
Hari berganti hari, minggu berganti minggu. Tak terasa sudah tiga bulan lamanya Maharani desa. Dia tak mengira akan begitu betah menetap di desa. Gadis muda itu sangat senang karena tinggal di desa membuatnya nyaman dan tentram. Ditambah lagi kehadiran Sadewa membuat kehidupannya menjadi lebih berwarna sekarang.
Sadewa memperlakukan Maharani bak ratu, tidak seperti mantannya dulu. Bagaimana tidak' jika Mawar menganggu dirinya, Sadewa akan pasang badan melindunginya, sangat jauh berbeda dengan Tomi, yang memilih tak peduli akan urusan Maharani.
Walau kadangkala keduanya sering bercek-cok mulut karena perbedaan pendapat tapi Sadewa mampu meredakan emosi Maharani dan memilih mengalah.
Maharani amat bersyukur memiliki pasangan seperti Sadewa. Dia berharap Sadewa lah yang akan menjadi pelabuhan terakhirnya nanti.
"Nduk bangun," panggil Bude Sri saat melihat Maharani masih tergolek di atas tempat tidur. Sebab semalam Maharani bermain kartu remi bersama Sadewa, Supri dan Bejo di depan rumah Bude Sri dan baru pagi-pagi buta tertidur pulas.
"Hmm, 5 menit lagi Bude." Dengan mata terpejam Maharani bergumam-gumam. Sepertinya rasa kantuknya belum menghilang.
"Owalah, kamu ini, makanya jangan tidur larut malam toh, ayo bangun Nduk, nanti kue mendutnya habis loh!" seru Bude Sri tersenyum jahil.
Mendengar kata kue mendut, Maharani langsung membuka mata lalu duduk di atas tempat tidur, kemudian menatap Bude Sri.
"Benaran Bude? Emangnya bisa habis, bukannya Mbak Akung buatnya banyak ya," ucap Maharani dengan raut muka polos.
Bude Sri terkekeh-kekeh, melihat wajah lucu Maharani. Sejak tinggal di desa, keponakannya itu hampir setiap hari makan kue mendut. Kata Maharani jajanan favoritnya sekarang adalah kue mendut.
__ADS_1
"Iya, ayo kita pergi ke pasar sekarang, ntar habis loh, nanti kamu nggak bisa makannya. Cuci muka dulu gih sana." Bude Sri tengah berbohong agar Maharani mau beranjak dari atas ranjang.
"Waduh!" Maharani grasak-grusuk. Secepat kilat ia keluar dari kamar dan membasuh mukanya di toilet.
Bude Sri menggeleng-gelengkan kepalanya, melihat tingkah Maharani sekarang.
*
*
*
Maharani mengangguk pelan dengan mulut penuh makanan.
Bude Sri tersenyum simpul. Melihat perubahan sikap Maharani yang semakin hari, semakin membaik.
Selang beberapa menit, Maharani dan Bude Sri tiba di rumah. Namun, langkah kaki keduanya tiba-tiba terhenti ketika melihat mobil yang tak asing terparkir di halaman rumah Bude Sri.
"Non Rani!" Dono keluar dari dalam mobil seketika. Melemparkan senyum hangat pada anak majikannya yang ia rindukan selama tiga bulan ini. Dono mendekati Maharani.
__ADS_1
"Dono..." lirih Maharani pelan dengan mengedipkan mata cepat. Entah mengapa kedatangan Dono kemari membuat perasaannya tak menentu sekarang.
"Iya, Non. Ini Dono, baru aja sampai setengah jam lalu." Dono mengalihkan pandangan ke arah Bude Sri. "Apa kabar Bude?" tanyanya sambil menyalim tangan Bude Sri dengan takzim.
"Baik, tumben ke sini nggak bilang dulu, sama siapa ke sini Don?" tanya Bude Sri penasaran sebab tak ada pesan ataupun pemberitahuan kalau Dono akan bertandang ke rumah hari ini.
"Sama Aden Samsul dan Nyonya Mirna," jawab Dono cepat.
Bude Sri melemparkan pandangan ke arah Maharani sejenak. "Terus di mana mereka sekarang?" tanyanya sambil mengedarkan pandangan di dalam mobil dan di sekitar halaman rumah.
"Tadi mereka ke sana Bude, kayaknya jalan-jalan lihat sawah, palingan sebentar lagi kembali ke sini," jawab Dono. "Wah panjang umur, nah itu mereka Bude." Dono menunjuk seketika ke sisi kanan.
Maharani dan Bude Sri menoleh. Melihat Samsul dan Mirna tengah bergandengan tangan menghampiri mereka.
"Samsul, tumben ke sini nggak bilang, aku belum siapin makanan untuk kalian," ucap Bude Sri mengulas senyum.
"Nggak perlu, Sri. Kami ke sini juga nggak lama, mau jemput Maharani pulang ke Jakarta, untuk hadir dipernikahan Rara sama Tomi minggu depan," ucap Samsul kemudian.
"Aku nggak mau, Pi!" Maharani menolak dengan tegas. Bukan cemburu karena mantannya akan menikah tapi karena tak mampu berjauhan dengan pujaan hatinya, Sadewa.
__ADS_1