Kepentok Cinta Petani Tampan

Kepentok Cinta Petani Tampan
Kamu Punya Apa


__ADS_3

Hari ini, tak seperti biasanya, Sadewa bangun lebih awal Padahal matahari belum juga keluar dari tempat persembunyian. Dengan wajah berseri-seri, Sadewa bergegas keluar dari kamar hendak berolahraga pagi.


"Astaga, Le, ngagetin Ibu aja kamu tuh!" Ajeng tersentak saat tangan besar dan kokoh memeluknya dari belakang. Secepat kilat Ajeng memutar badan, melihat Sadewa berdiri di hadapannya.


"Hehe, habisnya Ibu serius amat, ini kan masih pagi Bu, biarin Dewi aja yang masak," ucap Sadewa sambil duduk di kursi.


Ajeng menarik napas pelan. "Kan biasanya Ibu bangun jam segini, kamu tuh yang aneh, tumben udah bangun dan pakai baju training, mana mukanya kayak baru dapat uang banyak lagi tuh," kelakarnya sambil memotong-motong kangkung.


"Hehe, mau joging Bu, iya dong, aku harus selalu cakep dan keren di depan Rani, Bu."


"Hm, mulai deh bucinnya." Ajeng mencebikkan bibir sejenak.


"Biarin lagian kan dia mau aku jadiin istri, oh ya Bu, aku mau ngelamar Rani boleh nggak Bu?"


Gerakan tangan Ajeng seketika terhenti saat mendengar pertanyaan Sadewa barusan. Menoleh ke samping, ia berkata," Le, Ibu mah ikut apa kata kamu aja, kalau mau ngelamar Rani, ya monggo, tapi kamu harus dapat restu dari Bapaknya dulu, Ibu nggak mau kamu sampai babak belur kayak kemarin, kasihan kamu, hubungan tanpa restu dari orangtua itu nggak ridho, Le."


"Terima kasih Bu. Iya benar kata Ibu. Ibu tenang aja, hari ini Dewa akan berjuang untuk dapatin restu dari Bapaknya Rani, Ibu doain Dewa ya, semoga berhasil, nah sekarang Dewa mau olahraga ajak Supri sama Bejo, biar bisa kuat hadapin Bapaknya Rani, takut digebukin lagi," ucap Sadewa sambil cecenggesan.


Kepala Ajeng geleng-geleng pelan sambil melengkungkan senyuman. "Iya, doa Ibu selalu menyertaimu, Le. Lah Supri sama Bejo kan belum bangun Le."


"Ah gampang itu, aku bangunin ntar, enak aja mereka tidur-tidur, udah pagi nih." Sadewa bangkit berdiri seketika "Dewa mau ke kamar duo semprul dulu, Bu" ucapnya kemudian.


"Iya, iya, sekalian nanti singgah bentar ke warung depan, beli terasi secukupnya, Ibu mau masak kangkung nih, lupa beli kemarin, kurang afdol kalau nggak pakai terasi."


"Iya, gampang itu, dah Dewa pergi dulu," ucap Sadewa sambil mengecup singkat pipi Ajeng.


Selang beberapa menit, Sadewa, Supri dan Bejo sudah di luar rumah. Ketiganya hendak joging di komplek rumah saja.


"Wah, rumahmu bagus ya Dewa sama kayak rumah Rani. Aku sampai takjub loh, nggak nyangka hehe," sahut Bejo sambil melakukan pemanasan sebelum berlari. Pasalnya rumah Sadewa sangat luas dan tak kalah megahnya dari rumah Maharani. Namun yang berbeda, rumah Sadewa lebih banyak dihiasi bunga-bunga di depan pekarangan rumah dan tampak begitu asri ciri khas rumah Indonesia. Sementara rumah Maharani bergaya Eropa modern.


"Bukan rumahku, ini rumah Ibuku Jo," balas Sadewa.

__ADS_1


"Sama aja lah, Dewa. Kira-kira kalau Mama tiri Rani kalau tahu gimana tuh, pasti mencak-mencak." Supri menimpali.


"Udah nggak usah bahas wanita itu lagi, fokus kita hari ini adalah luluhin hati bapak Rani, maka dari itu pagi ini kita olahraga dengan semangat, biar bisa ngelawan tuh para bodguard bapaknya," ucap Sadewa dengan mimik muka serius.


"Setuju, kita bakalan temanin kamu, Dewa. Tapi ini nggak gratis," ucap Bejo sambil melirik penuh arti Supri.


"Hm, iya, iya gampang itu, udah yuk lari." Sadewa memutar mata malas lalu mulai menggerakkan kakinya.


*


*


*


Kediaman Samsul.


Waktu menunjukkan pukul 7 pagi, Maharani dan Bude Sri sudah terbangun dari mimpinya sejak tadi. Dan keduanya sekarang berada di dapur sedang membuat sarapan. Selesai memasak dan meletakkan makanan di atas meja, mereka pun bergabung bersama Mirna, Tomi, Rara dan juga anaknya Rara di ruang makan.


Rara mengedikkan bahu, menandakan ia tidak tahu, lalu memilih menyuapi anaknya yang duduk di samping Tomi sedari tadi.


Maharani keheranan lantas mengalihkan pandangan ke arah Bude Sri. Melemparkan penuh tanda tanya. Bude Sri pun tak tahu ada di mana.


"Hmmm." Dehaman rendah dari belakang mengagetkan Maharani seketika.


Maharani, Bude Sri dan kumpulan orang di ruangan menoleh ke sumber suara.


Maharani mendongakkan wajahnya ke atas. "Akhirnya, ayo duduk Pi, Rani hari ini masak–eh, Papi kenapa?!" Maharani begitu terkejut kala Samsul memeluknya tiba-tiba.


Secara perlahan Maharani bangkit berdiri dan membalas pelukan Papinya. Sebuah pelukan yang ia rindukan selama ini. Hati Maharani menghangat seketika saat tangan kokoh itu mengelus-elus punggung belakangnya. Dengan mata terpejam Maharani mengendus-endus aroma parfum maskulin dari tubuh Papinya. Maharani ingat kalau parfum yang digunakan Papinya sekarang adalah parfum ketika Maminya masih hidup. Setelah sekian lama, akhirnya Papinya menggunakan lagi parfum tersebut.


"Papi minta maaf sama kamu, Nak, karena sudah buat kamu sedih selama ini," ucap Samsul sambil melepas pelukan.

__ADS_1


Maharani mengulas senyum lebar. Nampaknya Papinya sudah berubah. "Iya Pi, Rani juga minta maaf Pi karena selalu ngelawan Papi."


"Iya nggak apa-apa' kita sarapan dulu sekarang, nanti kita cerita-cerita di gazebo mumpung ada Bude kamu di sini." Samsul melirik Bude Sri sekilas.


"Iya Pi." Maharani menjatuhkan bokong di kursi lagi.


Samsul pun melangkah cepat, mendekati kursi di bagian tengah dan mengabaikan panggilan Mirna di sampingnya barusan.


"Mas, kamu tidur di mana semalam?" tanya Mirna sambil menyentuh lengan Samsul.


Secepat kilat Samsul mengibaskan tangan Mirna. "Kita mau sarapan Mirna, jangan membahas hal yang tidak penting."


Suara Samsul terdengar dingin dan tajam. Membuat Mirna resah. Sedangkan Maharani bertanya-tanya di dalam benaknya, ada apa dengan sikap Papinya hari ini.


Tepat pukul dua siang, saat bersantai di dalam kamar, Maharani begitu terkejut ketika mendapat pesan dari Dono barusan. Bahwa di bawah ada Sadewa dan kawan-kawannya datang ke rumah. Maharani agak panik, mengapa Sadewa tak memberitahunya terlebih dahulu tadi, padahal satu jam yang lalu, Sadewa mengatakan mau mengajak Supri dan Bejo ke mall. Secepat kilat ia melangkahkan kaki menuju lantai bawah.


Maharani langsung bersembunyi di balik gorden saat melihat Sadewa duduk di hadapan Samsul sekarang. Sekarang dia amat penasaran apa yang ingin dilakukan Sadewa. Dari balik gorden dia dapat melihat ketegangan di wajah Sadewa. Pria itu menelan ludahnya berkali-kali lalu menarik dan menghembuskan napas dengan pelan.


"Ada perlu apa kamu datang kemari?" Suara Samsul terdengar dingin.


"Hm, sebelumnya saya minta maaf Pak, karena semalam membuat keributan di rumah Bapak, lalu..." Sadewa mengusap-usap tangannya sejenak. Menetralisir rasa gugup yang menjalar di seluruh tubuhnya sekarang.


Kedua alis Samsul saling bertautan sambil memandangi pria di hadapannya. "Lalu apa?"


Sadewa menatap langsung bola mata Samsul. "Begini Pak, saya mau mempersunting Maharani sebagai istri saya? Apakah boleh Pak?" tanyanya dengan hati-hati.


Tak ada sahutan, Samsul menatap lurus ke depan tanpa mengedipkan mata.


Sementara itu, mata Maharani berkedip cepat. Tak menyangka Sadewa akan melamarnya.


"Apa yang kamu punya untuk anakku? Kamu tahu nggak, Rani anaknya manja, Rani tidurnya ngorok, apa kamu tahu juga kalau Rani nggak bisa masak, Rani nggak cocok jadi ibu rumah tangga," cecar Samsul beruntun.

__ADS_1


__ADS_2