
Sesampainya di kamar, Maharani langsung melempar tasnya ke tempat tidur dan mengunci pintu kamar rapat-rapat.
"Fiuh, aman!" celetuk Maharani setelah menutup pintu kamar. Dengan langkah riang ia berjalan cepat mendekati ranjang dan melompat ke atas kasur. Lalu mengambil ponselnya di dalam tas.
"Pucuk dicinta ulam pun tiba, hehe, memang kalau jodoh nggak kemana-mana ya," celetuk Maharani sambil mengetik nomor Sadewa di ponsel barunya.
Maharani langsung menghubungi Sadewa.
"Hallo. Siapa ini?" Di ujung sana, Sadewa menyapa terlebih dahulu.
Maharani tak langsung menjawab. Dia senyam-senyum sendiri saat mendengar suara berat yang selalu ia rindukan. Debaran di dadanya semakin bertambah kencang kala mendengar hembusan napas Sadewa yang terdengar amat jelas sekarang.
"Hallo? Siapa nih?" Sadewa keheranan mengapa tak ada jawaban.
"Tutup aja lah, Dewa. Palingan orang iseng telepon kamu," ucap Supri di sebrang sana.
"Dewa, ini aku." Ketika mendengar Supri berbicara, Maharani langsung mengeluarkan suara.
"Rani!" Sadewa terkejut dibuatnya. Sangking senangnya dia langsung mengalihkan panggilan ke videocall ingin melihat wajah pujaan hatinya.
Maharani mengulum senyum lalu mengusap layar ponsel. Wajah tampan Sadewa menjadi pemandangan pertamanya. "Hai, Sayang, aku kangen banget sama kamu, maaf aku nggak ngabarin mau ke Jakarta, soalnya Papi kemarin tiba-tiba jemput aku," ucapnya dengan raut muka menahan tangis.
Sadewa menghela napas pelan. "Iya Bude ada ngasi tahu aku, kamu tahu nggak aku bisa gila kalau nggak dengar suara kamu sehari saja, sekarang aku ada di Jakarta, tadi mampir ke rumah kamu, maaf aku lancang minta alamat rumah kamu sama Bude Sri."
"Aku juga bisa gila kalau nggak dengar suara kamu, Dewa. Nggak apa-apa kan aku pacar kamu." Maharani tersenyum tipis.
"Aduh, terus saja kalian berdua mesra-mesraan di depan aku, udah ah, aku mau ke berenang ke kolam dulu!" seru Supri menimpali keduanya.
Sadewa dan Maharani terkekeh pelan sejenak.
"Berenang gih sana, dasar jomblo!" seru Maharani tanpa menatap lawan bicara.
"Dasar bucin kronis!" Setelah melontarkan balasan, Supri melenggang pergi dari ruangan.
Sadewa geleng-geleng kepala melihat tingkah laku Supri.
"Sayang kamu di hotel?" tanya Maharani sempat keheranan tatkala melihat ruangan Sadewa sangatlah besar dan memiliki interior yang mewah sama seperti rumahnya.
"Hmm, iya." Sadewa tampak salah tingkah.
__ADS_1
"Aduh kasihan banget sayangku ini, pasti mahal bayarnya, tapi hotelnya kok asing ya?" Maharani masih penasaran mengapa interior di ruangan tampak asing. Dia juga menyayangkan Sadewa menghamburkan uang demi dirinya.
"Kamu nggak akan tahu Rani, hotelnya jauh dari rumah kamu, udah jangan di bahas lagi. Sekarang aku mau tanya, kapan kita bisa ketemuan Rani? Aku kangen banget sama kamu, kamu harus jelasin ke aku kata Papi kamu tadi. Kamu mau pergi luar negeri apa benar begitu?" Sadewa mencecar beberapa pertanyaan pada Maharani. Sedari tadi hatinya tak tenang.
Maharani menarik napas panjang. "Iya benar, aku nggak bisa nolak Dewa. Papiku keras kepala. Bagaimana kalau nanti malam, kita ketemuan nanti aku kabari lagi."
Raut wajah Sadewa seketika muram. "Lalu gimana dengan aku? Aku nggak sanggup jauhan dari kamu. Nanti kamu jatuh cinta sama bule-bule di sana."
Pecah tawa Maharani tiba-tiba. "Dewa, kamu pikir aku sanggup? Nggak, aku benar-benar nggak sanggup, hatiku udah terkunci untuk kamu, Dewa. Kamu pemilik hatiku," ucapnya kemudian.
Tak ada tanggapan. Sadewa hanya menatap seksama wajah cantik Maharani di layar ponselnya sejenak.
"Jam berapa kita ketemuannya Rani? Apa nggak bisa sekarang, aku pengen peluk kamu," kata Sadewa kemudian.
"Maaf Dewa nggak bisa, Papi aku sekarang nempatin bodyguard khusus untuk aku, nanti aku kabari kita ketemuan di mana, tunggu aku cari akal dulu untuk kabur, aku juga pengen peluk kamu sekarang," ujar Maharani membuat perasaan Sadewa semakin tak menentu.
"Oke deh," jawab Sadewa pasrah.
Sekitar dua jam, Sadewa dan Maharani saling berteleponan, melepas kerinduan terpendam. Keduanya pun terpaksa mengakhiri obrolan saat mendengar suara Samsul memanggil Maharani dari luar.
"Dewa, nanti aku kabari ya, muach, i love you." Maharani langsung memutus sambungan sebelum mendengar balasan dari Sadewa.
Malam pun tiba, Maharani jalan lalu lalang di dalam kamarnya. Mencoba untuk keluar dari rumahnya. Sejak tadi siang dia berusaha mencari cara agar keluar dari rumah hendak bertemu Sadewa.
Setengah jam pun berlalu, akhirnya Maharani mendapatkan ide yang bisa membuat dirinya keluar tanpa sepengetahuan Papi dan bodyguardnya. Dan Dono lah tumbalnya. Dia akan menyuruh Dono tidur di kamar seolah-olah dirinya sendiri.
Waktu menunjukan pukul delapan malam, dengan kecerdikannya, Maharani sudah tiba di taman bunga sesuai tempat janji mereka.
"Kemana Dewa ya?" Di bawah penerangan lampu remang-remang, kepala Maharani celingak-celinguk menanti kedatangan Sadewa.
"Rani!" Dari arah samping Sadewa menatap penuh rindu Maharani.
Maharani menoleh ke sumber suara lalu bangkit berdiri. "Dewa!" serunya sambil berlarian mendekati Sadewa.
Maharani memeluk tubuh Sadewa seketika. "Dewa, aku kangen banget sama kamu!" serunya dalam pelukan.
"Aku juga kangen banget sama kamu, Rani." Sadewa mengecup kening Maharani bertubi-tubi. Kemudian ia melonggarkan pelukan. "Kok cewek aku makin cantik ya, bahaya nih entar di ambil sama orang," ucap Sadewa sambil mengapit gemas hidung Maharani.
"Hehe, justru aku yang takut, kamu di ambil sama orang," ucapnya sambil mendongakkan wajah.
__ADS_1
Sadewa melempar senyum hangat lalu mengenggam erat tangan Maharani. "Kita duduk dulu di situ," ucapnya sembari menuntun Maharani berjalan ke bangku taman.
"Rani, aku nggak sanggup kalau kita LDR an nanti, aku takut kamu lupa sama aku di sini," ucap Sadewa sambil menatap dalam ke bola mata Maharani sekarang.
Maharani menatap sendu Sadewa. Dia pun tak sanggup berjauhan. Perasaan yang sama pun dirasakan ia juga kalau Sadewa bisa saja melupakan dirinya.
"Dewa, aku nggak akan bisa lupain kamu, setiap detik, setiap menit, wajahmu selalu dibenakku, apa lebih baik kita kawin lari aja." Rencana jahat melintas cepat di pikiran Maharani seketika.
Sadewa menarik tangan Maharani lalu membawanya ke dalam pelukan lagi.
"Hush! Walaupun aku sayang sama kamu, kita nggak boleh ngelakuin hal yang akan merugikan diri kita dan oranglain, aku nggak mau kamu disakiti Papi kamu gara-gara aku, meskipun berat, ayo kita pegang janji kalau kita akan sama-sama menunggu dan bersabar, kamu tenang aja, aku nggak akan berpindah ke lain hati."
"Tapi Dewa, aku takut, aku takut kamu..." Tanpa permisi cairan bening mengalir dari pelupuk mata Maharani. Dia tak mampu lagi membendung rasa sesak di dalam dadanya.
"Jangan takut, Rani. Ada aku di sini, selama di luar negeri kita harus sering videocall ya, aku juga akan cari duit untuk anak-anak kita," ucap Sadewa lalu menyeka cepat air mata Maharani.
"Dewa, awas aja kamu nggak nepatin janji kamu, aku bakalan tendang Imron kamu nanti!" seru Maharani sambil sesenggukan dan melihat ke bagian paha Sadewa sekilas.
"Imron? Apaan tuh Sayang?" Dewa mengerutkan dahi dengan sangat kuat.
"Tuh!" Maharani tersenyum jahil sambil melihat ke arah paha Sadewa. "Nama burung kamu, Imron, item merona kata si Bejo."
"Semprul! Dasar Bejo, awas saja dia! Punya aku nggak item kok sayang, seharusnya Kurama." Sadewa kesal sendiri jadinya.
"Kurama?" Sekarang Maharani yang heran apa itu Kurama.
"Kuat, keras, tahan dan lama," celetuk Sadewa dengan raut muka serius.
"Hahaha!" Maharani tertawa keras saat melihat ekspresi wajah Sadewa yang lucu menurutnya.
"Bagus, senang kamu ya." Sadewa kembali mendekap tubuh Maharani.
"Hehe, habisnya kamu lucu sih." Maharani menelusupkan wajahnya ke dada bidang Sadewa.
Sadewa tersenyum hangat sambil mengelus pelan punggung Maharani. "Ingat kata-kata aku tadi, pegang janji kita, jangan selingkuh di sana, belajar yang benar, aku juga mau kuliah di sini tapi via online, setelah kita sama-sama sukses kita langsung menikah."
"Iya aku janji, i love you Sayang," ucap Maharani.
"I love you too, Sayang." Sadewa melonggarkan pelukan lalu mengecup pelan bibir ranum Maharani.
__ADS_1
Di taman itu, Maharani dan Sadewa saling berpelukan dan bercumbu mesra. Keduanya hanyut dalam kehangatan malam. Dan berharap semesta dapat menyatukan mereka dalam ikatan sakral nantinya meski harus menjalin hubungan jarak jauh sekarang.