dewa..." Maharani terisak pelan di ruang belakang toko bunga. Dia sangat kecewa mengapa percaya begitu saja dengan perkataan Sadewa.


"Rani, are you okay?" tanya seseorang dari belakang.


Maharani tersentak. Secepat kilat mengusap air matanya. Lalu menoleh ke sumber suara. "I'am okay, Miss."


Miss Tisya, manajer di tempatnya berkerja itu. Menarik napas panjang. "Are you sure?" tanyanya ingin memastikan.


Are you sure? - Kamu yakin?


"Yes, im sure," sahut Maharani cepat sambil tersenyum getir. Dia tak mau menceritakan permasalahan priabdinya kepada Miss Tisya. Sebab manajernya itu lumayan dekat dengan Bima. Jadi dia tak mau Bima mengetahui permasalahannya. Yang bisa saja membeberkan hal tersebut pada Papinya.


"Okay, im so glad to hear about that. Come on, it's time to working, girl!" sahut Miss Tisya lalu melenggang pergi dari hadapan Maharani.


Okay, im so glad to hear about that. Come on, it's time to working, girl! - Baiklah, aku sangat senang mendengarnya, ayo, sekarang waktunya untuk berkerja, gadis!


Bisa girl atau gurl - panggilan kesayangan seperti bahasa Jawa - Le (panggilan kesayang anak cowok)

__ADS_1


__ADS_2