
"Nggak akan! Kurang ajar kamu goda-goda suami aku! Dasar wanita murahan!" seru Maharani berapi-api.
Beberapa menit yang lalu, Maharani hendak keluar ingin menyuruh Sadewa tidur di dalam kamat. Entah mengapa saat tidur tadi dia merasakan ada yang kurang. Maharani pun kebingungan dan akhirnya baru menyadari tak ada kehadiran Sadewa di sampingnya. Membuat dirinya kosong dan hampa. Namun, belum juga pintu di buka lebar, ia mendengar samar-samar suara Rara dan Sadewa tengah berbicara satu sama lain.
Maharani tak langsung keluar, ingin menguping apa yang dibicarakan. Dia merasa senang karena Sadewa tak tergoda dengan rayuan Rara. Secepat kilat ia pun keluar dan melebarkan mata ketika melihat pemandangan yang membuat hatinya membara.
"Heh! Suamimu tadi yang menggodaku ha! Seharusnya kamu menyalahkan dia! Bukan aku!" Rara berusaha melepaskan tangan Maharani yang semakin kuat menarik rambutnya sekarang.
"Nggak! Semua itu bohong Sayang, dia yang menggodaku!" Sadewa menyangkal semua tuduhan Rara seketika.
"Haha! Tenanglah, Sayang. Aku percaya denganmu, dan kamu, Rara, kamu pikir aku bodoh! Aku sudah lama berdiri di sana tadi, menguping pembicaraan kalian!" seru Maharani.
Rara kesal sendiri jadinya karena rencananya gagal.
"Sayang, sudah lepaskan dia! Kasihan anakku di dalam sana harus meladeni Rara." Sedari tadi Sadewa berdiri berjarak satu meter di dekat mereka. Dia tak mau sampai badannya yang bau kata Maharani, membuat sang istri marah padanya.
"Nggak! Dia harus diberi pelajaran Dewa! Aku nggak peduli!"
"Sayang! Aku mohon, aku nggak mau, kamu sampai stres." Sadewa berusaha membujuk Maharani sebab sekarang Rara berteriak histeris.
"Ada apa ini?" tanya Samsul. Saat mendengar suara kegaduhan di lantai dua tadi. Dia pun bergegas menuju sumber suara. Melihat Maharani tengah menjambak Rara.
Maharani menoleh tanpa berniat menurunkan tangannya. "Tadi Rara godain Dewa, Pi. Padahal Dewa udah nolak dan berusaha ngejauhi Rara tapi Rara malah mancing-mancing. Rani nggak terima, Pi. Sudah cukup dia merebut apa yang Rani punya, Pi," jelasnya singkat.
Samsul berang. Tanpa banyak kata melangkah cepat mendekati Rara dan melayangkan tamparan di pipi putri tirinya itu dengan sangat kuat.
Plak!!!
"Ahk!" teriak Rara sambil memegangi pipinya yang terasa panas sekarang. Secara bersamaan pula jambakan Maharani pun terlepas.
"Papi...." Rara mendongakkan wajah ke atas sembari menitihkan air matanya seketika.
"Sudah cukup Ra! Sikap kamu sudah kelewatan batas! Padahal aku menampung kamu di sini, supaya kamu dan anakmu itu tidak kesusahan tapi ini balasan kamu! Angkat kaki kamu dari rumahku besok! Aku tak sudi memiliki anak sepertimu!" seru Samsul berapi-api.
"Jangan Pi, ampun Pi...." Rara bersimpuh di hadapan Samsul sambil terisak pelan.
"Cih! Hentikan aktingmu itu!" Samsul berlalu pergi seketika. Meninggalkan Rara yang masih menangis, sementara Maharani dan Sadewa melemparkan pandangan satu sama lain sejenak.
__ADS_1
"Masuk kamu!" ucap Maharani seketika sambil menarik tangan Sadewa masuk ke kamar. Sadewa mengembangkan senyuman sepertinya doanya tadi dikabulkan Allah.
*
*
*
Keesokan harinya. Rara, Tomi dan anaknya di suruh keluar dari rumah dan menetap di apartment yang sudah disiapkan Samsul. Samsul masih berbaik hati memberikan apartment untuk anak tirinya itu dan mengancam Rara untuk tidak mendekati keluarganya lagi. Jika sampai itu terjadi dia akan mengusir mereka dari apartment tersebut. Tomi manut-manut saja. Dia pun sangat menyayangkan tindakan Rara, yang menggoda Sadewa saat ia sibuk berkerja.
Sementara itu, pagi-pagi ini, Sadewa cemberut kala Maharani sudah minta buah mangga yang terdapat di belakang taman dan harus dia yang memanjat pohon tersebut.
"Sayang, kamu tahu sendiri kan aku nggak bisa manjat pohon," ucap Sadewa seketika.
Maharani mendelikkan mata. "Iya aku tahu, anggap saja itu hukuman karena semalam kamu nggak langsung pergi pas Rara goda kamu!" serunya.
Sadewa menghela napas kasar. "Sayang, aku minta maaf, udah ya, hukuman yang lain saja, tapi jangan manjat, kamu nggak kasihan sama aku."
"Nggak! Ayolah Sayang, anakmu ini yang meminta mangga, bukan aku." Maharani menunjuk perutnya yang mulai membuncit.
"Wih kenapa nih? Pagi-pagi udah ribut?" tanya seseorang tiba-tiba dari belakang.
Sadewa mengembangkan senyuman seketika kala mendapatkan akal agar ia tidak perlu memanjat pohon.
"Kita nggak ribut kok, Sup, Jo, kalian sayang nggak sama anakku?" Sadewa mendekat dan merangkul pundak Supri dan Bejo seketika.
Maharani menyipitkan mata, melihat interaksi mereka yang nampak mencurigakan.
Supri dan Bejo tak langsung menyahut. Dahi mereka berkerut samar saat mendapatkan pertanyaan aneh dari Sadewa tiba-tiba.
"Sayang dong, memangnya kenapa?" tanya Supri.
"Hmm, bantu aku manjat pohon mangga yuk Sup, Bejo, hari ini Rani ngidamnya aneh lagi," ucap Sadewa sambil curi-curi pandang ke arah Maharani yang tengah duduk di kursi kayu.
"Ha? Kan kamu tahu kalau aku nggak bisa manjat Dewa?" Supri melemparkan pandangan ke arah Bejo.
"Iya, aku juga kan nggak bisa, ada-ada aja anakmu itu, pagi-pagi udah minta mangga masam," ucap Bejo.
__ADS_1
"Ngomongin apa kalian?"
Belum sempat Sadewa menanggapi perkataan Supri dan Bejo. Di ujung sana Maharani bertanya dengan setengah berteriak.
Sadewa tampak salah tingkah. "Nggak ada Sayang, hehe, cuma ngobrol masalah kerjaan!"
Maharani terdiam sembari memicingkan mata sejenak. "Ya udah kalau gitu, Supri dan Bejo ikut juga manjat, ayo cepatan aku udah ngiler mau makan rujak mangga!" jawabnya dengan meninggikan suara sedikit.
"Apa?!" Supri dan Bejo terperangah seketika.
"Tapi Rani, kami–"
"Nggak ada tapi-tapi, ayolah kalian berdua nggak kasihan dengan anakku ini, sekarang cepat panjat pohon itu!"
Supri berusaha menolak namun Maharani langsung menyela perkataannya. Mau tak mau Supri dan Bejo mengangguk pelan. Sementara Sadewa hanya mampu menarik napas kasar karena rencananya gagal dan sekarang ia pun harus memanjat pohon yang tinggi dan besar itu.
Selang beberapa menit, Sadewa, Supri dan Bejo mendongakkan kepalanya ke atas, melihat beberapa semut hitam memenuhi dahan-dahan pohon yang tinggi menjulang itu.
"Dewa, gimana cara kita naiknya?" tanya Bejo tanpa menatap lawan bicara.
"Nggak tahu Jo, udah yuk naik, kita serahkan semua sama Allah, semoga ada mukjizat Rani berubah pikiran," ucap Dewa.
"Iya benar, istrimu benar-benar aneh, apa semua wanita kalau hamil kayak gitu ya?" ucap Supri.
"Entahlah, udah yuk, kita atur strategi dulu." Sadewa menaikan celana jeans-nya agar mudah untuk menaiki pohon.
Lima menit kemudian, berkat kerjasama dan kepintaran Sadewa. Mereka sudah di tengah-tengah dahan pohon yang sama.
"Nah itu di atas kepalamu, Jo. Ada mangga besar!" seru Maharani dari bawah.
"Ha? Yang mana?" Dengan takut-takut Bejo mendongakkan kepalanya ke atas namun belum juga melihat tiba-tiba angin kencang menerpa pohon tersebut.
Woosh!!
Dan tanpa di duga-duga pohon yang ketiganya pijaki retak. Alhasil Sadewa, Supri dan Bejo terjatuh ke bawah.
Gedebum!
__ADS_1
"Ahk!" teriak ketiganya kesakitan.
"Dewa!" Maharani bangkit berdiri seketika, melihat Sadewa dan kawan-kawannya tengah mengaduh kesakitan.