Kepentok Cinta Petani Tampan

Kepentok Cinta Petani Tampan
Ngidam


__ADS_3

Seminggu kemudian, setelah mendapatkan kabar bahwa Maharani hamil. Keluarga kedua belah pihak sangat berbahagia, karena tak menunggu waktu yang lama, pengantin baru itu diberikan kepercayaan langsung oleh semesta. Hari ini kediaman Samsul diributkan dengan permintaan Maharani yang cukup aneh akhir-akhir ini, mungkin karena tengah berbadan dua, Maharani mengidam.


"Jangan dekat-dekat aku!" Maharani menjauhi Sadewa seketika. Dia berlarian menuju lantai dasar, dimana Samsul, Bude Sri dan Ajeng sedang bersantai' menikmati tayangan televisi.


Sudah tiga hari Ajeng menginap di rumah besannya.


"Rani! Pelan-pelan Nak!" Samsul bangkit berdiri, sedikit was-was dengan tingkah Maharani yang berlarian, menghampiri mereka.


Maharani tak menuruti perkataan Papinya. Malah semakin mempercepat langkah kakinya kala Sadewa hampir menangkapnya.


"Jangan dekat-dekat aku, Dewa! Badanmu bau, aku nggak suka!" Dengan napas terengah-engah Maharani menghentikan gerakan kaki lalu berlindung di belakang tubuh Samsul.


Samsul, Bude Sri dan Ajeng geleng-geleng kepala sejenak.


"Ha?" Sadewa sampai melonggo ketika Maharani mengatakan dirinya bau padahal setengah jam yang lalu ia sudah mandi. "Bau apanya Sayang, badanku wangi begini"


"Pokoknya bau, jangan dekat-dekat!" Maharani berkata sambil menutup hidungnya sendiri.


"Tapi–" Sadewa hendak menarik tangan Maharani.


"Dewa, duduklah Nak, agak menjauh dari Rani, sepertinya Rani mengidam tak mau berdekatan denganmu," sahut Ajeng seketika, mengetahui akar permasalahan antara putra dan menantunya itu.


"Apa?! Ngidam? Nggak mau dekatan sama aku? Ada-ada saja ah, ngawur!" Sadewa tak terima, istrinya mengidam tak mau berdekatan dengannya.


"Nggak ngawur loh, Dewa. Untuk saat ini kamu turuti saja permintaan istrimu." Bude Sri melirik Maharani yang di suruh Samsul untuk duduk di sampingnya.


Saat ini Sadewa tak mampu berkata-kata lagi. Bagaimana bisa ia berjauhan dengan Maharani. Istrinya pergi ke dapur saja, selalu ia ikuti tapi sekarang gara-gara ngidam katanya, Maharani tak mau berdekatan dengannya karena badannya bau. Benar-benar aneh menurutnya.


"Benar kata Ibu sama Bude, ikuti saja permintaan Rani, Dewa. Dulu Papi juga gitu pas Mami Rani hamilin Rani, untuk saat ini jangan dekat-dekat Rani, jaga jarak." Samsul menimpali berusaha memberi pengertian menantunya itu. Dia seakan dejavu, mengingat dirinya dulu pernah di usir oleh Santi.


Sadewa tak banyak lagi berkomentar. Dengan muka tertekuk ia duduk di samping Ajeng sambil memperhatikan Maharani dari kejauhan, sedang mengibas-ibas tangannya di leher karena cuaca hari ini sangatlah panas, ingin sekali rasanya Sadewa menghampiri istrinya lalu mengipas-ipas tubuhnya. Namun, saat ini nyatanya itu hanyalah angan-angannya saja.


Menjelang malam, lagi dan lagi perdebatan pun terjadi di antara Maharani dan Sadewa sebelum tidur.

__ADS_1


Dengan jarak empat meter Sadewa dan Maharani saling menyahut.


"Dewa, aku mohon malam ini kamu tidur di luar atau di kamar lain ya." Maharani mengatupkan kedua tangan di dada, memohon kepada Sadewa agar mau menuruti perkataannya. Ia pun bingung sendiri, mengapa tak mau berdekatan dengan suaminya sendiri.


"Nggak! Aku nggak mau, Rani, aku ini suamimu, bisa-bisanya kamu nyuruh aku tidur di luar." Sadewa tak habis pikir dengan permintaan Maharani sekarang. Kalaupun Maharani tak mau berdekatannya, dia berencana akan tidur di sofa di dekat ranjang mereka.


"Please! Apa kamu tidak kasihan dengan anakmu ini?" Maharani menunjukkan mimik muka sedih.


Melihat tatapan istrinya, akhirnya Sadewa menganggukkan kepala dengan raut wajah murung.


"Yes! Terima kasih Sayang, i love you," ucap Maharani sambil menggerakkan gagang pintu.


"I love you too, bantal ku mana?" Sadewa membalas dengan lesu.


"Sayang, nggak mau tidur di kamar lain?" tanya Maharani keheranan.


"Nggak, aku mau tidur di situ aja," jawab Sadewa sambil menunjuk ke sisi kanan terdapat sofa panjang di dekat kamar Maharani.


Selang beberapa menit, setelah Maharani masuk ke kamar. Sadewa berjalan dengan gontai menuju sofa. Setidaknya dia bisa memantau Maharani sekarang walaupun tak satu kamar. Dia sangat tersiksa karena dari pagi hingga malam ini tak bisa menyentuh ataupun memegang tangan sang istri.


"Semoga saja besok ngidam Rani udah hilang," gumam Sadewa sambil merebahkan diri di sofa. Dia menatap langit-langit di atas sejenak, merapalkan doa di dalam benaknya, berharap Maharani tak meminta yang aneh-aneh lagi padanya.


Selang beberapa menit, rasa kantuk mulai menyerangnya, kedua mata Sadewa mulai menutup perlahan hendak memasuki ruang mimpi.


***


Waktu menunjukan pukul dua belas malam, para penghuni rumah sudah terlelap di kamarnya masing-masing. Tak terkecuali Rara, saat ini wanita itu berjalan perlahan mendekati Sadewa yang tengah tertidur pulas di atas sofa. Entah apa yang wanita itu lakukan di tengah malam buta.


"Tomi saja bisa aku perdaya, pasti Dewa juga bisa jatuh ke dalam tanganku, Dewa sangatlah tampan, mengapa dia malah menikahi Rani, seandainya saja aku bisa bertukar suami."


Rara berbicara sendiri sambil memperhatikan dengan seksama wajah Sadewa. Sejak pertama kali melihat Sadewa, Rara sudah menaruh hati pada pria itu. Mungkin karena ketampanan dan kegigihan Sadewa untuk mendapatkan Maharani membuat Rara kagum. Apalagi kemarin dia tak sengaja mendengar perbincangan Samsul, Sadewa dan Anto tentang ahli waris sehingga Rara mulai merencanakan niatnya untuk memisahkan Maharani dan Sadewa.


Dan secara kebetulan malam ini, Sadewa tidur di luar, jadi Rara akan melancarkan misinya. Dengan perlahan Rara duduk di dekat sofa sambil mengelus perut Sadewa.

__ADS_1


Sadewa mengerutkan dahi kala merasa perutnya di sentuh. Secepat kilat ia membuka mata dan melebarkan matanya kala Rara menatap penuh nafsu ke arahnya sekarang.


"Rara! Ngapain kamu di sini!" seru Sadewa sambil mengibas tangan Rara lalu bangkit berdiri.


Rara beranjak dari tempat duduknya seketika. "Tentu saja nemenin kamu, Dewa. Kasihan kamu di suruh Rani tidur di luar," ucapnya sambil menjilati bibirnya sendiri.


Sadewa menatap tajam.


"Tidur sama aku aja yuk Dewa, mumpung Tomi nggak ada, dia masih di luar kota, handle kerjaan dia," Rara berkata dengan suara manja. Berharap Sadewa dapat jatuh ke pelukannya.


"Cih! Jadi begini rupanya kamu menggoda Tomi dulu!" Akan tetapi respon Sadewa tak sesuai ekspetasi Rara. Pria itu menatap jijik ke arahnya.


"Apa maksudmu?" tanya Rara mulai tersulut emosi.


"Entahlah, sudah lah jangan menggodaku, kamu pikir aku sama dengan Tomi, ck!" Sadewa berdecak sejenak. "Tidak, aku sangat berbeda dengan Tomi, lebih baik kamu pergi dari sini sekarang!" serunya tajam.


Kedua tangan Rara nampak terkepal kuat. Dia marah sepertinya rencananya tidak berhasil. Namun, ia tak akan menyerah. Tanpa banyak kata ia meraih tangan Sadewa. Akan tetapi, Sadewa menyentak kasar tangannya dan membalikan badan seketika hendak ke kamar Maharani.


"Dewa, ayolah, temani aku di kamar, aku yakin kamu pasti kedinginan," ucap Rara sambil menarik baju Sadewa dari belakang.


Sadewa terkejut. Dia berusaha mendorong tubuh Rara, namun, apa yang terjadi sesuai perkiraannya sebab Rara seperti orang kesetanan, alhasil Rara jatuh di atas tubuh Sadewa.


"Dewa!" teriak Maharani.


Sadewa menoleh ke samping, melihat Maharani melangkah cepat ke arah mereka.


"Ahk, Dewa, bukan begini caranya, kenapa tidak di kamar saja," ucap Rara, tersenyum puas karena rencananya berhasil untuk membuat keretakan di rumah tangga saudara tirinya itu.


Sadewa segera tersadar jika Rara masih di atas tubuh. Secepat kilat ia mendorong kuat Rara hingga wanita itu tersungkur ke lantai.


Bugh!


"Ahk! Rani apa-apaan kamu! Lepaskan rambutku!" Rara terlonjak kaget sebab Maharani malah menjambak rambutnya sekarang. Bukankah seharusnya Maharani marah pada Sadewa, seperti dahulu kala ia dan Tomi dipergokinya.

__ADS_1


__ADS_2