
"Bude, tenang ya, Dewa yakin Rani ada di sekitar sini, sekarang Bude ke tempat Bejo sama Supri, minta tolong warga di kampung juga untuk bantu cari, Dewa mau cari ke sana!" Sadewa menepuk pelan pundak Bude Sri, yang kini tengah terisak pelan.
Dengan cepat, Bude Sri menyeka air matanya lalu menatap sendu Sadewa. "Iya, Dewa, Bude Sri minta tolong cari Rani ya, sebentar lagi mau hujan, Dewa, kasihan Rani, dia takut kalau ada bunyi guntur, Bude mau ke sana dulu," ucapnya dengan suara serak sambil menunjuk ke sisi barat, memperlihatkan Bejo dan Supri serta kawan-kawannya sedang mencari Maharani.
Sadewa mengangguk. "Iya Bude, tenang aja. Doain ya semoga cepat ketemu."
"Iya, Bude duluan ya," sahut Bude Sri kemudian berlalu pergi meninggalkan Sadewa sendirian.
Selepas kepergian Bude Sri, Sadewa mengedarkan pandangan di sekitar sembari mengarahkan senter. Matanya menyipit seketika saat melihat ada jejak-jejak kaki seseorang di sekitarnya. Dia melangkah maju ke depan lagi, melihat hanya ada satu sendal seseorang yang ia kenal, siapalagi kalau bukan sendal Maharani.
Perasaan kalut bercampur takut menyeruak ke relung hati Sadewa tiba-tiba. Dia menarik napas panjang untuk sejenak, kala melihat lagi ada tanda seperti menyeret tubuh seseorang. Sadewa menyakini kalau itu pasti Maharani.
"Gawat, kerjaan siapa sih? Semoga saja Rani nggak kenapa-kenapa," gumamnya pelan tanpa menghentikan gerakan kaki, mengikuti tanda tersebut yang sekarang mengarah ke hutan.
Sadewa mendongakkan wajah sejenak saat mendengar suara guntur berkilat-kilat menyambar di atas sana.
"Si@l! Mana mau hujan lagi!" umpatnya kesal. Tak mau membuang banyak waktu dia pun berlari ke sisi hutan belantara.
Lima menit kemudian, napas Sadewa tersengal-sengal. Dia berhenti sebentar, meraup udara di sekitarnya karena hampir saja kehabisan bernapas.
Sadewa tak tahu seberapa jauh, ia melangkah. Kini ia menebak jikalau dirinya sudah di tengah-tengah hutan. Hal itu dapat ia lihat dari suara air dan bunyi binatang yang bersenandung kuat di gendang di telinganya.
Jedar!!!
Sekali lagi bunyi guntur terdengar, kali ini lebih kuat dari sebelumnya. Sadewa berdecak kesal sebab jejak tubuh orang di seret tak ada lagi.
"Rani!" panggil Sadewa setelahnya berharap Maharani ada di sekitarnya sekarang. Berulang kali pria itu memanggil-manggil nama Maharani.
"Rani! Kamu di mana?" teriak Sadewa dengan sangat nyaring, hingga membuat penghuni hutan sedikit terganggu dengan kehadirannya.
"Argh! Di mana sih!" Sadewa tak menyerah. Dia kembali menyusuri hutan tersebut hingga tak menghiraukan lagi keadaan kakinya yang tergores rumput-rumput tajam di hutan.
"Rani, ini aku Dewa," panggil Sadewa dengan buliran keringat menetes dari keningnya.
Semoga saja Rani nggak kenapa-kenapa.
Monolog Sadewa sambil mengitari di hutan, masih mencari keberadaan Maharani.
Tes, tes, tes, tes.
Dari atas langit air hujan turun deras menerpa tubuh Sadewa seketika. Dia kalang kabut, tak mengira air hujan akan turun akan sangat deras.
__ADS_1
Saat ini tubuh Sadewa basah kuyup. Dalam kegelapan malam, di bantu dengan sinar lampur senter Sadewa menerobos hutan tersebut lebih dalam lagi hingga akhirnya ia sampai di air terjun yang jarang didatangi penduduk setempat.
"Ahk!" Kaki Sadewa terkilir saat hampir saja terpeleset karena batu yang ia pijaki di sela-sela air terjun begitu licin.
"Rani!" panggil Sadewa lagi sambil mengusap cepat wajahnya sebab derasnya hujan menghalangi penglihatannya.
"Si@l!" umpat Sadewa saat senter tiba-tiba meredup. Secepat kilat ia menepuk-nepuk senter lalu benda munggil itu kembali menyala.
Langkah kaki Sadewa terhenti saat melihat sendal lagi milik Maharani. Dia melebarkan mata sebab letak sendal' di dekat jurang. Tanpa pikir panjang Sadewa mendekati tebing jurang tersebut.
Sadewa berhenti tiba-tiba di tepi jurang lalu mengarahkan senter ke bawah sana, hendak mencari Maharani.
Kedua mata Sadewa membola sempurna kala di ujung sana melihat Maharani tergolek tak berdaya di dekat pohon dengan keningnya yang berlumuran darah.
"Rani!" teriak Sadewa. Kemudian melihat keadaan sekitar hendak turun ke bawah sana.
Sadewa merasa lega, melihat ada celah untuk dia jalan ke bawah sana. Selang beberapa menit, berkat tekadnya, pria berlesung pipit itu berhasil turun. Dengan hati-hati ia berjalan ditanah kuning, hendak menghampiri Maharani.
"Rani." Sadewa menyentuh wajah Maharani.
Astaga, dingin banget.
"Rani, bangun," ucap Sadewa harap-harap cemas sambil memeriksa denyut nadi di leher Maharani, yang ternyata masih berdenyut namun, lemah.
Sadewa tertegun sejenak. "Aku nggak akan ninggalin kamu," ucapnya sambil berusaha menggendong Maharani dengan posisi Maharani di belakang tubuhnya.
"Pokoknya jangan tinggalin Rani, Mami..." Dalam keadaan tak sadarkan diri, Maharani berucap pelan. Kini di tengah-tengah guyuran hujan lebat, wanita itu menangis dalam diam.
Hati Sadewa begitu sakit saat mendengar suara isakan tangis Maharani. Dia dapat merasakan tubuh Maharani bergetar pelan sekarang.
Dia menoleh ke belakang sejenak, melihat Maharani bersender di pundaknya, bibir munggil itu terlihat sangat pucat sekarang.
"Rani bertahanlah," ucapnya, walau tahu Maharani tak dapat mendengarnya sekarang.
Hujan semakin bertambah deras. Pria itu mengigil kuat saat sensasi dingin menyelimuti tubuhnya sejenak.
Setelah merasa aman, dengan hati-hati Sadewa kembali naik ke atas. Senter yang ia pegang di sebelah tangan kanannya tak diturunkannya sedari tadi.
Sesampainya di atas, ia merebahkan Maharani di tanah terlebih dahulu, karena kakinya keseleo dan luka goresan yang didapatkan tadi membuat dia kesakitan untuk melangkah.
Dengan napas tersengal-sengal Sadewa terduduk di dekat Mahrani kemudian meraba lagi pipi wanita itu.
__ADS_1
"Rani, i love you." Masih sempat-sempatnya Sadewa mengungkapkan perasaannya pada wanita yang berhasil memporak-porandakan hatinya itu. Tanpa sadar dia menyunggingkan senyum tipis.
"Tapi kamu udah milik oranglain, hmm." Raut wajah Sadewa seketika berubah dalam hitungan detik.
"Rani! Dewa!"
Samar-samar terdengar suara orang-orang di ujung sana. Sadewa pun menoleh ke sumber suara.
"Kok mirip suara Ibu, aduh," ucapnya sambil tertatih-tatih bangkit berdiri.
Tanpa pikir panjang, Sadewa menggendong Maharani lagi namun kali ini pria itu membawa tubuh pujaan hatinya dengan posisi bridal style.
*
*
*
"Ya Allah, Gusti!" teriak Bude Sri, melihat Sadewa menggendong Maharani di ujung sana.
Ajeng menutup mulutnya saat melihat Sadewa dan Maharani menyembul dari balik pohon. Dia dan Bude Sri melangkah cepat' mendekati Sadewa.
"Dewa! Kamu nggak kenapa-kenapa kan Nak?" tanya Ajeng panik.
"Nggak Bu." Sadewa tersenyum tipis sejenak. "Kenapa Ibu keluar? Di luar dingin. Ibu pulang ke rumah ya, Dewa mau antar Rani ke rumah Bude Sri dulu."
"Tapi Dewa–"
"Benar kata Dewa, Jeng. Kamu pulang ke rumah saja, udara malam nggak bagus buat kamu, Jeng." Bude Sri menatap dalam Ajeng lalu mengalihkan pandangan ke arah Maharani, yang wajahnya pucat seperti kapas. Wanita itu tampak gelisah.
Ajeng menatap Sadewa dan Bude Sri secara bergantian. "Baiklah, Ibu ke rumah dulu ya, setelah antar Rani, kamu langsung pulang ya."
"Iya Bu, tenang aja, Dewa langsung pulang nanti."
Ajeng mengangguk cepat.
"Sup, Bejo, antar Ibuku ke rumah, aku mau ke rumah Bude dulu." Sadewa meminta tolong pada Supri dan Bejo, yang sekarang tengah memayungi Bude Sri dan Ajeng.
"Oke bos!" sahut keduanya serempak.
"Rani nggak kenapa-kenapa kan bos?" tanya Bejo tak kalah paniknya.
__ADS_1
"Berdoa aja," sahut Sadewa dengan mimik muka khawatir.