
Sadewa dan Maharani melebarkan matanya ketika Supri tak sengaja menyenggol vas bunga yang berada di atas meja.
Tanpa banyak kata mereka berlarian menuju tangga. Namun, langkah kaki mereka terhenti saat melihat Samsul di hadapan mereka.
"Rani! Mau kemana kamu ha?!" teriak Samsul sambil mengeluarkan pistol dari piyama tidurnya dan mengarahkan benda tersebut pada Sadewa.
Maharani begitu ketakutan. Secepat kilat ia berdiri di hadapan Sadewa sambil merentangkan kedua tangannya.
"Jangan Pi!" seru Maharani panik.
"Ckck! Minggir kamu! Papi mau kasi pria ini pelajaran, berani-beraninya dia masuk ke rumahku ini!" Dengan napas yang memburu, Samsul menatap tajam Sadewa. "Minggir Rani atau mau Papi tembak kamu juga ha!"
Sadewa menggeram rendah lalu menarik tangan Maharani untuk berlindung di belakang tubuhnya. "Ayo cepat tembaklah aku, maka kamu akan menjadi seorang pembunuh! Ayah macam apa kamu, mau membunuh anaknya sendiri!" serunya tanpa takut sedikitpun.
Sadewa tak habis pikir dengan jalan pikiran Samsul. Secara terang-terangan ingin menembak putri kandungnya sendiri. Walaupun cuma mengertak atau mengancam, menurutnya itu terlalu berlebihan.
Dor!
Sadewa dan Maharani menutup kedua telinganya saat Samsul mengarahkan pistol ke atas hingga menimbulkan kegaduhan di tengah malam itu. Mirna, Rara dan Tomi pun sontal terbangun dari tidurnya lalu berlarian menuju sumber suara.
"Ada apa ini Mas?!" seru Mirna seketika. Dia pun langsung menatap dua sosok tak asing di hadapannya, Sadewa dan Supri. "Cih! Dasar benalu! Masih berani kalian ke sini, nggak punya muka kalian! Dasar pria miskin!" serunya.
"Diam kamu!" bentak Maharani. Telinganya sangat panas ketika mendengar Sadewa dihina dan dicerca oleh Mirna barusan.
"Rani! Berani kamu membantah Mamamu ha!" Rahang Samsul semakin mengeras. Pria bertubuh tinggi itu masih menodongkan senjata berlaras pendek ke arah Sadewa.
"Apa! Tentu saja aku berani! Enak saja dia menghina Dewa, walaupun di mata kalian, Dewa tidak punya apa-apa, tapi dia masih memiliki hati nurani! Tidak seperti kalian!" Kini Maharani tak peduli lagi, apa yang akan dilakukan Samsul terhadap padanya.
"Kamu!"
Dor!
Prang!
"Dewa!" teriak Maharani kala mendengar bunyi tembakan kembali melengking nyaring di telinganya.
Samsul menarik pelatuk lagi namun bidikan tersebut diarahkan ke vas bunga.
Secepat kilat Maharani memeriksa keadaan Sadewa. Bernapas lega karena Sadewa baik-baik saja. "Kamu nggak apa-apa kan?"
Sadewa mengulas senyum. "Nggak apa-apa."
__ADS_1
Dari samping para bodyguard mulai sadarkan diri. Dengan susah payah mereka bangkit berdiri. Lalu melangkah cepat, mendekati Sadewa dan Maharani.
"Jangan! Hentikan!" seru Maharani sambil melindungi Sadewa.
Sadewa bersikap waspada seketika saat melihat salah seorang bodyguard sepertinya ketua di antara mereka, tengah melirik Samsul sekilas. Dalam hitungan detik, para bodyguard tersebut melayangkan pukulan di wajah Sadewa.
"Dewa!" Maharani menjerit histeris ketika Sadewa terpental ke belakang. Wanita itu hendak menggapai tubuh Sadewa. Namun, Samsul menarik kedua tangan Maharani dari belakang.
"Lepaskan aku!" Maharani berusaha memberontak dari jeratan Papinya sekarang. Wajahnya nampak panik saat melihat Sadewa dan Supri mulai melawan balik empat bodyguard tersebut. Akhirnya perkelahian pun terjadi di lantai dua.
"Papi! Jahat! Lepaskan mereka! Hei kalian, hentikan!" Maharani mengigit tangan Samsul seketika. Akan tetapi, Samsul tak bereaksi sama sekali. Pria itu seakan kebal dengan gigitan Maharani.
Bugh! Bugh! Bugh!
Suara pukulan menggema di ruangan. Sadewa dan Supri masih bertarung bersama para bodyguard.
Selang beberapa menit, Sadewa dan Supri kalah telak. Mereka di seret ke lantai bawah dan diikat tangannya ke belakang oleh para bodyguard.
Maharani duduk di lantai sambil menitihkan air matanya, melihat wajah Sadewa lebam-lebam. Sedari tadi dia tak berkutik sebab tangannya di ikat juga oleh Samsul.
"Papi benar-benar jahat, lepaskan mereka Pi, mereka nggak salah, Rani yang salah," ucap Maharani sambil menangis tersedu-sedu.
Samsul enggan menyahut. Dia tengah asik menghirup sepuntung rokok sedari tadi sembari memperhatikan Sadewa dan Supri yang sudah babak belur.
"Bang Samsul! Hentikan! Lepaskan Dewa dan Supri sekarang!" teriak seseorang.
Samsul tersentak ketika mendengar suara yang tak asing. Dia menoleh cepat. "Sri." Pria itu bangkit berdiri dan membuang rokok ke sembarang arah kemudian melangkah cepat' menghampiri Bude Sri.
"Sri, kamu di sini?" Samsul senang akhirnya setelah sekian lamanya Sri mau bertandang ke rumahnya.
"Iya, lepaskan mereka Bang," ucap Bude Sri sambil melirik Bejo yang baru saja tiba. "Jo, lepaskan mereka sekarang!"titahnya seketika.
Sadewa dan Supri saling melemparkan pandang sejenak, mengulas senyum tipis. Berharap kedatangan Bude Sri kemari dapat mengubah keputusan Samsul. Beberapa yang jam lalu, keduanya sudah menyiapkan rencana cadangan jika sewaktu-waktu rencana utama gagal. Mereka berkerjasama dengan Bejo di kampung untuk pergi bersama Bude Sri ke Jakarta. Tadi, sebelum masuk ke rumah Sadewa menelepon Bejo dan menaruh ponselnya di saku. Begitu mendengar suara tembakan dan perkelahian dari ponsel, Bejo dan Bude Sri langsung ke rumah Samsul.
"Jangan, mereka harus diberi pelajaran karena mau membawa kabur anakku, Sri," sela Samsul cepat sambil memberi kode pada para bodyguard untuk berjaga di dekat Sadewa dan Supri.
"Iya benar itu, Sri. Ngapain kamu bela mereka!" seru Mirna.
Bude Sri melirik sinis Mirna sekilas lalu beralih menatap Samsul. "Ayo, ikut aku kita harus bicara empat mata Bang," ucapnya sambil menarik tangan Samsul menjauhi mereka.
Sesampainya di ruangan lain. Bude Sri menghempas tangan Samsul seketika.
__ADS_1
"Ada apa, Sri?" tanya Samsul penasaran dan heran dengan sikap adik kandungnya itu.
"Aku benar-benar kecewa sama kamu, Bang. Begini rupanya kamu memperlakukan Rani. Dari dulu sampai sekarang kamu selalu mengatur hidupnya, biarkan lah dia menentukan hidupnya sendiri, Bang, bagaimana kalau Santi sampai tahu anaknya diperlakuan tidak adil oleh bapak kandungnya sendiri, semenjak kamu menikah sama Mirna, sikap kamu berubah drastis, Bang!" sahut Bude Sri penuh penekanan.
Samsul tertegun seketika. Mendengar nama Santi disebut, ada rasa sesak dan rindu di relung hatinya.
"Lepaskan Dewa dan kawannya dan biarkanlah Rani menentukan kehidupannya sendiri Bang, kamu sudah diracuni wanita ular itu," sahut Bude Sri lagi.
"Cukup Sri! Jangan membawa nama Mirna lagi," sergah Samsul.
Bude Sri menyeringai tipis. "Cih! Abang masih saja membelanya," ucapnya sambil mengambil ponsel di jaket lalu menghadapkan layar ke arah Samsul. "Lihat video ini, buka lebar-lebar matamu, Bang, apa kamu masih membela istri keduamu itu setelah melihat video ini?"
Dahi Samsul berkerut samar. Tanpa banyak kata dia menekan play di layar dan melihat dengan seksama rekaman berdurasi lima menit tersebut. Mata Samsul melebar seketika.
*
*
*
"Mas!" Mirna melangkah cepat, mendekati Samsul saat melihat mereka keluar dari ruangan. Dia merangkul tangan Samsul seketika sambil mengikuti langkah kaki suaminya.
"Lepas!" Samsul mengibaskan tangan Mirna seketika.
Mirna terkejut saat melihat sorot mata Samsul menahan amarah. Dia melirik Bude Sri, menebak ada sesuatu yang terjadi tadi.
Bude Sri tersenyum sinis.
"Lepaskan mereka semua!" teriak Samsul kemudian.
Sadewa, Supri, dan Maharani tersenyum lebar. Sepertinya Bude Sri berhasil membujuk Samsul. Para bodyguard bergegas melepaskan ikatan di tangan mereka.
"Mas, kamu kenapa?" Mirna mendekat, lalu meraih lagi tangan Samsul.
Samsul mendengus kesal lalu menyentak kasar tangan Mirna. Melototkan mata dan berkata," "Jangan pegang tanganku, Mirna!" Setelah itu Samsul melenggang pergi dari ruangan, meninggalkan semua orang melemparkan pandangan tanda tanya besar.
Mirna berdecak kesal lalu menatap Bude Sri. "Ngomong apa kamu sama Samsul ha?!"
Bude Sri menyeringai tipis. Mengedikkan bahu sedikit."Entahlah, tanya saja sendiri," ucapnya lalu berjalan cepat mendekati Sadewa, Maharani, Supri dan Bejo.
Mirna menggeram kuat sambil menatap tajam punggung Bude Sri.
__ADS_1