Kepentok Cinta Petani Tampan

Kepentok Cinta Petani Tampan
~ Tunggu Aku


__ADS_3

"Rani sudah siap?" tanya Samsul kepada Maharani.


Saat ini Maharani berada di bandara internasional bersama Samsul dan juga bodyguardnya. Perasaan sedih menyelimuti hatinya seketika kala membayangkan akan pergi dari Jakarta hari ini.


"Sudah," jawab Maharani singkat dan padat. Dia mengedarkan pandangan di sekitar hendak mencari keberadaan Sadewa, yang katanya mau datang ke bandara.


"Oke, Papi sama Bima mau ke cafetaria sebentar, kamu mau ikut nggak, pesawatnya masih lama berangkatnya," ucap Samsul sambil melirik Bima sekilas.


Sedari tadi Bima curi-curi pandang ke arah Maharani. Akan tetapi, Maharani tak peka dan tak menyadari hal itu. Sebab pikiran Maharani melanglang buana entah kemana sekarang.


"Nggak, Rani di sini aja Pi."


Jawaban yang dilontarkan Maharani barusan membuat Samsul menarik napas panjang sebab rencananya untuk mendekatkan Bima dengan Maharani sepertinya susah.


"Oke, Papi nggak lama kok."


"Iya lama-lama juga nggak apa," ucap Maharani sedikit ketus.


Lagi dan lagi Samsul hanya dapat menghela napas kasar.


"Pi," panggil Maharani seketika.

__ADS_1


"Iya."


"Rani mau ke toilet sebentar," kilah Maharani padahal dia ingin bertemu Sadewa. Sebab sekarang ia melihat Sadewa tengah berjalan di ujung sana.


"Oke, jangan lama-lama," ucap Samsul lalu memberi kode pada Bima untuk berjalan menuju cafetaria di belakang mereka.


"Hm, oke! Bye Pi!" sahut Maharani lalu memutar badan dan mengambil cepat ponselnya hendak mengirim pesan pada Sadewa untuk bertemu di dekat toilet.


*


*


*


"Dewa!"


Sadewa dan Maharani berjalan cepat sambil merentangkan tangan. Kemudian memeluk satu sama lain di lorong toilet yang kebetulan terlihat sepi.


Maharani mendongakkan wajah. Menampilkan raut muka sedih. "Dewa, kawin lari yuk," ucapnya sambil melonggarkan pelukan.


Sadewa tersenyum tipis. Walaupun jauh di lubuk hatinya juga ingin mengajak Maharani kawin lari. Namun, dia tak akan mau melakukan hal tersebut. Sebab Ibunya selalu berpesan untuk tidak boleh egois dalam mengambil keputusan. Yang bisa saja merugikan dirinya dan oranglain.

__ADS_1


"Rani, akupun juga mau seperti itu, tapi kita nggak boleh egois, dengarkan aku, belajarlah yang rajin di sana, bilaperlu kamu harus cepat lulus kuliah, lalu kembalilah ke sini secepatnya," ucap Sadewa sambil menangkup kedua pipi Maharani.


Kedua mata Maharani mulai berkaca-kaca. "Kamu jangan selingkuh ya, jangan duain aku, pokoknya jangan... Awas aja nanti burung kamu aku tendang kalau kamu sampai berani duain aku."


Sadewa terkekeh pelan. "Bukannya kebalik ya, justru kamu tuh yang bahaya di sana, banyak bule-bule ganteng," ucapnya sambil mengapit gemas hidung Maharani.


"Aku serius Dewa..." lirihnya Maharani dengan berderai air mata. Membayangkan akan berhubungan jarak jauh antar benua. Membuat dada Maharani terasa sesak. Rasa cemas dan takut bercampur menjadi satu merasuk ke relung hatinya seketika.


Sadewa terenyuh, melihat Maharani terisak pelan saat ini. Secepat kilat ia membawa Maharani ke dalam pelukan kemudian mengecup pelan kening wanitanya.


"Rani, percaya sama aku. Aku akan jaga cinta kita ini, jangan takut, sejak beberapa bulan yang lalu nama kamu selalu terukir dihati, kita sama-sama jaga hati kita ya." Sadewa berbisik pelan di telinga Maharani.


"Iya..." lirih Maharani sambil melonggarkan pelukan lalu melabuhkan kecupan pelan di bibir Sadewa.


"I love you, Sadewa." Maharani menatap penuh cinta.


"I love you too, Maharaniku." Sadewa mengecup bibir dan kening Maharani sekali lagi kemudian mendekap kembali tubuh Maharani, kali ini lebih erat dan lebih lama.


Berat sekali rasanya bagi Sadewa melepas kepergian Maharani. Sebab wanita itu adalah cinta pertama dan sekaligus pacar pertamanya. Namun, demi pendidikan yang akan di tempuh Maharani. Sadewa berusaha mengalah dan tidak egois terhadap keputusan Papinya Maharani.


"Aku menunggumu Rani," ucap Sadewa sambil menghirup aroma tubuh Maharani yang mungkin akan selalu ia rindukan nantinya.

__ADS_1


"Iya, tunggu aku ya," Dalam dekapan Sadewa, Maharani berkata pelan.


__ADS_2